Blog EntryPenglarisJan 3, '08 4:34 AM
for everyone

Penglaris

Oleh: Ratna Januarita

 

“Bu Haji, Benazir Bhutto dibunuh, Bu Haji” teriak seorang anak penjual asongan memperlihatkan koran terbitan sore di tangan kanannya di hadapan jendela saat mobil kantor yang kutumpangi berhenti di lampu merah perempatan Kantor Pos Gondangdia. Aku meliriknya sekilas dan kembali sibuk ber-sms dengan anak sulungku di Bandung, mengecek apakah dia sudah mengerjakan PR Kumonnya.

“Bu Haji, dia dimakamkan di Desa Gardhi Khuda Baksh” dia mengeja nama desanya dan mencoba mengiklankan lagi koran dagangannya untuk meyakinkanku bahwa isi korannya penting untuk dibaca dan akhirnya diharapkan aku akan membelinya. Aku tersenyum sambil melihatnya sebentar dan menggeleng sambil terus ber-sms-an. Wajah pengasong berusia sekitar sepuluh tahunan ini sempat mengingatkanku pada pemain cilik yang menokohkan si “Kipli” di sebuah sinetron yang dibintangi oleh aktor kawakan Dedi Mizwar.

“Bu Haji, satu saja Bu” pintanya. Aku masih tetap tersenyum dan menuntaskan isi sms berisi sebuah perintah kepada anakku untuk stick to the rule bahwa PR Kumon harus dikerjakan setiap hari dan tidak diborong dua hari sekali.

“Bu Haji, satuuu aja Bu … penglaris Bu Haji …” suaranya mulai memelas putus asa dan panggilan ‘bu haji’-nya mulai mengusik ke’haji’anku. Aku pun luluh dan merogoh dompet dalam tas. Kukeluarkan selembar limaribuan dan kuberikan melalui jendela yang kacanya kubuka sedikit. Dia pun menerima uang tersebut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menyerahkan koran melalui celah jendela. Aku menolak koran itu dengan mendorong kembali ujung koran yang sudah menyembul ke dalam jendela. Sempat terjadi tolak-dorong, karena dia memaksaku mengambil korannya sedangkan aku bersikeras tidak mau menerima korannya. Aku segera memberi isyarat padanya untuk mengambil kembali korannya sambil tangan kiriku pun segera menekan tombol tutup kaca yang sempat membuat sebagian jari tangan kananku terjepit disela-sela rangka jendela dan kaca yang bergerak menutup.

Aku memang tidak membutuhkan koran tersebut karena aku sudah membaca berita yang umumnya dilansir media massa hari itu. Biarlah dia ambil saja uangnya yang kuniatkan sebagai sedekah, sedangkan korannya bisa dijualnya ke orang lain. Paling tidak, dia sudah memperoleh ekstra lima ribu rupiah tadi. Tapi kemudian kulihat dia cukup kesal ketika tidak berhasil memaksaku menerima korannya. Dengan wajah cemberut ia melengos pergi sambil mengeluh, “yah Bu Haji, kan buat penglaris …” Aku mengerutkan dahi terheran-heran dengan sikap dan kata-kata terakhir yang diucapkannya. Anak laki-laki sebaya anak keduaku ini tidak bilang terima kasih tetapi justru mengeluhkan uang pemberianku tadi. Aku mencoba merenungkannya saat mobil kembali bergerak menuju Stasiun Gambir.

Mungkin, baginya, terbelinya satu eksemplar koran lebih berharga dibanding sejumlah uang yang diberikan sebagai sedekah atau belas kasihan. Bertukarnya satu eksemplar koran dengan selembar ribuan seharga korannya jauh lebih bernilai dibanding selembar limaribuan yang diberikan secara cuma-cuma. Pertukaran yang transaksional itu bermakna mendalam sebagai ‘penglaris’ yang bertendensi mistis sebagai pembuka pintu rezekinya sore itu. ‘Penglaris’ adalah transaksi pertama dari perdagangannya yang akan membuat bereksemplar koran lain dalam pelukannya habis terjual. ‘Penglaris’-lah yang akan mengantarnya pulang dengan uang yang ditargetkannya untuk dibawanya pulang menemui orang tua dan saudara-saudaranya.

Sedemikian pentingnya kedudukan sebuah ‘penglaris’ maka tidak jarang kita melihat pedagang yang mengibas-kibaskan uang yang diterimanya dari pembeli pertama hari itu ke atas barang dagangannya. Kata orang sunda, ‘penglaris’ adalah ‘pambuka lawang’ atau pembuka pintu masuknya uang yang akan diperoleh dari jualannya hari itu. Tidak jarang pula kita saksikan di berbagai tempat, pedagang akan habis-habisan merayu calon pembeli pertamanya dengan memberikan diskon dan servis keramahtamahan yang mungkin melebihi dari yang diberikannya kepada calon pembeli berikutnya.

‘Penglaris’ juga merupakan ‘sarapan pagi’ yang memberinya semangat dan energi awal untuk tidak berputus asa atas peruntungannya hari itu. Transaksi pertama ini sebegitu istimewanya laksana sertifikat keberhasilan yang memberikan penghargaan kepada para pedagang atas perjuangannya menyambung hidup. Sedangkan uang yang diterimanya sebagai sedekah atau pemberian, tidak ada makna yang monumental selain sekadar hadiah saja yang tidak ada korelasi positif dengan perdagangannya.

Sebagaimana agama lain yang umumnya menganjurkan umatnya untuk mengedepankan sikap ‘memberi’ atau berbagi terutama kepada kaum fakir miskin atau mustadh’afin, Islam pun melalui Muhammad SAW mengajarkan cinta kasih kepada mereka. Apabila kita mengaku sebagai pengikut dan mencintai Rasulullah, maka cintailah apa yang menjadi kecintaan beliau yaitu keluarganya dan fakir miskin. Jadi, berbagi dengan mereka merupakan salah satu wujud kecintaan kita kepada Rasulullah. Namun, memberi atau berbagi yang tidak pada tempatnya dapat berefek negatif dan tidak mendidik. Walhasil, senja itu, ‘bu haji’ memperoleh pengetahuan tentang ‘penglaris’ dan dimensi lain dalam berbagi yang positif: “jangan (hanya) memberi, tetapi belilah.”.

Maafkan ‘bu haji’ ya ‘Kipli’, atas ketidakmengertianku yang mengecewakanmu, atas kedermawananku yang tidak pada tempatnya, dan atas ketidakpekaanku yang tidak menghargai usahamu mengais penglaris. Semoga, saat kau pulang menemui keluargamu, Allah juga menganugerahkan hikmah dan kebahagiaan bernilai sama dengan yang ‘bu haji’ terima dalam kereta api yang mengantar ‘bu haji’ menemui keluarga yang dicintainya di Bandung.


PS: Pengalaman ini saya tulis sebagai latihan menulis feature. Mudah-mudahan lumayan.

 




20 Comments
fxmuchtar wrote on Jan 3
tulisan ini mudah-mudahan jadi penglaris juga bu haji :)
yusys wrote on Jan 3
mudah2an tulisannya jadi bener2 laris dan ada hikmahnya buat yang membaca...Amin...
ceumimin wrote on Jan 3
Subhanallah..
menggugah banget teh...
Ada budaya penglaris lain di mesir ini...
Makasih ingatannya..
ratnajanuarita wrote on Jan 3
tulisan ini mudah-mudahan jadi penglaris juga bu haji :)
hehe kalo gitu saya harus kibas-kibaskan duit ke depan monitor ya hehe ... anyway, mudah-mudahan tulisan sederhana ini ada manfaatnya :-)
ratnajanuarita wrote on Jan 3
yusys said
mudah2an tulisannya jadi bener2 laris dan ada hikmahnya buat yang membaca...Amin...
makasih mbak yusys sudah berkunjung dan membaca tulisan saya :-) mudah-mudahan renungan kecil dan sederhana ini ada manfaatnya :-)
ratnajanuarita wrote on Jan 3
Subhanallah..
menggugah banget teh...
Ada budaya penglaris lain di mesir ini...
Makasih ingatannya..
Nuhun juga ceu :-) di mesir aya 'budaya penglaris' nu siga kumaha tah? sami teu?
ceumimin wrote on Jan 3
Aya teh, si duit teh diciuman bari diusapkeun kana taar..!!!
Sadayana tateh ya tukang taksi ya nu icalan sayur..
Nu dagang mah dugi ngebut2keun kana dagangannana..
Hayang seuri, tapi bari ngaaminan we do'ana..
ratnajanuarita wrote on Jan 3
hehe lucu juga ya ... ekspresi nu dagang mensyukuri 'penglaris' teh ...
ceumimin wrote on Jan 3
Teh Ulang tahun kamana yeuh...(6 Januari)
Met Happy milad, semoga berkah sisa umurnya, dan bertambah banyak pahalanya untuk bekal kelak di akherat..
Mugia jaga tiasa ngalinggihan bumina nu Sae di Surga Na..
Amin Ya Robb..
ratnajanuarita wrote on Jan 3
kebetulan ada acara kantor suami pd tgl 5-6 main ke bogor, jadi ya lumayan lah :-) hatur nuhun piduana nu komprehensif ... dunia akhirat nu hasanah ... amin Ya Mujibasailin ... duh ... jadi cirambay yeuh ... emut tos nambih kolot tapi masih seueur dosa ...
fsafrina wrote on Jan 3
Tulisannya sdh bagus kok mbak... ceritanya juga asik... sederhana tp menggunggah... hal kecil yg kadang kita abaikan karena sibuk mencari hal besar yg belum tentu terjangkau... Motonya: ada keajaiban dan kearifan di setiap denyut kehidupan... di setiap hal yg terjadi.. asalkan sudi utk memunguti....
Salam sayang,
Rina
cambai wrote on Jan 4
ikutan ngibas2 duit ditulisan mbak ratna.. supaya laris...hehehe...
ditunggu tulisannya di koran ya mbak.. sepertinya pas banget ditarok di kolok renungannya republika... ^_^
ratnajanuarita wrote on Jan 6
Tulisannya sdh bagus kok mbak... ceritanya juga asik... sederhana tp menggunggah... hal kecil yg kadang kita abaikan karena sibuk mencari hal besar yg belum tentu terjangkau... Motonya: ada keajaiban dan kearifan di setiap denyut kehidupan... di setiap hal yg terjadi.. asalkan sudi utk memunguti....
Salam sayang,
Rina
Makasih semangat-nya de Rina. Kata referensi yang mbak baca, menulis feature itu memang menggali sisi human interest-nya. Nah bagaimana meng-eksplor-nya itulah yang butuh latihan terus supaya peka dan jadi terampil. Ini karena mbak sedang bete aja nulis proposal disertasinya yang belum maju-maju hehehe ... jadi cari yang rada fleksibel :-)
ratnajanuarita wrote on Jan 6
cambai said
ikutan ngibas2 duit ditulisan mbak ratna.. supaya laris...hehehe...
ditunggu tulisannya di koran ya mbak.. sepertinya pas banget ditarok di kolok renungannya republika... ^_^
iya nih sudah dikirim ke republika dengan modal nekad saja, tapi untuk kolom feature hanya untuk wartawan dan penulis (kolumnis) mereka. jadi sekarang mbak juga mau belajar jadi kolumnis itu gimana caranya :-) wahhh ... mbak ini payah dian, gak bisa dikasih tantangan, sedikit aja disodorkan pasti langsung diambil ... hehehe ... :-)
cambai wrote on Jan 13
. mbak ini payah dian, gak bisa dikasih tantangan, sedikit aja disodorkan pasti langsung diambil ... hehehe ... :-)
hehehe..terbalik dengan dian kalau gitu ya mbak..kalau dikasih tantangan, malah kabuuur..hehehe...
kalau udah depan mata, baru deh dikerjain...makanya jadinya segini-segini aja mbak.. hiks hiks.. udah cetakannya begini.. ^_^
ratnajanuarita wrote on Jan 14
cambai said
hehehe..terbalik dengan dian kalau gitu ya mbak..kalau dikasih tantangan, malah kabuuur..hehehe...
kalau udah depan mata, baru deh dikerjain...makanya jadinya segini-segini aja mbak.. hiks hiks.. udah cetakannya begini.. ^_^
duh duh adinda mbak yang satu ini kok gini ... kan sudah jadi isteri yang sering ditinggal dinas suami saja sudah luar biasa tantangannya, tokh dian gak kabur??? hayo ... let's c d bright side my dear ... :-)
indwi wrote on Jan 29
Latihan aja udah segini bagus Mbak... Ditunggu tulisan-tulisan hasil latihan berikutnya ya Mbak..
ratnajanuarita wrote on Jan 29
indwi said
Latihan aja udah segini bagus Mbak... Ditunggu tulisan-tulisan hasil latihan berikutnya ya Mbak..
alhamdulillah ... latihannya sedang mandeg dulu nih ... karena sedang kejar setoran lainnya :-D
nunungzulanwar wrote on May 1, edited on May 1
ngomong-ngomong soal penglaris... sepertinya bahaya juga ya kalau setiap kali abis penglaris terus pedagang akan mengibas-ngibaskan uang ke dagangannya....lama-lama si pedagang akan merasa ada sesuatu yang kurang jika setelah penglaris dia tidak mengibas-ngibaskan uangnya ke dagangannya (jadi kebiasaan). Aku khawatir, jika si pedagang itu merasa apabila dia tidak mengibas-ngibaskan uangnya ketika penglaris, maka dagangannya gak akan laku. (bingung nya kalimatna pabaliut). Nah jangan sampai gitu!!! Bener gak bu haji???

mmmmm.... tulisan Rita mah bagi saya asik dari dulu juga, pasti ada hikmah yang bisa saya ambil.... ajarin atuh saya Ta...
ratnajanuarita wrote on May 2
Aku khawatir, jika si pedagang itu merasa apabila dia tidak mengibas-ngibaskan uangnya ketika penglaris, maka dagangannya gak akan laku. (bingung nya kalimatna pabaliut).
iya sih nung ... sikap hati memang harus dijaga betul supaya lurus memang lilahita'ala ... tapi itu memang fenomena pedagang ya ... hehe ... insya Allah aku mah gak akan gitu kalo sedang jualan hehe ...

nungce mah ... tulisan nunung juga tos sarae kitu dina blog ... katanya kalo mau nulis mah nulis aja meluncur aja gak perlu pakem2an segala ... nanti kalo sudah meluncur siga sosorodotan ... tah baru milarian kedah kumaha dan saena kumaha ... ayeuna mah urang der wae nyerat nya nung hehe ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help