Judul : Matahari Odi Bersinar karena Maghfi Penulis : Neno Warisman Penerbit :Syaamil Cipta Media, Cetakan Kedua, Mei, 2006 Penyunting : Febri Sri Lestari Tebal : 187 halaman
Tahun lalu, dalam perjalanan dari kampus ke rumah, saya mendengarkan talkshow di radio Delta yang mendiskusikan buku "Matahari Odi Bersinar karena Maghfi" ini. Penuturan beliau di radio tersebut cukup membuat saya terharu. Rasanya, ada chemistry dalam hal perasaan dan penghayatan yang dilakukan oleh Neno dengan yang sering saya alami. Saya juga pernah membaca sepintas buku lainnya yang berjudul “Izinkan Aku Bertutur”. Ada kedalaman penghayatan.
Saya ingin belajar banyak dari buku itu. Nah … kalau urusan buku … ada sebuah komitmen diantara saya dan suami sebelum kami menikah, bahwa tidak akan ada pengekangan dalam berbelanja buku tiap bulan, karena hal ini memang sudah kami lakukan sejak sebelum menikah. Jadi biarpun kantong sedang cekak saat ingin beli buku mbak Neno ini, saya usahakan banget deh hehe …
Jadilah keesokan harinya saya mencarinya di Gramedia, dan alhamdulillah dapat … tinggal 2 buah … hmm … bagus penjualannya ya … nampaknya best seller …
Dari cover buku yang ceria dan judul yang puitis penuh solidaritas ini, saya bisa menebak yang bakal tampil di dalamnya adalah tokoh-tokoh kecil yang menggemaskan. Beberapa halaman awal yang mendisplay beberapa komentar dari prominent people tentang buku mbak Neno, juga kata pengantar, dan penjelasan tentang buku tersebut. Elemen-elemen awal ini memberi saya gambaran yang semakin baik tentang perenungan yang terus dieksplorasi oleh beliau. Menurut penulisnya, ia bercita-cita menulis buku yang dikemas dalam tiga seri berjudul utama “Opera Rumah Kami”. Trilogi opera ini dibuka dengan serial pertama, “Matahari Odi Bersinar karena Maghfi”. Sebuah “acknowledgement” pun dibuat penulis dengan kerendahan hati pada alinea ketiga hlm xvii. Semoga hal senada juga dapat ditangkap oleh siapapun yang membaca web blog saya ini. Hanya sekedar bercerita, hanya sekedar berbagi, kalau ada yang dapat diambil hikmahnya oleh orang lain, kan berkah dan pahalanya juga insya Allah akan mengalir kepada si penulis.
Guru saya pernah menjelaskan dalam ceramah Ahadnya, “berkah itu adalah manfaat plus”, artinya apabila sesuatu itu tidak hanya memberikan hikmah dan bermanfaat bagi dirinya, tetapi juga orang lain dapat menuai hikmah yang sama atau jauh lebih baik, maka sesuatu itu bernilai “manfaat plus” atau keberkahan itu tadi. Hmm … semoga …
Saya sangat menyadari kekurangan saya sebagai seorang ibu bagi kedua buah hati kami. Oleh karenanya, saya dan suami bermitra untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik bagi mereka. Saya yakin, masih banyak kekecewaan di hati anak-anakku dalam menerima saya sebagai ibunya, namun biarlah kami berproses sebagai ibu dan anak seoptimal yang kami mampu mewujudkannya secara konsisten. Dan, membaca buku mbak Neno ini, menjadi salah satu upaya saya memperbaiki metode mendidik anak-anakku dan menghayati peran keibuan. Buku ini juga mengajarkan bahwa kita pun bisa belajar dari anak. Ya ... memang kebeningan hati anak-anak seringkali menjadi suara Tuhan dalam menegur kita.
Tema inti dari cerita pertama dalam buku ini sudah membuat saya tersudut sebagai seorang ibu … saya cukup tahu tentang “the golden age” pada lima tahun pertama kehidupan seseorang … tapi saat kedua anakku pada usia itu … saya justru tidak ada bersama mereka … saya pergi meninggalkan mereka untuk menempuh studi di negara lain … masa-masa itu adalah penyesalan yang selalu saya sesali hingga saat ini … alhamdulillah Allah menganugerahi saya keterampilan untuk mengolah sesal menjadi hal positif, namun, saya sadari pula walau upaya memperbaiki diri ini tidak akan pernah sebanding dengan seandainya saya tidak meninggalkan mereka. Mudah-mudahan kedua anakku ini memaafkanku dan mampu memahami sulitnya keadaan saya saat harus memutuskan pergi, yang tidak kalah pentingnya, semoga mereka tetap menyayangiku … juga menghargai upaya bundanya dalam memperbaiki perannya sebagai seorang ibu …
Dari cerita pertama mbak Neno tadi, satu hal penting yang harus saya lakukan dalam berkomunikasi dengan anak, terutama di saat-saat genting kekesalan memuncak menjadi kemarahan, … jangan lakukan sendirian tapi libatkan Allah … minta bantuanNya untuk memberimu jalan … “Saat selesai shalat, ia mengangkat tangan ke langit,”Ya Allah, kataMu … berdoalah, akan Engkau kabulkan. Ini aku, berdua saja dengan anakku … Engkau tahu isi hatiku … berilah jalan … “ [hlm. 8] betapa Allah itu begitu pentingnya dalam setiap elemen kehidupan mbak Neno.
Astaghfirullah al adzim wa atubuilaih … saya tidak pernah melakukan hal ini … saya terlalu sering melupakan dan tidak perduli dengan keberadaan Tuhan, saya terlalu jumawa mengandalkan diri sendiri untuk urusan anak … padahal ilmunya tidak ada … selalu saja trial and error … hit and run … saya patut berterima kasih pada mbak Neno yang sudah membukakan ruhani saya … saya tidak pantas sombong dan gengsi untuk melibatkan Tuhan dalam setiap elemen kehidupan saya, bukan hanya urusan yang nampak besar saja, tetapi juga urusan yang nampak sepele tapi hakiki … Komunikasi dengan anak tidak bisa sepintas lalu … kalau tidak mampu ya saya harus tanya kepada ahlinya, Ahli dari Segala Yang Ahli adalah Allah Sang Pencipta dan Pemberi Amanah anak kepada saya …
Pada hlm 11 saya dikenalkan lagi dengan konsep menarik tentang “golden opportunity”, dalam konsep ini saya petik hikmah bahwa saya sebagai ibu harus melatih keterampilan berkomunikasi dengan anak, seorang ibu harus mampu mengarahkan dialog hingga akhirnya muncul kesempatan emas yaitu momentum yang tepat saat sang ibu dapat menanamkan nilai (values) yang akan selalu diingat oleh anak.
Doa yang dipanjatkan mbak Neno pun indah sekali, “Ya Allah … semoga Allah izinkan aku, ibu dari anak cerdas ini, menanam biji tauhid yang semoga nanti tumbuh menjadi pohon iman yang kuat, yang cabangnya menyentuh langit dan akarnya menghujam bumi …” [hlm 12] … rasanya saya belum mampu berdoa seindah, setawadhu, setulus, semesra dan sedalam ini … saya masih dibimbing oleh ego yang terus memanjakan saya dengan iming-iming dunia …
Sebuah pertanyaan di akhir cerita pertama dalam buku ini: “Bagaimana dengan anak-anak kita di rumah? Sudahkah mereka mendapatkan hak mereka untuk menjadi calon orang-orang besar di masa datang?” … saya kira ini menjadi titik awal yang sangat baik untuk mengintrospeksi diri … titik awal ini dapat memunculkan berbagai pertanyaan mendasar untuk berintrospeksi … misalnya memetakan sudah seperti apa mendidik anak … tidakkah memaksakan kehendak pribadi … sudahkah kebutuhan mereka terayomi dan terakomodir … dan masih banyak lagi.
Kisah-kisah berikutnya dalam buku ini tidak henti-hentinya mengharubiru dan menggedor perasaan saya, rasanya menjadi ajang bertanya pada diri sendiri … dan yang saya dapati adalah berbagai kekurangan saya sebagai seorang ibu bagi kedua anakku … hingga hari ini saya masih terus belajar untuk memperbaiki diri … tidak mudah namun insya Allah tidak ada yang sulit sepanjang saya mau belajar dan belajar memperbaikinya …
Saya menilai buku ini penuh inspirasi yang nyata dan dapat dicontoh dalam menata kembali hubungan yang penuh pengertian antara orang tua dengan anak, dan, antara keduanya dengan Tuhannya. Saya yakin, pembacanya dapat memetik hikmah yang mendalam dari gaya bertutur mbak Neno yang terang dan lugas.
Mengingat kesan pribadi saya cukup mendalam pada buku ini, maka saya meminjam-minjamkan buku ini kepada beberapa teman agar mereka juga dapat memperoleh hikmah yang mudah-mudahan jauh lebih baik dari yang saya peroleh … Buku ini selama hampir setahun berkeliling di teman-teman dekat, dan baru beberapa minggu lalu kembali kepada saya … manfaat buku ini jadi lebih banyak dan semoga saya juga memperoleh multiplier effect dari manfaat tersebut, inilah yang disebut “keberkahan” oleh guru saya di al Munawarah.
Catatan kecil saya dari buku ini … mengingat buku ini termasuk dalam kategori parenting/family, saya kira peran ayah sebagai orang tua juga sebaiknya diberikan porsi yang memadai, walaupun saya pahami buku ini adalah curahan pribadi mbak Neno. Paling tidak, dengan memberikan sesi peran bagi ayah sebagai orang tua, maka peran ibu sebagai orang tua tidak terlalu menonjol. Mungkin saya keliru dalam hal ini dan tidak mampu menangkap maksud penulisan buku ini.
Namun demikian, setelah menyelesaikan membaca kembali buku ini saya berpendapat bahwa buku ini telah berhasil memberikan inspirasi yang populer, mudah dicerna, tetapi mendalam.
Terima kasih mbak Neno yang sudah memberikan pencerahan ini … semoga Allah memberkahi mbak Neno sekeluarga …
Saya juga sudah baca bulan lalu.... nampaknya cocok.... karena saya kan juga seneng bercerita soal anak..... maunya bukuku bisa seperti gitu, rit hehehehe...
Saya yakin kamu bisa my dear ... kamu sudah dianugerahi talenta menulis ... eksplor lebih jauh ... sekarang banyak publisher yang suka dengan hal-hal natural dan keseharian ... orang2 sudah cape dengan yang berat-berat ... gaya menulis Ratih bisa menjadi profil yang mengisi kebutuhan itu ... just do it kata nike mah ...