Penglaris
Oleh: Ratna Januarita
“Bu Haji, Benazir Bhutto dibunuh, Bu Haji” teriak seorang anak penjual asongan memperlihatkan koran terbitan sore di tangan kanannya di hadapan jendela saat mobil kantor yang kutumpangi berhenti di lampu merah perempatan Kantor Pos Gondangdia. Aku meliriknya sekilas dan kembali sibuk ber-sms dengan anak sulungku di Bandung, mengecek apakah dia sudah mengerjakan PR Kumonnya.
“Bu Haji, dia dimakamkan di Desa Gardhi Khuda Baksh” dia mengeja nama desanya dan mencoba mengiklankan lagi koran dagangannya untuk meyakinkanku bahwa isi korannya penting untuk dibaca dan akhirnya diharapkan aku akan membelinya. Aku tersenyum sambil melihatnya sebentar dan menggeleng sambil terus ber-sms-an. Wajah pengasong berusia sekitar sepuluh tahunan ini sempat mengingatkanku pada pemain cilik yang menokohkan si “Kipli” di sebuah sinetron yang dibintangi oleh aktor kawakan Dedi Mizwar.
“Bu Haji, satu saja Bu” pintanya. Aku masih tetap tersenyum dan menuntaskan isi sms berisi sebuah perintah kepada anakku untuk stick to the rule bahwa PR Kumon harus dikerjakan setiap hari dan tidak diborong dua hari sekali.
“Bu Haji, satuuu aja Bu … penglaris Bu Haji …” suaranya mulai memelas putus asa dan panggilan ‘bu haji’-nya mulai mengusik ke’haji’anku. Aku pun luluh dan merogoh dompet dalam tas. Kukeluarkan selembar limaribuan dan kuberikan melalui jendela yang kacanya kubuka sedikit. Dia pun menerima uang tersebut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menyerahkan koran melalui celah jendela. Aku menolak koran itu dengan mendorong kembali ujung koran yang sudah menyembul ke dalam jendela. Sempat terjadi tolak-dorong, karena dia memaksaku mengambil korannya sedangkan aku bersikeras tidak mau menerima korannya. Aku segera memberi isyarat padanya untuk mengambil kembali korannya sambil tangan kiriku pun segera menekan tombol tutup kaca yang sempat membuat sebagian jari tangan kananku terjepit disela-sela rangka jendela dan kaca yang bergerak menutup.
Aku memang tidak membutuhkan koran tersebut karena aku sudah membaca berita yang umumnya dilansir media massa hari itu. Biarlah dia ambil saja uangnya yang kuniatkan sebagai sedekah, sedangkan korannya bisa dijualnya ke orang lain. Paling tidak, dia sudah memperoleh ekstra lima ribu rupiah tadi. Tapi kemudian kulihat dia cukup kesal ketika tidak berhasil memaksaku menerima korannya. Dengan wajah cemberut ia melengos pergi sambil mengeluh, “yah Bu Haji, kan buat penglaris …” Aku mengerutkan dahi terheran-heran dengan sikap dan kata-kata terakhir yang diucapkannya. Anak laki-laki sebaya anak keduaku ini tidak bilang terima kasih tetapi justru mengeluhkan uang pemberianku tadi. Aku mencoba merenungkannya saat mobil kembali bergerak menuju Stasiun Gambir.
Mungkin, baginya, terbelinya satu eksemplar koran lebih berharga dibanding sejumlah uang yang diberikan sebagai sedekah atau belas kasihan. Bertukarnya satu eksemplar koran dengan selembar ribuan seharga korannya jauh lebih bernilai dibanding selembar limaribuan yang diberikan secara cuma-cuma. Pertukaran yang transaksional itu bermakna mendalam sebagai ‘penglaris’ yang bertendensi mistis sebagai pembuka pintu rezekinya sore itu. ‘Penglaris’ adalah transaksi pertama dari perdagangannya yang akan membuat bereksemplar koran lain dalam pelukannya habis terjual. ‘Penglaris’-lah yang akan mengantarnya pulang dengan uang yang ditargetkannya untuk dibawanya pulang menemui orang tua dan saudara-saudaranya.
Sedemikian pentingnya kedudukan sebuah ‘penglaris’ maka tidak jarang kita melihat pedagang yang mengibas-kibaskan uang yang diterimanya dari pembeli pertama hari itu ke atas barang dagangannya. Kata orang sunda, ‘penglaris’ adalah ‘pambuka lawang’ atau pembuka pintu masuknya uang yang akan diperoleh dari jualannya hari itu. Tidak jarang pula kita saksikan di berbagai tempat, pedagang akan habis-habisan merayu calon pembeli pertamanya dengan memberikan diskon dan servis keramahtamahan yang mungkin melebihi dari yang diberikannya kepada calon pembeli berikutnya.
‘Penglaris’ juga merupakan ‘sarapan pagi’ yang memberinya semangat dan energi awal untuk tidak berputus asa atas peruntungannya hari itu. Transaksi pertama ini sebegitu istimewanya laksana sertifikat keberhasilan yang memberikan penghargaan kepada para pedagang atas perjuangannya menyambung hidup. Sedangkan uang yang diterimanya sebagai sedekah atau pemberian, tidak ada makna yang monumental selain sekadar hadiah saja yang tidak ada korelasi positif dengan perdagangannya.
Sebagaimana agama lain yang umumnya menganjurkan umatnya untuk mengedepankan sikap ‘memberi’ atau berbagi terutama kepada kaum fakir miskin atau mustadh’afin, Islam pun melalui Muhammad SAW mengajarkan cinta kasih kepada mereka. Apabila kita mengaku sebagai pengikut dan mencintai Rasulullah, maka cintailah apa yang menjadi kecintaan beliau yaitu keluarganya dan fakir miskin. Jadi, berbagi dengan mereka merupakan salah satu wujud kecintaan kita kepada Rasulullah. Namun, memberi atau berbagi yang tidak pada tempatnya dapat berefek negatif dan tidak mendidik. Walhasil, senja itu, ‘bu haji’ memperoleh pengetahuan tentang ‘penglaris’ dan dimensi lain dalam berbagi yang positif: “jangan (hanya) memberi, tetapi belilah.”.
Maafkan ‘bu haji’ ya ‘Kipli’, atas ketidakmengertianku yang mengecewakanmu, atas kedermawananku yang tidak pada tempatnya, dan atas ketidakpekaanku yang tidak menghargai usahamu mengais penglaris. Semoga, saat kau pulang menemui keluargamu, Allah juga menganugerahkan hikmah dan kebahagiaan bernilai sama dengan yang ‘bu haji’ terima dalam kereta api yang mengantar ‘bu haji’ menemui keluarga yang dicintainya di Bandung.
PS: Pengalaman ini saya tulis sebagai latihan menulis feature. Mudah-mudahan lumayan.