Shalat Tarawih di Masjid al-Haram
Setiap Ramadhan, umumnya masjid di Indonesia menyelenggarakan shalat tarawih. Namun uniknya, shalat tarawih tersebut pelaksanaannya dapat berbeda antara satu masjid dengan masjid lainnya. Shalat yang sama dengan jumlah rakaat yang beragam tentu merupakan sisi yang menarik dari pelaksanaan shalat tarawih di Indonesia, yaitu 11 atau 23 rakaat. Selain jumlah rakaat yang berbeda, pengerjaannya pun beragam. Untuk yang 11 rakaat, ada yang dikerjakan dengan 8 rakaat dan salam setiap 2 rakaat kemudian shalat shafa 2 rakaat dan shalat witr 1 rakaat, atau 8 rakaat dan salam setiap 2 rakaat kemudian 3 rakaat witr, ada pula yang dikerjakan 8 rakaat dengan salam setiap 4 rakaat (tanpa tahiyyat awal) kemudian shalat witr 3 rakaat. Sedangkan untuk yang 23 rakaat umumnya dilaksanakan 20 atau 22 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat dan 3 atau 1 rakaat witr.
Keberagaman ini tentunya terjadi karena berbagai pemahaman yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Semoga keberagaman ini tidak mengurangi rakhmat dan berkah Allah SWT kepada umat yang melaksanakannya semata-mata untuk meraih ridho dan cinta Allah SWT.
Berbeda halnya dengan pelaksanaan shalat tarawih di negeri diturunkannya wahyu Allah dan penghulu para nabi, yaitu Muhammad bin Abdullah, sang Rasulullah. Di kedua masjid yang disucikan yaitu Masjid Nabawi dan Masjid al-Haram, shalat tarawih dilaksanakan dalam jumlah yang sama yaitu 22 rakaat dan 1 rakaat witr. Namun nampaknya pengerjaannya dilakukan dengan berbagai pertimbangan, terutama untuk mengakomodir perbedaan pemahaman yang ada di antara jamaah dari berbagai bangsa yang selalu menghadiri majelis shalat tarawih setiap tahunnya. Hal ini tercermin dari terlebih dahulunya dikerjakan 10 rakaat pertama dengan salam setiap 2 rakaat, kemudian ada jeda, baru dilakukan 12 rakaat berikutnya ditambah shalat witr 1 rakaat. Pada rakaat-rakaat yang dikerjakan usai jeda ini, imamnya berbeda dengan imam pada 10 rakaat pertama. Bagi yang pernah atau sering mendengarkan alunan murotal Al Qur’an dari 2 orang imam terkenal yang masih relatif muda: Abdul Rahman Al-Sudais (kelahiran 1961) dan Saud Al-Shuraim (kelahiran 1965), pasti akan mengenali suara mereka di antara imam-imam lainnya yang memimpin shalat-shalat di Masjid al-Haram. Imam Sudais dan Imam Shuraim ini sama-sama berpendidikan doktor dari Umm al Qura.
Dalam jeda ini, biasanya dilaksanakan shalat mayit. Waktu jeda ini pula merupakan waktu bagi mereka yang tidak akan mengikuti 23 rakaat untuk keluar dari masjid. Diantara mereka ada yang langsung beranjak pulang dan ada pula yang menutupnya terlebih dahulu dengan shalat witr 1 atau 3 rakaat. Jadi suasana pada waktu jeda ini terasa agak hiruk pikuk. Disamping mereka yang pulang, ada juga yang beranjak untuk melaksanakan thawaf atau sa’i. Menurut sebuah sumber, kebijakan diperbolehkannya jamaah melaksanakan thawaf dan sa’i di saat sedang dilaksanakannya shalat tarawih merupakan kebijakan yang relatif baru dari pemerintah Saudi.
Adapun ayat-ayat yang dibacakan pada setiap rakaatnya hampir selalu merupakan ayat-ayat panjang dalam Al Qur’an. Bagi jamaah yang tidak bisa menyimak, tidak terlalu hafal ayatnya atau bahkan tidak paham bacaannya, bisa-bisa terkantuk-kantuk. Tidak sedikit jamaah yang tubuhnya bergoyang ke kiri atau ke kanan karena tak kuat menahan kantuk yang mendera. Oleh karenanya, untuk menyiasati kantuk ini mungkin ada baiknya minum kopi terlebih dahulu sebelum shalat tarawih atau bisa juga mengusapkan air zam-zam untuk sekedar menyegarkan muka dan mata.
Hal menarik lainnya, dalam 1 rakaat shalat witr ini dilakukan qunut setelah rukuk. Di Indonesia, tidak semua masjid melaksanakan witr dengan qunut. Dalam qunut biasanya diisi dengan doa-doa sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Demikian pula, Imam Masjid al Haram membacakan doa-doa yang diaminkan oleh jamaah setiap beliau membacakan sebait doa.
Suasana pembacaan doa dalam qunut tersebut menimbulkan getar dan haru pada setiap hati jamaah. Suara isak tangis terdengar di berbagai penjuru masjid. Sang Imam pun seringkali berhenti karena menahan isaknya, terutama ketika Imam mengulang-ulang mengucapkan do’a: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna ya kariim …” (ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai maaf, maka maafkanlah kami Wahai Yang Maha Mulia lagi Pemurah). Terkadang Imam benar-benar berhenti sejenak, mungkin untuk menata kembali emosi hatinya, baru kemudian mengucapkan takbir kembali untuk memulai rukuk.
Suasana seperti inilah yang tidak ingin dilewatkan oleh umumnya jamaah shalat. Terbayang senyum Allah menyaksikan jutaan jamaah shalat memohonkan ridho dan ampunan Penciptanya atas segala dosa dan kemaksiatan umatnya. Dengan sifatNya yang penuh kasih sayang, tidak mungkin Allah tidak mencurahkan rakhmat, berkah dan ampunannya pada setiap doa yang diaminkan oleh jutaan jamaah shalat pada waktu itu.
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan ampunan atas semua dosa dan akibat dosa yang telah kita lakukan, menerima semua amal ibadah kita, dan mencurahkan rakhmat dan berkahNya kepada kita dan alam semesta. (Ya Allah, Yang Maha Cepat Mengabulkan Do'a).