Negosiasi lucu di balik tulisanku di Republika
Dalam 2-3 bulan terakhir di penghujung 2007 lalu sebetulnya aku sedang konsentrasi menulis draft proposal untuk disertasi yang direncanakan bisa sidang proposal sebelum semester 3 berakhir pada bulan Februari mendatang. Tapi, di tengah-tengah kesibukan ini muncul semangat untuk menuliskan pengalaman hidupku dalam bentuk yang lebih baku dibanding sekedar mendokumentasikannya dalam bentuk jurnal dalam web-blog. Rasanya, apabila semua coret-coretan sederhana itu bisa ‘dijilid’ dalam bentuk buku … kok ada semacam ‘recognition’ gitu. Setelah first draft selesai, aku meminta beberapa pihak untuk membacanya. Aku ingin ada masukan yang akan memperbaiki tulisan yang masih ditulis dengan gaya amburadul. Saat ini, beberapa diantaranya masih membacanya.
Dari beberapa yang sudah dan sedang membacanya, memberikan saran untuk mengubahnya dalam bentuk feature. Aku yang tidak pernah tahu dunia tulis menulis kecuali menulis paper di jurnal hukum atau untuk keperluan presentasi, tentunya terbengong-bengong dengan istilah tersebut. Aku mencoba bertanya kepada Professor Google yang dengan setia menjawab 24 jam. Dari berbagai penelusuran, aku memperoleh informasi sederhana mengenai feature. Lebih lanjut, saat kopdar dengan Dina dan Ima, kami jalan-jalan ke Bursa Buku Palasari dan aku menemukan buku “Menulis Feature” yang ditulis oleh Septiawan Santana, dia rekanku sesama dosen di UNISBA.
Selama beberapa hari kemudian, aku pun belajar memahami cara menulis feature.
Dengan membaca Al Fatihah, aku meminta Allah memberiku ridho, petunjuk dan kasih sayangNya atas hajatku untuk dapat belajar menulis feature ini. Allah Yang Maha Mendengar ini memberiku latihan pertama saat aku akhirnya menuliskan feature pertamaku berjudul “Penglaris”. Dengan kenekadan berkecepatan tinggi, aku mengirimkannya ke Republika. Tapi, saat aku mengkonfirmasinya, Redakturnya menginformasikan bahwa untuk kolom feature mereka tidak memberikan ruang untuk kalangan umum, kolom tersebut khusus untuk wartawan dan penulis mereka. Well, OK. Lalu kukirimkan latihan feature-ku yang kedua yang berisi pengalaman haji. Tulisan yang berjudul “Allah itu Lebih Dekat dari Urat Lehermu” ini pernah ku upload di sini pada masa awal aku bergabung di Jagad Multiply. Tulisan ini ku-rewrite dengan teknik penulisan feature, dan setelah diedit habis-habisan oleh Editor akhirnya Republika menampilkan ‘latihan’ menulisku ini di lembar Jurnal Haji hari Sabtu 5 Jan lalu, pada kolom Nostalgia Haji.
Dimuatnya tulisan itu, membuatku teringat pada shaum yang kulakukan pada hari Kamis 3 Jan. Tidak seperti biasanya, sejak pagi hingga menjelang dzuhur aku merasakan berat sekali melaksanakan shaum yang sebenarnya bukan shaum sunnah, tapi shaum wajib karena aku sedang membayar utang shaum Ramadhan. Ya, utang shaum Ramadhanku belum lunas dan lumayan banyak, total 16 hari. Untuk membayarnya dengan tidak memberatkan kesibukanku yang lumayan padat, aku mencicilnya setiap Senin dan Kamis.
Dalam beberapa jam menjelang waktu dzuhur, aku merasa pengen banget makan. Ketika aku bertanya pada diriku, “apakah aku memang benar-benar lapar?”. Aku menjawab sendiri, “sama sekali tidak lapar. Tapi kepingin makan!” Haha. Di meja makan yang berada dekat meja kerjaku sudah tersaji sarapan nasi goreng dan orak-arik telur isi ayam, baso, wortel dan buncis. Aroma lezatnya tercium mengggelitik hidungku. Afif dan Zaki yang masih libur sekolah, menikmati hidangan penuh gizi itu di dekatku sambil sesekali menghampiriku dan menggelendoti kursi yang kududuki. Tidak hanya itu, setelah sarapan mereka juga hilir mudik makan ini dan itu. Ooo ... please deh ...
Bayangkan saja aku digoda oleh nafsu yang terendah yaitu nafsu lawamah (nafsu perut). Menggelikan sekali kan? Nafsu seperti ini biasanya menghinggapi shaumnya anak kecil. Apabila nafsu terendah beginian menghinggapi shaum orang yang memasuki usia 40-nya, seperti apa ya kualitas orang tersebut? Hahaha. Mungkin tidak jauh berbeda dengan shaumnya orang yang berusia ‘empat’ tahun atau ‘empatbelas’ tahun.
Menjelang shalat dzuhur, aku mencoba ‘bernegosisasi’ lucu dengan Allah, “Ya Allah Ya Muqolibal qulub wal Abshar, bantulah aku mengalahkan diriku sendiri ini, kalau aku berhasil, hadiahi aku dengan dimuatnya tulisanku tentang haji di Republika ya?”. Ajaibnya, usai menyampaikan negosiasi itu godaan kepingin makan langsung lenyap seketika itu juga dan tidak pernah hinggap lagi sampai waktunya berbuka puasa pada saat matahari benar-benar menenggelamkan diri di ufuk barat sana. Subhanallah.
Sekembalinya dari acara bermain bersama keluarga selama 2 hari di Cisarua, Minggu malam kemarin, aku benar-benar merasakan kembali bergetar dan haru saat membaca judul ‘latihan’ menulis feature ku terpampang di sudut kiri bawah lembar Jurnal Haji Republika terbitan sehari sebelumnya.
Aku sujud syukur. Keharuan menyeruak, dan meneteskan air mataku.
Judul tulisan itu kembali mengajarkanku bahwa “Allah itu (memang) Lebih Dekat dari Urat Lehermu”.
Terima kasih Ya Allah. Terima kasih Republika.