“Jadi gimana boy? Sudah ketemu belum dengan ‘cewek’ itu?” aku tiba-tiba saja meletuskan pertanyaan itu membuyarkan heningnya suasana di dalam mobil kecil kami ketika aku menjemputnya beberapa hari lalu.
“Apaan sih?” dia menyahuti dengan sebal dan cemberut. Aku tersenyum geli dan kucubit pipi chubby-nya. Dia tidak mengelak tapi memegang tanganku dan menggigitnya. Ah … aku sungguh menikmati kemesraan ini. Ternyata dia masih milikku 
“Ah itu lho … ada gak ‘cewek’ itu?” desakku nyinyir dan penasaran.
Dia diam tak bergeming. Pura-pura tidak mendengar. Tapi aku menangkap semburat memerah di pipinya. Ahhaaa … something must be happened nih!!! Tapi bagaimana caranya ya agar ‘investigasi’ ini berlanjut peacefully? Aku diam mati gaya
Beberapa menit kemudian
… oke … bismillahirrahmanirrahim …
“Dulu ya bang, ketika bunda masih seumuran kamu, ya segini ini kelas dua smp, bunda pernah naksir teman sekelas. Bunda pernah maluuuuuu banget karena ketahuan ngelihatin dia.”
Aku deg-degan. Khawatir intro kampungan begini tidak kena di hatinya dan malah menjadi boomerang. Ya Allah … bantu aku yang sedang belajar menjadi sahabat baginya … jangan biarkan aku sendirian menemaninya …
“Terus gimana nda?” sahutnya walau dengan wajah yang tidak terlalu antusias.
Alhamdulillah … gayung bersambut …
“Sejak itu, bunda janji sama diri sendiri tidak akan lihat-lihat dia lagi.”
Kening dan alis tebalnya mengerut keheranan, “kok pake janji gitu?”
“Ya malu aja, apalagi ternyata dia memang kelihatannya juga tidak pernah merhatiin bunda”
“Aku mah enggak nda. Aku lihatin aja sampe matanya dia melihat ke tempat lain.”
Debar di dadaku nyaris meletus mendengarnya. Setengah mati kutahan otot-otot di sekitar wajahku agar tidak nampak kegiranganku, kegelianku, dan sejuta perasaan di hatiku. Bisa-bisa hancur berkeping kepercayaan yang baru saja diletakkannya di telapak tangan perempuan yang melahirkannya ini. Kutarik nafas dan kuhembus perlahan demi menenangkan riuhnya gemuruh excited dalam diriku. Ssssstt ... Panglima mudaku sedang jatuh cinta 
“Memangnya dia siapa, yang? Teman sekelasmu?”
“Hehe iya … tapi si %&*#$ sudah ‘nembak’ cewek itu duluan”
“Terus pacaran dong mereka?”
“Enggak. Soalnya kemarin %&*#$ marah-marah gara-gara cewek itu ternyata gak punya perasaan yang sama dengan %&*#$.”
“Mmm … dia sebetulnya naksir kamu kali ya?”
Senyumnya mengembang. Ahhh … rasanya baru beberapa hari lalu kutuntun dia belajar berjalan …
“Terus gimana dong?”
“Ya abang sih lebih mementingkan persahabatan abang dengan %&*#$.”
Oh oh oh … pantesan aja … dia gandrung banget lagunya Yovie & Nuno: Dia Milikku .
Tapi … penjelasan terakhirnya cukup membuatku bangga … Panglima Mudaku ini sudah memiliki wisdom itu … ia memilih sebuah persahabatan ketimbang menyatakan perasaannya kepada gadis yang sejelasnya berperasaan sama dengan dia.
Ya Tuhanku … terima kasih …
Dan dia masih menjadi milikku …