Beres dari Jupiter TV, kami berdua didampingi seorang teman memisahkan diri dari rombongan kbri yang kembali menuju Gotanda. Kami mau mampir ke Asakusa, sebuah kuil besar yang anggun dan megah. Sayangnya, sampai kami beranjak pulang pun saya gak sempat cari tahu didirikan kapan pada jaman dinasti apa, gara-garanya kami kebelet dan nahan pipis … hihi … sambil potrat-potret sana-sini, lihat2 suvenir, mejeng sana-sini, tetap dalam keadaan nahan pipis … hihi … Maklum kami gak bisa bahasa Jepang, payahnya mas Roni yang nemani kami pun tahunya cuma sepatah dua patah saja … sumimasen (excuse me) dan arigato gozaimas (terima kasih). Walhasil … ya malu bertanya menahan pipis lah :-D
Beberapa saat kami tiba di area Asakusa, saya masih sibuk jeprat-jepret dengan kamera saku, eh mbak Ati ngeloyor ke semacam cabin kecil yang ternyata toilet … tapi dia tidak jadi masuk dan wajahnya terlihat rada mual. Rupanya, mbak Ati baru saja menyaksikan pemandangan “ajaib” di dalamnya … menurut laporan pandangan matanya hehe … itu dalamnya cabin … aduuuuuuhhhh … berantakan dengan kotoran … (maaf ya to tell the dot dot dot story).
Surprisingly, setelah terkagum-kagum dengan kebersihan dan kecanggihan beberapa WC yang sudah kami “duduki”, ternyata hari itu kami dapat “surprise” :-D what a day!!!
Kami sempat beli beberapa suvenir kecil … harganya mahal-mahal untuk standar rupiah kita … meski kami gak masuk ke kuilnya karena kebelet pipis … kami sempat berasap-asap sebentar di sebuah gentong besar … umumnya pengunjung kuil akan menancapkan tangkai dupanya di atas pasir dalam gentong itu dan berdoa sambil menggerak-gerakkan tangannya … konon doa dan harapan kita itu akan masuk ke dalam asap tersebut dan membumbung sampai ke nirwana … Tidak jauh dari gentong ini ada pancuran air berbentuk kepala naga … airnya diminum atau untuk raup muka … masih kata Bu Konon, air ini mengandung kebaikan dan menyehatkan … gitu ceunah sahibul hikayat teh …
Kami tidak melihat petunjuk apapun bahwa di dalam kuil ada toilet, akhirnya kami bergegas ke arah Stasiun subway untuk cari toilet … ternyata gak nemu … lagi-lagi karena gak bisa bahasa Jepang … tidak bisa baca huruf kanji pula … kami naik lagi ke jalan raya setelah turun tiga lantai … duuuuh … si mas Roni the tidak bisa diandalkan geuningan … bayangkan dalam keadaan kebelet … harus turun tangga … terus naik lagi.
Akhirnya petualangan mencari toilet berakhir di sebuah supermarket kecil, yang di dalamnya ada toilet bersih dan dudukannya hangat. Alhamdulillah … bresssssss … lega … di supermarket itu, kami cuma beli tiga botol minuman hehehe …
Jadi … ternyata … tidak semua WC di Jepun teh bersih … dan tidak di semua tempat tersedia toilet … jadi … kami dapat pelajaran hari itu: jangan pake toilet di public area, dan kalo susah cari toilet, masuk aja ke supermarket. Tentu akan sangat menolong apabila bisa bahasa Jepang dan minimal hafal huruf katakana/hiragana/kanji untuk teks “toilet”.