Allah itu Lebih Dekat dari Urat Lehermu
Oleh: Ratna Januarita
Pernahkah merasakan ibadah yang menentramkan dan membahagiakan? Tentu umumnya demikian. Biasanya kita akan beryukur atas anugerah ketentraman dan kebahagiaan tersebut. Tetapi mungkin sebagian dari kita, termasuk saya, keadaan seperti ini justru menimbulkan pertanyaan, ‘kok dunia aman-aman saja?’. Perasaan seperti ini saya alami saat dianugerahi undangan untuk menghadiri perjamuan cinta dengan Allah pada musim haji tahun 1424 H atau 2004 (Januari).
Saya dan suami tergabung dalam KBIH Babussalam Bandung pimpinan KH. Muchtar Adam. Rombongan kami termasuk dalam Kloter 69 yang berangkat pada Gelombang Kedua, artinya, setelah kami menunaikan semua prosesi haji, kami memiliki waktu tinggal lebih lama di Makkah dibandingkan jamaah Gelombang Kesatu. Pada hari-hari menunggu tibanya jadwal keberangkatan ke Madinah, biasanya jamaah haji akan mengisi waktu-waktu tersebut dengan beribadah. Kami pun mengisinya dengan berbagai ibadah, salah satunya umrah sunnah.
Ketika kami berdua melakukan umrah sunnah, saya merasakan semacam kemasygulan atas ketentraman dan kebahagiaan yang telah Allah penuhi dalam hati kami. Pola hidup saya yang cenderung fluktuatif mengajarkan, hidup ini ‘belum lengkap’ tanpa sedikit gonjang-ganjing. Mungkin ini termasuk salah satu keanehan saya.
Saya pun ‘mengeluhkan’ kepada Allah tentang ibadah yang kami lakukan terasa lancar & aman, tidak ada gejolak, semua damai dan membahagiakan. Saya merasa belum lengkap apabila harus pulang ke tanah air tanpa pengalaman keimanan. Saya teringat tausiyah yang disampaikan Pembimbing kami semalam di maktab tentang dekatnya Allah dengan kita itu lebih dekat dari urat leher kita. Sebagaimana Allah wahyukan dalam Al Qur’an Surat 50 (Al Qaaf) Ayat 16 disebutkan: “wa laqad khalaqnaa insaana wana’lamu maa tuwaswisu nafsuhu wanahnu aqrabu ilayhi minhablil wariyd.” (Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya). Karena itu, dalam putaran kelima thawaf itu saya mohonkan pemahaman yang sebaik-baiknya mengenai ayat tersebut. Saya meminta agar Allah hadiahi saya ‘suvenir’ indah yang akan meningkatkan keimanan saya.
Baru saja kami menyelesaikan putaran thawaf kelima, berkumandanglah adzan maghrib. Panggilan shalat ini mengakibatkan kami berdua harus menghentikan thawaf dan mencari tempat untuk menunaikan shalat maghrib. Di Masjidil Haram berlaku ketentuan yang tidak memperkenankan laki-laki dan perempuan untuk shalat berdampingan atau berdekatan, sekalipun ia muhrim. Akibatnya, saya harus berpisah shalat dengan suami. Kami pun berjanji untuk bertemu kembali usai shalat di bawah lampu hijau di pelataran Ka'bah untuk menyelesaikan thawaf.
Usai shalat, saya pun bergegas menuju tempat yang dijanjikan. Namun tunggu punya tunggu suami tidak muncul juga, padahal setahu saya jarak antara tempat dia shalat (di muka multazam) dengan lampu hijau di pelataran thawaf, hanya beberapa meter saja. Saya celingukan mulai gelisah dan gemas. Namun, saya bersyukur karena dalam kegelisahan itu Allah menganugerahkan kesadaran untuk melakukan shalat taubat dan istighfar, dan saya pun seperti diingatkan pada permohonan yang dilantunkan saat thawaf tadi. Sungguh saya sangat bersyukur, karena dengan kejadian ini justru Allah menggiring diri & batin ini ke jalur untuk memahami ayat tadi, akan tetapi pada saat itu masih belum jelas maknanya bagi saya yang sangat dangkal dan rendah keimanannya. Sabar dan ikhlas yang saya miliki ternyata kualitasnya tidak memadai untuk menjadi bekal. Upaya untuk memahami makna dari kejadian yang sedang saya alami saat itu, laksana mengarungi samudera luas sedangkan saya tidak bisa berenang. Upaya batin yang jatuh bangun, timbul tenggelam, megap-megap dalam isak tangis ini akhirnya membawa saya ke azan Isya.
Sebelum shalat Isya, saya sempat berkomunikasi via telepon dengan pembimbing yang menyarankan agar segera menyelesaikan thawaf dan sa’i setelah bubar Isya. Apabila nanti tidak bertemu juga dengan suami, pembimbing berjanji akan menjemput. Saat itu suami memang membawa telepon, jadi kami pun tidak bisa saling cek keberadaan masing-masing.
Kegamangan hadir lagi pada saat sedang melaksanakan shalat Isya. Beginilah kalau imannya jauh di bawah pas-pasan, dalam shalat pun sangat tidak istiqomah. Saya mulai merasa tidak akan mampu menyelesaikan thawaf sendirian, karena terbiasa berdua suami dan mengikuti doa yang dilafazkannya. Saya menyadari kemanjaan dan kebergantungan kepadanya. Tiba-tiba, saya merasa bakal disorientasi. Panik, takut, tidak berdaya. Padahal kalau sekarang dipikir-pikir, apa susahnya thawaf sendirian, tokh nyatanya tidak sendirian tetapi bersama-sama dengan hamba Allah lainnya. Yang jelas, sifat saya yang biasanya tegar dan mandiri itu lenyap dan berganti sosok sebaliknya yang rapuh dan manja penuh ketergantungan. Dalam kerendahan dan kelemahan diri saat itu, saya memohon agar diberikan kekuatan dan perlindunganNya sebagai ganti kehadiran suami.
Saat menuruni anak tangga menuju pelataran Ka’bah, saya terus mendawamkan doa perlindungan: “Allahummahrusna bi aynikallatii la tanaam waknufna biruknikal ladzi laa yuraam warhamna bi qudrotika ‘alayna wa laa tuhlikna wa anta rajaa una” (Ya Allah, jagalah aku dengan mataMu yang tidak pernah tidur, lindungi aku dengan bentengMu yang tidak pernah hancur, sayangi aku dengan kekuasaanMu atasku, dan jangan kecewakan aku karena hanya Engkaulah harapanku).
Setelah menemukan garis abu-abu yang terbentang dari titik Hajar Aswad ke satu titik di bawah lampu hijau yang ada di pelataran Ka'bah, saya pun melambaikan tangan (istilam) ke arah Hajar Aswad untuk memulai thawaf, Bismillahi Allahu Akbar … dan … tiba-tiba ada sepasang lengan melingkari tubuh saya, tidak memeluk, tapi melingkar longgar, seolah saya berada di dalam lingkaran alat hulahoop. Sempat saya perhatikan lengan bajunya yang berwarna putih lusuh dan tangannya berkulit gelap. Saya mencoba bersikap waspada. Namun sambil terus melangkahkan kaki memutari Ka’bah, saya tidak berani membalikkan badan untuk melihat pemilik lengan tersebut. Dada ini berdegup kencang … jangan-jangan ini jawaban yang Allah berikan atas permohonan dan pertanyaan saat putaran kelima thawaf, dan doa perlindungan yang diucapkan saat menuruni tangga usai shalat Isya tadi. Rupanya secara konkrit dan kontan, Allah mengirimkan penjagaNya untuk memberikan perlindungan bagi saya. Hal ini juga sekaligus menjelaskan keberadaan Allah yang ‘lebih dekat dari urat nadimu sendiri.’ Tentu saja, wujudnya disesuaikan dengan takaran iman saya yang masih cetek ini.
Kesadaran akan keberadaan Allah yang sungguh nyata ini membuat saya gemetaran. Saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Rasanya saya seperti diingatkan pada berbagai kedurhakaan kepada Allah. Betapa segala bentuk pembangkangan saya selama ini sebenarnya wujud dari sikap yang hakikinya mengabaikan keberadaanNya. Padahal Allah meliputi segala sesuatu. Segala sesuatu, termasuk lahir dan batin saya yang berada dalam genggaman Allah. Putaran thawaf ini menjadi putaran taubat yang monumental bagi saya. Belum pernah saya merasakan gemetaran seperti itu. Sepertinya saya benar-benar berdiri di hadapan Sang Penguasa Jagad ini. Allah yang Arrahman arRahim dengan kelembutanNya tidak membiarkan saya terus berada dalam ketakutan, secara berangsur Ia tempatkan perasaan menentramkan dalam thawaf itu. Rasanya saat itu antara saya dengan Allah tidak pada posisi ‘aku dan Kau’ tapi ‘aku dan Aku’. Artinya saya berada di dalam Allah seperti satu senyawa. Inilah makna yang Allah ajarkan kepada saya: ‘Aku benar-benar lebih dekat dari urat nadimu sendiri’. Mungkin terkesan terlalu tinggi pemaknaan ini untuk seorang saya yang bukan siapa-siapa ini, tetapi bukankah Allah meliputi segala sesuatu? Bukankah Kemuliaan Allah yang lebih pantas menghampiri kenistaan makhlukNya?
Menjelang putaran ketujuh, saya berpikir kira-kira bagaimana cara berterima kasih kepada orang (malaikat?) yang menemani ini? Dalam saku baju hanya berisi uang kurang dari 10 riyal saja. Tas pun hanya berisi buku doa dan sehelai syal original branded yang harganya mungkin agak lumayan. Bagaimana kalau syal ini saja diberikan padanya? Tapi kemudian usai putaran ketujuh saya teringat belum beroleh kesempatan memasuki Hijr Ismail, lantas saya pun tidak keluar arus putaran tetapi melanjutkan untuk menuju Hijr Ismail. Seolah tahu tujuan ini, sepasang tangan itupun terus menemani hingga saya memasuki area Hijr Ismail. Mungkin karena saya fokus perhatian ke umat Allah yang berjejal memasuki Hijr Ismail, akhirnya lupa memberikan syal itu, dan orang itupun tidak terlihat lagi, mungkin sudah tenggelam dalam lautan manusia yang sedang thawaf (atau menghilang?) …
Saat memasuki Hijr Ismail, saya mendawamkan doa kemuliaan: "Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul munzilin" (Ya Allah, anugerahilah aku tempat yang penuh berkah, karena hanya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi berkah). Subhanallah … Allah menghadiahi saya sebidang area seluas sajadah tepat di bawah pancuran emas. Lagi-lagi Allah mengajarkan saya bahwa Dia jauh lebih dekat dari urat nadiku. Dia memang sangat nyata dan sangat dekat. Sayapun shalat dan berdoa dengan waktu yang cukup lama tanpa terganggu padatnya hamba Allah yang berjejalan di Hijr Ismail tersebut. Ya Allah, begitu nyata-nya Engkau di hadapanku, begitu buta-nya aku selama ini.
Sebagai anti klimaks dari kejadian tersebut, alhamdulillah, di awal sa’i Allah pertemukan kembali saya dengan suami yang saat itu sedang mencari-cari saya.
Kejadian tersebut tidak hanya sebagai ‘tanda-mata’ dari Allah tetapi lebih jauh lagi sebagai madrasah ruhani bagi saya dalam memahami keberadaan Allah. Hikmah yang telah Allah uraikan dari ‘suvenir’ dan madrasah ini, kini menjadi alarm yang terus berdenging mengingatkan saya untuk selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan merenungkan keberadaanNya serta bersikap muraqabah (selalu merasa dalam pengawasan Allah). Insya Allah.