Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Inbox Yahoo!-ku merekam puluhan email masuk dalam beberapa hari ini dan baru sempat aku cek pagi ini. Aku memilih beberapa diantaranya yang cukup penting diprioritaskan dibaca dan dibalas. Diantara semua email, ada email yang selalu kunantikan dan segera kubuka pada kesempatan pertama. Emailnya biasa berisi laporan atau review tugas Komite Audit yang saya ketuai dan … forward email yang isinya inspiring & thoughtful message. Pagi ini saya memperoleh beberapa email dari beliau yang juga sesepuh di industri bisnis kantor kami di bilangan Cikini. Aku menangkap sebuah subject emailnya yang menggugah: “Ketika Mulut Tak Lagi Berkata” … hmm aku memutuskan untuk membukanya terlebih dahulu.
Kursor di layar monitorpun kugerakkan perlahan melalui telunjuk kanan pada mouse. Usai membaca rangkaian cerita dalam email yang merupakan salinan dari artikel Taufiq Ismail tentang Chrisye (alm) di Majalah Sastra HORISON. Di dalamnya dikisahkan bagaimana Chrisye mengalami semacam pergolakan dan titik balik gara-gara jalinan kata-kata yang disusun oleh penyair filosofis ini dalam lyric lagu yang akhirnya bertajuk “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Menyimak lyric yang dirangkai sedemikian rupa oleh sesepuh penyair ini, kata demi kata dipadukan hingga mampu menciptakan efek yang menggetarkan setiap kalbu yang mencoba tenggelam dan larut dalam makna lyric tersebut … rasanya gemetar menjalari setiap ruang batin … gemetar karena seolah diingatkan pada sejuta sikap dan perilaku burukku … kata-kata apa yang masih mampu kukatakan di hadapan Allah kelak untuk mempertanggungjawabkannya … apabila di yaumil akhir nanti mulutku sudah dikunci rapat, tidak ada lagi kesempatan membela setiap amal burukku?
Ternyata Pak Dirman, seniorku ini rupanya mengirimkan email yang tidak berkaitan dengan tugas kantor … tetapi jutsru jauh lebih fundamental … yaitu berkaitan dengan tugas kita di dunia ini.
Kulangkahkan jemariku mencari website youtube … kuketik keywords judul lagu tersebut … dan kudengarkan baik-baik … kusimak dan kuikuti lyric-nya … dan runtuhlah hatiku pagi ini … mataku tidak hanya basah … aku berlari ke kamar menghamburkan diri ke kamar mandi … kubasahi beberapa bagian tubuhku wajib wudhu dengan air … kudirikan shalat sunnat … dan kutenggelamkan diri dalam taubat …
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna ya Kariim …
Semoga Engkau anugerahkan pembela kepadaku kelak di padang masyhar …
Semoga aku menjadi orang yang memperoleh syafaat Muhammad kekasihMu …
Kulampirkan isi email tersebut di bawah ini (mohon maaf kepada teman2 yang sudah pernah menerima email serupa):
Majalah Sastra HORISON
Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA
Oleh: Taufiq Ismail
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia
berkata, " Bang, saya punya sebuah lagu, Saya sudah coba menuliskan
kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan
liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa.
Saya tanyakan kapan mesti selesai, dia bilang sebulan. Menilik
kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu
dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan
untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku
kata. Chrisye menginginkan puisi relijius. Kemudian saya dengarkan lagu
itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua
minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai
gelisah.
Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu
cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya
saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris,
maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu.
Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai
ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma
nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum
bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan
tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki
mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya
tergugah.
Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa! Saya hidupkan
lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik
lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot
itu akan bisa masuk pas ke dalamnya.
Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik
itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah
selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul
inspirasi lirik tersebut.
Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar
menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis
lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah
Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang
dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier,
yang menggetarkan sekujur tubuh saya.
Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya
benar-benar benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang
begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya
berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya
membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.
Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa
terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana
sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan
membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia
ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya
menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan
ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan
saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya,
orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah
ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat
mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya
menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah
karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan
oleh lagu sendiri! Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu.
Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum
direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke
Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke
Australia , saya lalu mengajak Yanti ke studio,menemani saya rekaman.
Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya.
Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga
selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah
menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda
mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling
autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya
mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari! Lagu itu menjadi
salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya
nyanyikan.
Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah
pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya,
dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka
sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir
di hari kiamat kelak.
Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin
Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin
biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin
akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian
sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* *
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam
peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium
dari produser untuk lagu tersebut.
Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya
jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan
dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja.
Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65,
firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian
saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan
jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar
administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah,
mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ' kan ?" Saya pikir
jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga.
Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan
berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya
pun senang.
* *
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi
legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
Untuk mendengarkan lagunya, bisa disimak disini:http://www.youtube.com/watch?v=cNsURlMA-dg