Beberapa waktu lalu, tepatnya 22-29 Maret 2008, saya berada di Tokyo untuk memenuhi undangan Duta Besar Indonesia di Jepang. Yang termasuk dalam undangan beliau bukan hanya saya, tetapi juga masih banyak lagi, terutama dari kalangan akademisi. Beberapa rektor dan guru besar dari PTS/PTN kita hadir juga. Nah, kenapa saya on the list, semata-mata karena saya bersama dua orang lainnya (Dr. Lastuti dari Unpad & Dr. Jaja dari Unpas) adalah research assistant beliau -paling tidak- dalam satu dekade ini. The main agenda dari kunjungan kami ini adalah menghadiri upacara penganugerahan Doctor Honoris Causa dari Soka University kepada beliau ini.
Selama kunjungan singkat ini, saya begitu terkesan dengan masyarakat dan budaya ketimuran orang-orang di sana. Mereka tidak beragama Islam, tetapi yang kusaksikan adalah nilai-nilai keislaman di mana-mana. Kebersihan, kejujuran, kerendah-hatian, kesantunan, ringan menolong, tidak ada yang pemalas, bersungguh-sungguh, dan menjunjung tinggi martabat kemanusiannya. Ajaibnya, nilai-nilai tersebut tidak dilembagakan dalam hukum positif (hukum yang berlaku di suatu masyarakat pada waktu tertentu), melainkan sudah hidup dengan sendirinya. Nilai-nilai tersebut menjadi living values yang didorong dan digerakkan dengan dasar etik (ethic driven atau non-prescribed) dan tidak dipaksa berdasarkan peraturan atau hukum (mandatory driven atau prescribed).
Setiap negara yang pernah saya kunjungi, selalu memberikan kesan berbeda satu sama lain. Karenanya, dalam beberapa kesempatan ke depan, insya Allah apabila ada slot waktu yang cukup, akan saya share pengalaman dan kesan-kesan selama di Jepun. Yang pasti, meski cuma seminggu saja tapi pengetahuan dan pelajaran yang diperoleh amat banyak. Semoga manfaatnya tidak hanya teraih oleh saya saja, tetapi juga oleh teman-teman semua, sehingga kunjungan ini memiliki berkah tersendiri.