Sejak pagi tadi aku di rumah Ibuku di Jalan Pajajaran, bantu-bantu beliau menjamu teman2 SMEA-nya. Acara reuni atau kangen-kangenan ini hanya dihadiri 15 orang saja, dan keompok yang ini sudah mengadakan acara kumpul-kumpul setiap dua bulan sekali dalam setahun ini. Tentunya, reuni besar lulusan SMEA I Bandung 42 tahun lalu ini pernah diadakan bertahun silam, dan bahkan aku perhatikan pertemuan mereka lumayan berkala. Yang menarik dalam pertemuan mereka, topik pembicaraannya: tentang anak, cucu dan penyakit yang diderita … hehehe … diselingi candaan yang terkadang “nyerempet2”. Sambil menghidangkan minuman dan menyiapkan makan siang, aku ikut cekikikan.
42 tahun silam mereka pernah melalui kebersamaan sebagai siswa sekolah menengah … dan kini … mereka masih dapat bersilaturahim … apalagi kalau bukan karena berkah Allah semata (diam-diam aku merenungkan … aku bahkan tidak pernah tahu apakah aku akan beroleh kebahagiaan seperti mereka ini kelak). Di antara teman-teman ibuku ini … beberapa diantaranya sudah menjanda, ada yang lumayan sulit hidupnya, ada yang sakit-sakitan, bahkan ada yang belum menikah. Inilah jalan hidup yang dipilih oleh mereka. Di setiap pilihannya, Allah sediakan takdir-Nya.
Aku sendiri melihat ibuku termasuk yang memperoleh berkah Allah. Betapapun sulit dan jumpalitannya hidup yang pernah dilaluinya, sebagai manusia aku menyaksikan ibu sebagai manusia yang dianugerahi kemampuan oleh Allah untuk dapat melalui semua itu dengan sebaik-baiknya sebatas fitrahnya. Sebagai anak, aku sungguh berbahagia karena Allah manjadikan ibuku sebagai manusia yang memperoleh momen kehidupan terbaik untuknya di masa sepuhnya ini. Ia tidak perlu sampai hidup susah secara materi. Ketiga anak-anaknya pun telah mampu ia antarkan sekolah di PTN, hidup merenah dengan keluarga dan keturunan. Mengingat ibuku ini juga mualaf, maka hidayah dan hikmah dalam Islam juga merupakan untaian berkah yang senantiasa kami syukuri.
Pikiranku pun meloncat pada acara keluyuranku dengan abang dan kedua pemudaku di Batununggal pada hari Minggu dua minggu lalu. Saat aku hendak membeli jajanan, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Ah … rupanya %&*^ teman kuliahku dulu di FH Unpad. Kami sama-sama Angkatan ’86. Setelah menyapa, sambil menunjukkan tumpukan keranjang yang di atasnya terdapat berbungkus-bungkus makanan, dia bilang bahwa dia jualan snack. Akupun membeli jualannya, sekedar ikut melariskan saja.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku digayuti seribu renungan tentang nasib seseorang. Bayangkan saja, lulusan FH dari PTN kelas 1 ini harus survive dengan jualan snack yang omzetnya bisa kuhitung secara sederhana. Sepanjang yang kutahu … dia juga belum berkeluarga. Sedangkan aku, tidak hanya sudah berkeluarga dan memiliki anak, tetapi juga bekerja dengan penghasilan yang didambakan disamping atribut keduniawian lainnya yang mengiringi kami.
Nuwun sewu … aku menceritakan ini bukan dengan maksud membentangkan persoalan soal keberuntungan atau ketidakberuntungan, tetapi untuk mendidik diriku belajar jernih melihat setiap pemandangan dengan berbagai perspektif.
Menyaksikan beragam keadaan yang harus dijalani teman2 ibuku, ibuku sendiri, temanku, dan diriku sendiri sebenarnya tidak menunjukkan bahwa ibuku dan aku lebih beruntung sedangkan yang lainnya berada pada sisi sebelahnya yang mengenaskan. Tetapi, jauh dari pemikiran takabur semacam itu … sesungguhnya Allah sedang membelalakkan mata batinku untuk senantiasa mensyukuri segala yang telah Allah anugerahkan secara tanpa pamrih ini … mensyukuri semua kenikmatan yang telah Allah gelontorkan terus dalam kehidupanku … hmmm … sungguh, aku akan menjadi hamba yang durhaka apabila tidak mau mengubah segala pandangan kesombongan yang sering menghampiriku …
Mata kesombonganku mungkin akan menyemangatiku melihat bahwa ibuku lebih beruntung dibanding teman2nya atau aku lebih beruntung dibanding temanku … tetapi justru Sang Mata Kearifan tidak pernah bosan dengan lembut membisikkan … “anugerah apa lagi yang hendak kau pungkiri dan kau dustakan?” … dan semakin dalam aku mengelana pada pemahaman “kuasa dan kehendak” Allah … semakin jauh kutemukan diriku yang tidak ada apa-apanya …
Aku dan rata2 teman kuliahku lulus tahun 1991 … kami reuni besar di awal 2006 … dan kemarin aku bertemu dengan %&*^ berarti baru menjelang 20 tahun. Sedangkan ibuku dan teman-temannya … 42 tahun. Hmmm … apa yang akan terjadi dalam perjalanan menuju waktu yang setara dengan reuni ibuku dengan teman2nya itu? Wallahu’alam bissawab …
Akhirnya, reuni (baca: pertemuan dengan teman lama) dengan temanku menjadi sebuah media perenungan untuk mengingatkanku tentang Yang Awwal … dan reuni ibuku dengan teman-temannya menjadi media untuk mengingatkanku tentang Yang Akhir. Mengingat Yang Awwal, berarti menegurku untuk senantiasa mengingat “kuasa dan kehendak” Allah … bahwa tidak ada yang pantas kusombongkan, karena semua yang kuperoleh dan kunikmati hingga hari ini semata-mata karena qudrat & iradatnya Allah. Dan mengingat Yang Akhir, berarti menggiringku untuk selalu dalam orientasi mencapai ridho Allah, artinya apabila semua yang kuperoleh dan kunikmati ini tidak kugunakan dalam rangka menyenangkan Allah … maka aku tidak akan memperoleh mardhatillah (ridho Allah) di kepulanganku kelak pada Sang Akhir.