Pagi itu di tengah kelengangan rumah kami, dengan enggan saya buka plastik pembungkus CD pemberian seorang kerabat di Kabinet. Sambil mulai mendengarkannya, saya memperhatikan lay out sampul CD yang berlatar belakang langit dan gunung serta sesosok pria dengan kemeja biru berbungkus jaket kulit. Wajahnya sangat familiar di benak siapapun rakyat negeri ini, dialah SBY, Presiden kita, nampak sedang memeluk gitar dengan mata memandang ke satu titik seolah sedang merenungkan sebuah cita-cita. Album dedikatif ini diluncurkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tahun silam dengan para pendukung yang nampak pada sampulnya.
Seiring berputarnya cakram CD dari satu lagu ke lagu berikutnya, saya merasakan kesan flamboyan yang kuat dari beliau di lagu pertama, yang ternyata adalah penulis lirik sekaligus pengarang hampir seluruh lagu dalam bundel nyanyian ini. Lirik di setiap lagu mencerminkan setiap detak kecintaannya terhadap bumi pertiwi ini. Lagu kedua yang berjudul sama dengan album dan lagu pertama, dibuat dengan irama yang cocok untuk poco2 ... (biar bu mega tambah kheki :-D). Yang rada membuat jidatku berkerut ketika mendengan lagu keempat (mentari bersinar) kok seperti lagu festival jaman dulu gitu ... Walau demikian, dinamika album terasa melalui aransemen yang dikerjakan secara berbeda oleh beberapa penyanyi dan pemusik dengan warnanya masing-masing. Namun secara agregat tetap tidak menghilangkan kesan mellowtone lagu era 70-80an. Ada satu tembang yang seolah ditujukan kepada kawula muda bangsa ini dan terasa mewarnai kekhasan oldies album ini, dengan judul “Kawan” Kerispatih menghentakkan semangat pendengarnya. Keren banget lagu ini ... ada nuansa sentuhan papua di ornamen 'iye oooo ... iyeyeyeye o ... ". Saya sempat tersenyum membayangkan SBY mengolah lagu ini dengan gitarnya.
Review ini tidak bermaksud untuk mengulas lebih dalam mengenai album dengan sepuluh lagu manis ini, tetapi album yang melibatkan beragam penyanyi dan musisi ini telah membuat kesan baru pada saya tentang beliau. Lebih jauh lagi, … agar tulisan kampungan ini tidak disalahpahami sebagai sebuah jilatan nista, mohon dapat dimaklumi bahwa rangkaian kalimat ini hanya sebuah kesan saja dari saya -seorang ibu rumah tangga penuh waktu yang juga rakyat jelata- tentang sisi lain seorang pemimpin negeri yang ternyata bukan negeri dongeng apalagi republik mimpi.
Selama ini, terus terang saya termasuk sebagai rakyat yang cukup malas untuk menyimak beliau. Walau saya juga termasuk rakyat yang memilih beliau dalam pemilu lalu, tetapi saya mencoblos lembar pemilih dengan penuh keengganan yang mengiringi kekecewaan saya karena kojo-nya sudah tersisih di putaran pertama. Saya lumayan tidak suka dengan gaya mendayu beliau dalam bertutur, penuh dengan simbolisme, dan tidak straightforward. Sehingga nature beliau ini sangat sering membuat saya greget apabila mendengarkan pidato beliau. Berbeda dengan JK, mitra beliau, yang sangat berterus terang dan cepat bertindak, terutama untuk hal-hal yang bersifat exit startegy. Saya dan rombongan pernah berkali-kali tertinggal jauh oleh jalan cepatnya JK saat mengikuti beliau meninjau Aceh sebulan setelah bencana meluluhlantakkan Serambi Makkah itu. Ah … tetapi kan setiap orang memiliki karakteristik masing-masing, yang walau dengan pembawaannya ini menjadi teridentifikasi kekurangan sekaligus kelebihannya, tetap saja merupakan insan manusia yang sempurna justru karena ketidaksempurnaan. Bukankah kesempurnaan hakiki hanya dimiliki Allah saja?
Dan, berbait lirik dalam “Mengarungi Keberkahan Tuhan” yang dilantunkan dengan penuh khidmat oleh Ebiet G. Ade pun dengan perlahan meluruhkan pandangan hati saya atas ‘keburungmerakkan’ SBY. Rasanya, ya rasanya saya mulai 'jatuh cinta’ pada beliau. :-D Ada sisi kemanusiaan yang saya peroleh ... ternyata bukan hanya amerika saja yang pernah punya bill clinton yang hobi main saksopon, tetapi presiden kita pun hobi main gitar dan menulis lagu :-)
Hanya sebuah lagu memang. Tapi sifat terbuka saya menjadi sangat mudah terobati dengan tembang ini yang berlirik tidak hanya kecintaan pada bangsa, tetapi juga syukur kepada Sang Pencipta jagad ini.
Sayapun mulai mencatat beberapa kebijakan penting beliau yang senafas dengan bidang spesialisasi keilmuanku, yaitu saat beliau mencanangkan percepatan kemajuan di bidang pelayaran dan kelautan. Walau implementasinya masih tersendat, namun kesegeraannya menandatangani INPRES No. 5 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran cukup membuat saya terkesan dan lega, karena akhirnya ada juga Presidenku yang melegitimasi komitmennya terhadap industri pelayaran yang selayaknya menjadi ikon negeri ini. Bukankah “nenek moyangku orang pelaut”? Bukankah lebih dari duapertiga layout negeri ini adalah lautan dan perairan?
Kekecewaanku bertahun-tahun lalu terhadap pemerintah yang tidak pernah menaruh hati pada sektor yang seharusnya menjadi primadona bangsa ini, telah membuatku memutar haluan maritime law sebagai core interest keilmuanku bertahun lalu menjadi corporation law dengan spesifikasi good governance sekaligus perluasannya di aspek governance. Minat dan tulisan di bidang baru ini pun akhirnya membuat saya digamit beberapa sesepuh yang concern pada aspek governance untuk bergabung dengan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). Walaupun karena beberapa hal belum intensif, saya pun belajar untuk berkhidmat pada negeri melalui good governance ini, tentunya dengan kompetensi dan kapasitas yang masih saya miliki secara sekadarnya.
Senafas dengan core interest yang baru saya tekuni satu dekade ini, saya mencatat gelora semangat beliau dalam memberangus korupsi yang kadung mendarah daging di segenap negeri ini. Meski belakangan semangat ini terpantau mulai melemah seiring dengan merosotnya animo rakyat terhadap beliau, apalagi stigma ‘tebar pesona’ yang dilontarkan lawan politiknya semakin mempertegas kesan arogan beliau yang senantiasa bermain dengan gesture kedua tangan gagahnya. Sekali lagi, being ‘clear and distinct’ in so many aspect of person will be so highly recommended. Lepas dari berbaris polemik tentang evaluasi kinerja pemberantasan korupsi selama tiga tahun pemerintahan SBY yang secara umum dinilai beberapa pihak tidak memuaskan dan merosot tajam, namun critical notes terhadap kebijakan anti korupsi ini tidak akan meniadakan catatan komitmen yang sudah dicanangkannya bersama Kabinet Indonesia Bersatu.
Semoga di tahun keempat ini, dan terutama dengan album dedikatif ini, 68 janji bertendensi antikorupsi yang pernah SBY ikrarkan segera diwujudkan dengan menggeliatkan kembali semangat barisannya untuk menciptakan nuansa pemerintahan yang transparan, bersih, dan bebas korupsi. Otherwise, nafas heroik yang coba dinyalakan melalui beberapa lagu dalam album ini, akan kosmetis belaka.
TETAP SEMANGAT DAN HIDUP GOOD GOVERNANCE!!! MERDEKA!!!
*Dan kini, saya pun mengulang-dengar album ini, terutama tembang yang disuarakan oleh pelantun “rumput yang bergoyang”*
" ... aku bersyukur ke hadirat Illahi tunjukkankah arah jalan yang terbaik berlayar menuju pantai tujuan
...
hidup takkan pernah sepi tantangan menguji kesabaran kita hidup takkan pernah putus cobaan kita mesti tetap tegar bertahan
hehehe...jadi pemilu ntar pilih beliau lagi mbak ? hehehehe...
kalau dian sering dengar di metro tuh..lagu2 beliau selalu dikumandangkan terkait masalah HKI..[sebetulnya dian nonton karena terkait HKI..heheheh..bukan lagu beliau...]... ya... tipikal lagu2nya broery pesolima gitu ya..hihihi...
apapun itu... next time.. dian mau pilih presiden yang tidak terlalu lama mikirnya deh kalau ngambil satu keputusan..hehehe...
Dian kadang miris aja.. dengan gelar doktor yang beliau punya..kog pertanian kita gak maju2 lagi ya...?
dian khawatir.. jangan2 ntar dian juga sama kayak beliaua ya...
jadi doktor pohon pisang.. .alias hanya bisa menghasilkan buah satu kali seumur hidup... [hanya satu kali menghasilkan disertasi seumur hidup..udah itu gak ngapa2in... jangan2 deh....].... ^_^
Alhamdulillah teh Ratna dah punya CDnya.. Jadi bisa tahu isinya.. Besok pulang saya coba untuk membelinya.. Makasih teh, atas resensinya..
iya ceu, soalnya mau saya upload di sini gak enak ... takut ketangkep tramtib HAKI ... apalagi di jagad ini ada ahlinya ... tuh mbak dian ... apalagi haki-nya yang dipertuan agung bapak presiden hihihi ... beuki sieun :-D
jadi doktor pohon pisang.. .alias hanya bisa menghasilkan buah satu kali seumur hidup... [hanya satu kali menghasilkan disertasi seumur hidup..udah itu gak ngapa2in... jangan2 deh....].... ^_^
makanya nanti itu disertasi segera dikembangkan jadi buku berapa jilid ... terus jadi paper2 untuk masuk ke jurnal terakreditasi (unisba punya lho, nanti bisa dikirim ke mbak) kan lumayan tuh buat urus pangkat & jabatan fungsional :-)
insya Allah mbak juga punya rencana begitu ... buat ke GB ... masih akan ngumpulin sekitar 500kum lagi ... musti ada buku & paper2, kalo untuk publikasi internasional alhamdulillah sudah punya 2 biji, mudah2an masih bisa nambah setelah beres sekolah :-) saling doakan dan nyemangati ya dian ... soale mbak juga gampang melempem nih ,>_<,
Kalo nanti Chemy besar, Chemy mau jadi orang pinter kayak Bu Ratna......
hehehe ... bu ratna mah begini-begini aja gak ada istimewanya Chemy sayang ... mustinya kayak pak SBY ini ... presiden dan seniman juga hehehe *wah dikirain ngefans SBY pula*