Ketika kami menuju pintu keluar yang menghubungkan bagian dalam airport dengan area parkir, kami dihentikan oleh seorang bapak-bapak tua mengenakan seragam berwarna kebiruan, dengan topi seperti topi polisi. Dia terlihat mengejar kami dan sambil membungkuk-bungkuk ia menanyakan entah apa kepada salah seorang di antara kami sambil menunjukkan sebuah kartu kecil di tangannya. Rupanya (setelah diterangkan oleh mbak Rima yang paham bahasa Jepang) laki-laki ini menanyakan apakah kami telah kehilangan kartu parkir. Setelah memastikan bahwa kami bukan pemilik kartu tersebut, dia pun masuk kembali ke dalam. Mataku sempat memperhatikannya, dan apa yang selanjutnya dilakukannya membuat saya geleng-geleng kepala, di dalam dia menanyakan kepada setiap orang soal kartu parkir tersebut.
Mengapa dia mau merepotkan diri menanyai setiap orang hanya untuk sebuah kartu parkir? Walau dia bukan petugas parkir, dia tahu betul bahwa orang yang kehilangan kartu parkir tidak akan bisa membawa mobilnya keluar airport. Karena itu dia menjadi sangat peduli. Dan kepeduliannya ini diwujudkannya dengan menanyai satu per satu orang yang ada di airport. Aku sempat berpikir, kenapa tidak dia buat announcement aja pake “halo-halo” kan lebih praktis. Tapi barangkali … dia memiliki pertimbangan begini: kan tidak semua orang ngerti bahasa jepun, tidak semua orang aware dengan “halo-halo” melalui speaker, tidak semua orang sadar bahwa dia sedang kehilangan kartu parkir, dst.
Ada kepedulian, ada kejujuran, ada kesantunan, ada ketertiban, ada komitmen dan sikap menolong yang saya tangkap dari perilaku petugas airport yang sudah sepuh itu …