Saat Panglima Afif Sakit
Bulan Agustus 2006 merupakan bulan ujian berat bagi kami. Panglima muda kami, Afif Makarim Lubis, sakit. Dan harus masuk rumah sakit lagi. Untuk (kalau tidak salah) kesebelas kalinya kami harus membawa Afif kami menjalani perawatan di rumah sakit. Kali ini, sakitnya demam berdarah. Pada April 2006, Afif juga baru masuk rumah sakit karena typhus.
Aku bersyukur karena nature pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang mewajibkan kehadiran periodik seperti orang kantoran lainnya. Pekerjaanku bisa dilakukan dimana saja, sepanjang ada laptop dan terhubung internet. Sewaktu April di rumah sakit, aku harus memboyong dokumen pekerjaan dan laptop. Untungnya kantor di Jakarta melengkapi laptop inventaris itu dengan cdma card sehingga aku tetap terkoneksi, sehingga review, laporan, dan lain-lainnya bisa disubmit via email. Namun kali ini, seabrek pekerjaan itu harus didrop tanpa tedeng aling-aling. Syukurku karena kolega-kolega untuk tiap pekerjaan sangat kooperatif meringankan bebanku, dan memberiku keleluasaan untuk konsentrasi pada perawatan Afif kami.
Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, jumlah trombosit Afif menurun terus. Hingga dokter memutuskan untuk memindahkan Afif ke ruang HCU (high care unit), di mana di ruangan ini Afif akan diawasi lebih intensif. Dokter melihat Afif memasuki tahap DSS (dengue shock syndrome).
Saat-saat menegangkan itupun dimulai ...
Semua peralatan, selang infus, selang oksigen, alat deteksi yang berbunyi terus untuk memantau tiap perubahan dalam tubuh buah hatiku ini. Aku mempelajari makna angka yang tertera pada alat deteksi itu.
Dokter berpesan agar aku dan suamiku terus menjaga agar Afif tidak kekurangan cairan, padahal sudah dibantu digelontor cairan infus lainnya untuk menjaga tingkat kekentalan darah. Setiap setengah jam merupakan penderitaan tidak hanya bagi Afif, tapi bagi kami kedua orang tuanya juga. Betapa tidak, kami harus merelakan tangan anakku yang sudah membiru ditusuk jarum pengambil darah untuk mencek jumlah trombosit. Hingga sekali waktu darahnya sudah sulit ditarik keluar dari pipet alat suntik.
Setiap sejam sekali kami membangunkan Afif untuk minum barang dua-tiga teguk air yang kami beri madu kualitas terbaik buatan teman baikku (www.rumahmadu.com) juga air zam-zam yang terus kami dawamkan doa & shalawat. Kami berdua sudah tidak memikirkan kondisi kami yang sudah kelelahan tidak tidur 2 malam di HCU ini, tapi Afif kami tentu jauh lebih lelah lagi karena dia harus pula menahan sakit dadanya. Dokter bilang bahwa langkah yang diambilnya untuk mencegah memburuknya DSS, tetapi dampaknya jantung yang bekerja cukup berat, namun insya Allah dapat diatasi kemudian. Jadilah yang take care sakitnya Afif ini bukan hanya dokter spesialis anak, tetapi juga dokter spesialis jantung.
Kami juga meminta tolong tetangga yang biasa catering untuk membuatkan nasi bungkus dan membagikannya kepada mustadh’afin. Menurut guru kami, sedekah adalah penyembuh, penolak bala, dan mendatangkan rizki.
Jumlah trombosit belum juga rebound melainkan merosot terus. Kondisi Afif makin lemah. Ini ujian sangat berat bagi kami.
Aku dan suamiku kemudian bernadzar shaum tiga hari apabila Allah berkenan menyembuhkan Afif kami ini. Dukungan dan doa dari keluarga, kerabat, dan teman-teman terus datang silih berganti. Aku dan suamiku benar-benar terpuruk. Saat itu bahkan kami sudah memasrahkan kepada Allah apapun yang terbaik menurutNya. Kami menyadari, Afif yang cerdas ini adalah titipanNya, selama ini kami dianugerahi kehormatanNya untuk merawat amanahNya ini. Kami tidak ada kuasa apapun untuk menentukan kesembuhan bagi Afif.
Doa & shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya tidak hanya didawamkan oleh kami saja, tapi juga oleh semua yang mengenal kami dengan keikhlasannya. Terutama untuk jamaah pengajian di masjid Al Munawarah dan masjid Baitur Ruhiyyah.
Yaa manismuhu dawaa wa dzikruhu syifa …, wa thaa'atuhu ghinaa, irhaman raasu maalihirrajaa ... (Wahai Yang Nama-Nya adalah obat, Yang dzikirNya adalah penyembuhan, Yang ketaatanNya adalah kekayaan, Kasihanilah orang yang hartanya hanya harapan) [penggalan doa Kumayl]
Suasana makin mencekam, saat pasien lain di ruang HCU itu meninggal tidak tertolong lagi. Rasanya aku ingin menjerit. Tapi Allah sudah mengajariku bahwa Ia lebih dekat dari urat nadiku sendiri, kuhamburkan keluh kesah ini di setiap shalat yang kudirikan dalam gemetar dan ketidakberdayaanku. Ya Hayyu Ya Qayyum … Ya Rahmaan Ya Rahiim …
Hari itu sudah tiga hari kami di ruang HCU … jumlah trombosit makin merosot di bawah angka 50,000 … apabila hasil cek darah hari itu mencapai angka di bawah 20,000 maka harus dilakukan tranfusi trombosit. Kami sangat mengkhawatirkan apabila langkah ini terpaksa harus ditempuh, karena reaksi tubuh tiap orang bisa berbeda dalam menerima darah tranfusi. Beberapa teman dan tetangga sudah mempersiapkan diri sebagai donor. PMI pun sudah dihubungi untuk memastikan jumlah darah yang dibutuhkan, ternyata jumlahnya tidak memadai, karena banyaknya permintaan. Kami pasrah …
Malam itu … aku dan suamiku terus memantau semua indikator, termasuk menakar jumlah pipis Afif yang harus sebanyak atau lebih banyak dari jumlah cairan yang dimasukkan melalui infus … Sejak masuk ke ruang HCU buah hatiku ini harus mengalami tusukan jarum untuk cek darah setiap 6 jam sekali … Sekitar pukul 24.00/00.00 malam itu pengambilan sampel darah dilakukan lagi … darahnya sudah sangat kental sehingga petugas lab butuh waktu untuk mengambilnya … pertahanan hatiku sudah ambrol … aku menangis … ibu mana yang tega menyaksikan adegan seperti ini setiap enam jam sekali … apalagi pengambilan sampel darah kali itu untuk menentukan apakah Afif perlu tranfusi atau tidak …
Pada dini hari keempat di HCU, mukjizat pun Allah taburkan di ruangan itu. Sejam usai cek darah kali itu, hasil cek darah menunjukkan jumlah trombosit naik ke angka 30,000. Syukrillah … biasanya ini titik balik dan rebound. Alhamdulillah … sujud syukur kami atasMu ya Rabb … Kuumumkan berita baik baik ini kepada keluarga, tetangga dan teman2 yang telah begitu penuh perhatian bolak-balik menemani kami di rumah sakit … terima kasih atas segala doa dan dukungan kalian semua … tanpa semua itu … kami yakin tidak mampu menghantarkan permohonan kami sendiri ke hadapan Allah …
Setelah itu, jumlah trombositpun berangsur naik dan kondisi Afif mulai melegakan kami dan keluarga …
Namun ada catatan hikmah besar dari sakitnya Afif ini, rupanya panglima kecilku yang menunggu di rumah, Zaki Muthahhari Lubis sempat bermimpi, kira-kira di saat Bang Ais suamiku sedang menangis, bertawasul kepada Rasulullah, memohonkan syafaat beliau untuk diteruskan kepada Sang Khalik, di ruang rawat inap yang sengaja tetap kami sewa walaupun kami di ruang HCU.
Cerita mimpi ini baru Zaki ceritakan belkangan kepada kami. Menurutnya, dia bermimpi bertemu Rasulullah. Aku dan Bang Ais berpandangan, kaget. Air mata kami terurai tanpa sanggup kami bendung. Kemudian kami coba tanya lebih lanjut, “kok ade bisa tahu kalau ade ketemu sama Rasulullah?”. Jawabnya, “ya tahu aja”. Kami yakin, Zaki yang saat itu baru menginjak usia 9 tahun, masih putih bersih suci, karenanya kami yakin Rasulullah benar-benar hadir. Tidak ada satu mahlukpun yang mampu menyerupai beliau atau melakukan semacam misleading kepada manusia dengan berpura-pura sebagai Rasulullah. Beliau terlalu suci untuk dipalsukan oleh jin atau iblis.
Zaki pun melanjutkan ceritanya, bahwa dalam mimpi itu ia melihat Rasulullah berpakaian semacam jubah berwarna hijau dan ada ayahnya (suamiku) sedang mencium tangan Rasulullah sambil menangis. Kemudian dia merasakan juga Rasulullah mencubit pipinya, lalu hilang, terus katanya, “ade main PS dengan si Axel”. Hehe … ujung ceritanya menggelikan. Tapi bottomline dari mimpi ini membuat kami bersujud syukur, karena dalam keadaan kalut kemarin justru diberikan kehormatan atas kunjungan Rasulullah melalui Zaki. Kami yakin, syafaat itu beliau berikan hingga Allah menurunkan kasih sayangNya kepada kami melalui kesembuhan Afif.
Barakallah anakku Zaki … semoga kunjungan Rasulullah itu menebarkan berkah dalam hidupmu Zaki si bunny my honey …
(menurut yang pernah kudengar <dan kuyakini> apapun yang berkaitan dengan Rasulullah, akan Allah anugerahkan keberkahan).
Terima kasih ya Allah … Engkau sudah memilih kami kembali untuk melalui ujian ini, semoga kesabaran dan keikhlasan yang kami coba hadirkan dalam menjalani ujian tersebut, cukup memadai untuk dapat mencapai ridho-Mu. Bilapun tidak, Engkaulah yang lebih pantas meliputi kami. Tidak akan berkurang keagunganMu hanya karena Engkau hadir pada majelis kesedihan kami …
Subhanallah walhamdulillah wa laa illahaillallahu wallahuakbar …