Blog EntryNegosiasi lucu di balik tulisanku di RepublikaJan 6, '08 8:55 PM
for everyone

Negosiasi lucu di balik tulisanku di Republika

Dalam 2-3 bulan terakhir di penghujung 2007 lalu sebetulnya aku sedang konsentrasi menulis draft proposal untuk disertasi yang direncanakan bisa sidang proposal sebelum semester 3 berakhir pada bulan Februari mendatang. Tapi, di tengah-tengah kesibukan ini muncul semangat untuk menuliskan pengalaman hidupku dalam bentuk yang lebih baku dibanding sekedar mendokumentasikannya dalam bentuk jurnal dalam web-blog. Rasanya, apabila semua coret-coretan sederhana itu bisa ‘dijilid’ dalam bentuk buku … kok ada semacam ‘recognition’ gitu. Setelah first draft selesai, aku meminta beberapa pihak untuk membacanya. Aku ingin ada masukan yang akan memperbaiki tulisan yang masih ditulis dengan gaya amburadul. Saat ini, beberapa diantaranya masih membacanya.

Dari beberapa yang sudah dan sedang membacanya, memberikan saran untuk mengubahnya dalam bentuk feature. Aku yang tidak pernah tahu dunia tulis menulis kecuali menulis paper di jurnal hukum atau untuk keperluan presentasi, tentunya terbengong-bengong dengan istilah tersebut. Aku mencoba bertanya kepada Professor Google yang dengan setia menjawab 24 jam. Dari berbagai penelusuran, aku memperoleh informasi sederhana mengenai feature. Lebih lanjut, saat kopdar dengan Dina dan Ima, kami jalan-jalan ke Bursa Buku Palasari dan aku menemukan buku “Menulis Feature” yang ditulis oleh Septiawan Santana, dia rekanku sesama dosen di UNISBA.

Selama beberapa hari kemudian, aku pun belajar memahami cara menulis feature.

Dengan membaca Al Fatihah, aku meminta Allah memberiku ridho, petunjuk dan kasih sayangNya atas hajatku untuk dapat belajar menulis feature ini. Allah Yang Maha Mendengar ini memberiku latihan pertama saat aku akhirnya menuliskan feature pertamaku berjudul “Penglaris”. Dengan kenekadan berkecepatan tinggi, aku mengirimkannya ke Republika. Tapi, saat aku mengkonfirmasinya, Redakturnya menginformasikan bahwa untuk kolom feature mereka tidak memberikan ruang untuk kalangan umum, kolom tersebut khusus untuk wartawan dan penulis mereka. Well, OK. Lalu kukirimkan latihan feature-ku yang kedua yang berisi pengalaman haji. Tulisan yang berjudul “Allah itu Lebih Dekat dari Urat Lehermu” ini pernah ku upload di sini pada masa awal aku bergabung di Jagad Multiply. Tulisan ini ku-rewrite dengan teknik penulisan feature, dan setelah diedit habis-habisan oleh Editor akhirnya Republika menampilkan ‘latihan’ menulisku ini di lembar Jurnal Haji hari Sabtu 5 Jan lalu, pada kolom Nostalgia Haji.

Dimuatnya tulisan itu, membuatku teringat pada shaum yang kulakukan pada hari Kamis 3 Jan. Tidak seperti biasanya, sejak pagi hingga menjelang dzuhur aku merasakan berat sekali melaksanakan shaum yang sebenarnya bukan shaum sunnah, tapi shaum wajib karena aku sedang membayar utang shaum Ramadhan. Ya, utang shaum Ramadhanku belum lunas dan lumayan banyak,  total 16 hari. Untuk membayarnya dengan tidak memberatkan kesibukanku yang lumayan padat, aku mencicilnya setiap Senin dan Kamis.

Dalam beberapa jam menjelang waktu dzuhur, aku merasa pengen banget makan. Ketika aku bertanya pada diriku, “apakah aku memang benar-benar lapar?”. Aku menjawab sendiri, “sama sekali tidak lapar. Tapi kepingin makan!” Haha. Di meja makan yang berada dekat meja kerjaku sudah tersaji sarapan nasi goreng dan orak-arik telur isi ayam, baso, wortel dan buncis. Aroma lezatnya tercium mengggelitik hidungku. Afif dan Zaki yang masih libur sekolah, menikmati hidangan penuh gizi itu di dekatku sambil sesekali menghampiriku dan menggelendoti kursi yang kududuki. Tidak hanya itu, setelah sarapan mereka juga hilir mudik makan ini dan itu. Ooo ... please deh ...

Bayangkan saja aku digoda oleh nafsu yang terendah yaitu nafsu lawamah (nafsu perut). Menggelikan sekali kan? Nafsu seperti ini biasanya menghinggapi shaumnya anak kecil. Apabila nafsu terendah beginian menghinggapi shaum orang yang memasuki usia 40-nya, seperti apa ya kualitas orang tersebut? Hahaha. Mungkin tidak jauh berbeda dengan shaumnya orang yang berusia ‘empat’ tahun atau ‘empatbelas’ tahun.

Menjelang shalat dzuhur, aku mencoba ‘bernegosisasi’ lucu dengan Allah, “Ya Allah Ya Muqolibal qulub wal Abshar, bantulah aku mengalahkan diriku sendiri ini, kalau aku berhasil, hadiahi aku dengan dimuatnya tulisanku tentang haji di Republika ya?”. Ajaibnya, usai menyampaikan negosiasi itu godaan kepingin makan langsung lenyap seketika itu juga dan tidak pernah hinggap lagi sampai waktunya berbuka puasa pada saat matahari benar-benar menenggelamkan diri di ufuk barat sana. Subhanallah.

Sekembalinya dari acara bermain bersama keluarga selama 2 hari di Cisarua, Minggu malam kemarin, aku benar-benar merasakan kembali bergetar dan haru saat membaca judul ‘latihan’ menulis feature ku terpampang di sudut kiri bawah lembar Jurnal Haji Republika terbitan sehari sebelumnya.

Aku sujud syukur. Keharuan menyeruak, dan meneteskan air mataku.

Judul tulisan itu kembali mengajarkanku bahwa “Allah itu (memang) Lebih Dekat dari Urat Lehermu”.

Terima kasih Ya Allah. Terima kasih Republika.

 

 




25 Comments
rahmatns wrote on Jan 6
alhamdulillah
subhanallah

selamat nya mba tulisannya masuk di republika

sukses selalu
ratnajanuarita wrote on Jan 6
alhamdulillah
subhanallah

selamat nya mba tulisannya masuk di republika

sukses selalu
terima kasih doanya :-)
ummufarhan wrote on Jan 7
Selamat mbak...terus semangat berkarya yaaa..
ratnajanuarita wrote on Jan 7
Selamat mbak...terus semangat berkarya yaaa..
terima kasih mbak Desita ... :-)
fuzzydesi wrote on Jan 7
Alhamdulillah, selamat ya Mbak.. Ada versi web dari artikelnya ga, ya?
ratnajanuarita wrote on Jan 7
Makasih Desi ... ini mah mbak sedang 'latihan' nulis :-) versi web-nya ada di posting-an berjudul "Nostalgia Haji-ku dimuat di Republika", di situ sudah mbak taro link-nya tinggal klik aja ... :-) Masih di OZ? Wah sedang 'enak-enak' nya summer ya? Mbak 2 kali ramadhan pas summer dan keriiiiiing sekali :-)
gitasinta wrote on Jan 8
Selamat mbak Ratna, semoga di susul dengan tulisan2 yang lain ya :-)
ratnajanuarita wrote on Jan 8
Selamat mbak Ratna, semoga di susul dengan tulisan2 yang lain ya :-)
Makasih ya mba Gita ... maunya sih memang nurutin semangatnya yang sedang anget gini ... tapi mbak juga ditunggu deadline penting lain yang harus submit dalam bulan ini ... yang ini mah wajib ... proposal disertasi ... padahal sedang bete-bete-nya nih ... doakan ya :-)
fuzzydesi wrote on Jan 8
Makasih Desi ... ini mah mbak sedang 'latihan' nulis :-) versi web-nya ada di posting-an berjudul "Nostalgia Haji-ku dimuat di Republika", di situ sudah mbak taro link-nya tinggal klik aja ... :-) Masih di OZ? Wah sedang 'enak-enak' nya summer ya? Mbak 2 kali ramadhan pas summer dan keriiiiiing sekali :-)
Oh iya.. ada-ada :-) Postingan yang itu kelewat. Ceritanya menyentuh sekali.

Sekarang udah di Belanda lagi, Mbak.. Sampai Okt kemarin di OZ.. jadi nggak ikut merasakan "enaknya" summer di OZ :D. Bulan Oktober kemarin tiap hari udah mulai panas, mataharinya bersinar cerah, dan enaknya karena belum terlalu kering. Tapi kebayang juga "enaknya" Oz waktu summer. Hehe. Oh ya, saya lebih sering posting di fuzzydesi.blogspot.com, Mbak.
zubiayusuf wrote on Jan 10
Waa selamat ya mbak Ratna, semoga disusul dengan karya-karya mbak selanjutnya ya..
zubiayusuf wrote on Jan 13
Apa kabarnya mbak Ratna? Ayo nulis lagi mbak, ditunggu updatenya:)
ratnajanuarita wrote on Jan 14
Apa kabarnya mbak Ratna? Ayo nulis lagi mbak, ditunggu updatenya:)
alhamdulillah mbak sehat ... cuma sedang sedang nyelesaikan bbrp deadlines ... maklum deh masih kuli kontrak mah harus beresin order2 hehehe ... terutama karena ada target mau sidang proposal Feb/Maret ini utk sekolah mbak jadi ya gini deh ... tidak boleh terlalu asyik dengan 'mainan' barunya, otherwise, tugas utama malah gak beres2 ... :-)

tidak mudah untuk mbak menulis 2 genre yang berbeda dalam waktu yang sama. nulis feature kan ngepop dan bahasa harus lugas, sedangkan bikin disertasi itu justru kebalikannya: baku dan dengan bahasa akademik.

nanti deh kalo sedang bete dengan proposal, mbak cari hiburan ke feature ... :-)
anyway, thanks for the support :-)
imazahra wrote on Jan 25
Wow, orang pinter sekali belajar langsung dimuat di koran besar! Ck ck ck! My salute and applause!

Ajarin aku dung Mba :-)
ratnajanuarita wrote on Jan 26
Wow, orang pinter sekali belajar langsung dimuat di koran besar! Ck ck ck! My salute and applause!

Ajarin aku dung Mba :-)
ah ima ini minta dicubit ya ... kolomnya bukan yang selected kok, memang republika kasih space untuk mereka yg sudah haji untuk share kenangan mereka. kalo mau belajar feature ... ya baca buku ibu dina itu lah ... ornamennya cantik banget.

piye, sudah sempat cek ke mp-nya mas ferry? coba aja ya nduk, kayaknya prospektif tuh programnya ... all the bset for you ya ...
indwi wrote on Jan 29
TFS ya Mbak, terutama dengan kalimat, Allah itu lebih dekat dari urat lehermu sendiri..
Selamat,dan semoga sukses selalu..
Mbak Ratna dosen UNISBA jurusan apa Mbak??
ratnajanuarita wrote on Jan 29
indwi said
TFS ya Mbak, terutama dengan kalimat, Allah itu lebih dekat dari urat lehermu sendiri..
Selamat,dan semoga sukses selalu..
Mbak Ratna dosen UNISBA jurusan apa Mbak??
di fak hukum :-) main ke tamansari atuh?
cikicikicik wrote on Feb 4
aduuhhhhh baru sempat ngubek2 isi MP mbak Ratna...ada 5 hal yang pingin aku lakukan disini...

1. dapat teman baru yang siapa tahu aku beruntung bisa dekat layaknya saudara
2. belajar
3. belajar
4. belajar, dan
5. belajar!!!

subhanalloh, nyesel deh kenapa nggak dari dulu2 rajin berkunjung kesini mbak! :-)
ratnajanuarita wrote on Feb 5
aduuhhhhh baru sempat ngubek2 isi MP mbak Ratna...ada 5 hal yang pingin aku lakukan disini...

1. dapat teman baru yang siapa tahu aku beruntung bisa dekat layaknya saudara
2. belajar
3. belajar
4. belajar, dan
5. belajar!!!

subhanalloh, nyesel deh kenapa nggak dari dulu2 rajin berkunjung kesini mbak! :-)
waduh nduk nduk ... bikin mbak keselek ngombe ki :-D
cikicikicik wrote on Feb 5
sareh mbak, sareh...**elus2 punggung mbak ratna** :-)
abukhonsa wrote on Feb 5
hebat! usaha tak kenal lelah ini dapat jadi pelajaran buat kita :)
namakulayla wrote on Feb 8
mbak, senyum simpul denger tawar-menawarnya ^_^
terharu denger hasilnya
dan iri, lihat prestasinya!

ajarin juga dong mbak....
echyart wrote on Feb 9
aku mencoba ‘bernegosisasi’ lucu dengan Allah, “Ya Allah Ya Muqolibal qulub wal Abshar, bantulah aku mengalahkan diriku sendiri ini, kalau aku berhasil, hadiahi aku dengan dimuatnya tulisanku tentang haji di Republika ya?”.
Subhanallah, untuk aku yang sedang membangun mimpi bisa menulis, tulisan ini sangat memotivasi..dan sebuah pelajaran berharga : Kita punya Allah untuk mengadukan semua masalah, apapun itu. bahkan bernegosiasi dengan-NYA. indah sekali
ratnajanuarita wrote on Feb 9
echyart said
Subhanallah, untuk aku yang sedang membangun mimpi bisa menulis, tulisan ini sangat memotivasi..dan sebuah pelajaran berharga : Kita punya Allah untuk mengadukan semua masalah, apapun itu. bahkan bernegosiasi dengan-NYA. indah sekali
sebetulnya nyeritainnya malu banget ... kok sudah setua ini masih norak banget iman-nya ... tapi biarlah ... siapa tahu kenorakan ini ada hikmahnya buat temen2 di sini ... maksudnya ... jangan sampe mengalami norak dan memble seperti saya, biar saya saja hehe ...

tapi memang, bernegosiasi ini rasanya seperti sedang merajuk dan bermanja kepadaNya ...
bundakirana wrote on Mar 10
Mbak, kasih link-nya donk..ada di website republika kan? pengen baca nih..
ratnajanuarita wrote on Mar 12
Mbak, kasih link-nya donk..ada di website republika kan? pengen baca nih..
versi web-nya sudah mbak taro link-nya di entry "Nostalgia Hajiku dimuat di Republika". mbak sih males bacanya, karena hasil editingnya jadi menghilangkan spirit yang sudah mbak coba terakan di sana. ya apa boleh buat ... :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help