Judul: Pelangi di Persia - Menyusuri Eksotisme Iran Genre: Traveling, Culture, Memoirs Penulis: Dina Y. Sulaeman Penerbit: Pustaka IIMaN, Cetakan Pertama, Desember 2007 Tebal: 297 halaman
Setelah sukses dengan “Doktor Cilik, Hafal dan Paham Al Qur’an” yang beraroma Iran dan sudah mengalami cetak ulang ke delapan kalinya hanya dalam hitungan bulan saja, Dina Y. Sulaeman kembali menebarkan ‘pesona’ negeri Persia melalui buku terbarunya yang diberinya judul “Pelangi di Persia – Menyusuri Eksotisme Iran”. Sampul berlatar biru dengan gambar utama salah satu ikon di Teheran yaitu Azadi (Freedom) Monument, dilengkapi dengan beberapa gambar yang menggambarkan beberapa ikon Iran, cukup mencerminkan ‘eksotisme’ sebagaimana jargon yang diusung dalam judulnya.
Menjadi bagian dari negeri tersebut selama kurun waktu 8 tahun, merupakan modal berharga bagi sang penulis untuk menuangkan pengalaman, gagasan, dan wawasannya tentang negeri indah ini. Tidak hanya itu, meskipun buku ini merupakan sebagian dari kenangannya saat melakukan perjalanan keliling Iran, namun studinya tentang perempuan dan kajian kritisnya tentang Timur Tengah, menjadi nilai tambah dan warna tersendiri bagi penulisan buku ini. Hasilnya, buku ini tidak lagi tampil sekedar ‘catatan perjalanan’ melainkan menjadi sebuah buku cantik yang mengenalkan pembaca dengan berbagai knowledge yang diperoleh penulis dari pengalaman-pengalaman menariknya selama tinggal di sana.
Berbagai tradisi masyarakat Iran diperkenalkan dengan gamblang, antara lain: 1) rumah yang selalu bersih tidak hanya didapati pada rumah kaum keluarga kaya, keluarga sederhana pun demikian, kaum perempuannya berdedikasi dalam hal kebersihan rumah. Barangkali, kebersihan seolah menjadi manifestasi konkrit dari keimanan (bukan lagi sebagian dari iman), sebagaimana digambarkan pula betapa tahun baru juga membutuhkan energi ekstra bagi kaum ibu untuk lebih meng’kilat’kan rumah mereka. Bahkan dapurnya saja berkarpet; 2) tahun baru benar-benar menjadi sebuah momen monumental bagi masyarakat Iran untuk membuat segalanya baru: tradisi berkumpul dengan makanan khas yang khusus dibuat untuk momen tersebut digambarkan dibuat dengan cara dan proses yang penuh dedikasi; 3) sufreh haft-sin menjadi sebuah jamuan filosofis penuh simbol untuk tahun baru yang mengandung harapan yang dilambangkan melalui elemen2 yang disajikan; 4) yang cukup menggelikan adalah ketika membaca tentang sikap sopir-sopir di Iran memperlakukan penulis, juga pandangan mereka tentang politik di negerinya, sekaligus tabiat tidak lazim bagi pakem seorang supir yang seharusnya tidak berbicara kecuali diajak bicara oleh penumpang atau majikannya. Penulis berhasil menjelaskan semua aspek tentang sopir taksi ini dengan cara yang menarik; 5) Penulis juga membukakan wawasan kebudayaan masyarakat Iran, khususnya tentang budaya memberi yang menjadi budaya yang mengajarkan ketulusan dalam berhubungan/bersilaturahim dengan siapapun, bahkan ketika budaya ini mewarnai masyarakat Iran yang berasal dari etnis Arab.
Saya kira ada beberapa alasan untuk (membeli) dan membaca Pelangi di Persia – Menyusuri Eksotisme Iran: 1. Pengalaman yang dibagikan oleh Penulis melalui buku ini menjadi sebuah knowledge tersendiri dalam hal wawasan budaya negara lain; 2. Wal hasil, buku ini tidak sekedar sebuah buku tentang catatan perjalanan tetapi juga kenangan indah yang memberikan inspirasi positif bagi pembacanya, tidak hanya bagi penyuka buku dan jalan-jalan, tetapi juga pemerhati budaya; 3. Buku yang dilengkapi dengan foto-foto berkualitas memadai ini dapat menjadi referensi yang bagus untuk mereka yang berencana jalan-jalan ke Timur Tengah, yang mengetengahkan eksotisme sebuah peradaban manusia pada masa lampau sekaligus menyimak modernitas yang terjadi di negeri yang selama ini dikenal militant, isolated dan conservative; 4. Melalui buku ini, pembaca disuguhi ide tentang harmonisasi yang tercermin dari tempat-tempat yang merupakan sejarah dari peradaban mereka (misal Persepolis, Isfahan, Abyaneh, ChoghAzanbil, Cyrus the Great) namun dijaga dengan apik oleh masyarakat setempat yang juga masih menjaga adat dan budaya mereka. Kebijakan pemerintah yang mampu menjaga tradisi agama dan budaya di tengah hantaman kejam globalisasi (melalui Amerika dan Barat). Bukti ini menjadi satu ide harmonisasi antara the great tradition dan little tradition sebagaimana pernah dikemukakan oleh Redfield. Budaya globalisasi yang bertemu secara akur dengan budaya lokal; 5. Penuturan unik, menarik, jujur, dan tanpa beban ini menjadikan buku ini tidak monoton. Berkat dinamika yang terjaga rapi ini pula, kita akan melupakan dan ‘memaafkan’ beberapa eratum penulisan yang masih terjadi di beberapa halaman, termasuk pengejaan dalam bahasa, khususnya secara konsisten terjadi pada kata “travelling” yang seharusnya “traveling”; 6. Harga buku sebesar Rp. 63,000.- menjadi tidak berarti banyak dibandingkan ‘pencerahan’ yang didapat dari buku yang ditulis dengan gaya feature cantik; 7. Secara agregat, buku ini memang menawarkan eksotisme tersendiri yang karenanya membuat heran saya, kenapa tidak ada launch yang appropriate untuk buku berkualitas premium seperti ini? Padahal penulisnya kan sudah berpengalaman dalam menelurkan cetak-ulang yang luar biasa melalui "Doktor Cilik ...".
Selengkapnya ... baca sendiri deh ... ;-)
Buat Dina: two thumbs up untuk karya eksotik ini … keep up the good work ...
Btw, mbak ada satu pertanyaan buat Dina: kenapa mbak gak nemu bahasan tentang monumen yang dipilih menjadi cover buku? Atau ada di halaman yang tidak mbak temukan? Mbak dapat dari internet bangunan itu adalah Azadi “Freedom” Monument yang didirikan pada tahun 1971 dalam rangka memperingati tahun ke-2500 Kekaisaran Persia.
saya rada sulit baca blog anda ini karena tulisannya ketutup gambar dan tulisan photo bucket, susah sekali karena jadi double gitu.
salam sm
Begitu tho ... Pak Sindhi? wah matur nuwun info-nya Pak ... tulisannya memang kecil2 dan saya belum nemu button untuk membesarkannya ... nanti saya coba cek lagi ... be back soon :-)
saya barusan coba cek nengok blog saya pakai "internet explorer" memang tampak mengenaskan sekali blog saya ini ... tapi kalo Pak Sindhi pakai "mozilla firefox" pasti ceria banget blog saya ini :-) anyway, info dari Pak Sindhi menjadi masukan yang harus saya pikirkan agar para petualang di jagad cyber yang tidak menggunakan mozilla firefox dapat terakomodir ...
td saya pake mozilla juga ilang mbak gambarnya, tapi sekarang udah bener
ini barusan saya customized ulang skin theme-nya pake yang standar multiply, kalo sebelumnya pake skin-theme yang banyak di share di grup multiply. lalu saya cek pake mozilla juga pake explorer, nampak compatibel. selama ini sih saya gak pernah punya masalah soal ini ... mungkin karena tidak ada yang info ;-D
Terima kasih rekomendasinya... Nanti saya cari disini... :-)
mungkin kalo di luar jawa, bisa andalkan gramedia. atau mungkin di banjar sudah nemu toko buku seperti bursa buku palasari di bandung? di palasari ini de, surganya book lovers deh ... harganya diskon 25-30% lalu setelah bayar di kasir, bukunya disampul plastik ... nah kapan ke bandung? nanti wisata belanjanya mbak pasti bawa ke palasari ini deh ;-)
heran saya, kenapa tidak ada launch yang appropriate untuk buku berkualitas premium seperti ini? Padahal penulisnya kan sudah berpengalaman dalam menelurkan cetak-ulang yang luar biasa melalui "Doktor Cilik ...".
Setuju! Harusnya IMAN sebagai penerbit membuat launching buku Uni yg menarik ini :-)
Tulisan mbak makin membuat penasaran, nunggu yang mo bawain O,ya....reviewnya kirim ke PR atau Republika aja mba...
alhamdulillah kalo penasaran :-) bagaimana sudah sempat kontak kang fajar?
kalo mau kirim ke media, kayaknya harus ditata lagi dan perensensi juga biasanya juga memberikan wawasan pribadinya untuk bisa mengomentari buku dengan layak. nah itu belum menjadi keahlian mbak :-) tapi mau dicoba :-) terima kasih ya.