Blog EntryMemandang Ka'bahOct 12, '07 7:11 AM
for everyone

Memandang Ka’bah

Kamis 27 September 2007 – 15 Ramadhan 1428 H

Beres sahur di hotel, aku dan ibuku bergegas mengambil air wudhu dan menuju masjid untuk shalat shubuh. Kami tiba di masjid sebelum adzan pertama. Aku & ibuku masih memiliki waktu yang cukup untuk shalat malam.

Bubar shalat shubuh, kami menuju pelataran Ka’bah untuk melakukan thawaf sunnat. Wah mendekati sepuluh hari terakhir, pelataran Ka’bah pagi ini terasa jauh lebih padat dari kemarin. Thawaf yang biasanya bisa diselesaikan dalam waktu sekitar setengah jam, karena masih bisa berada di lingkaran agak ke dalam, sekarang baru bisa selesai sejam lebih sedikit, karena lingkaran dalam sangat padat. Badan ini benar-benar meleleh … padahal masih pagi …

Begitu thawaf selesai, kami shalat sunnat di area Maqam Ibrahim. Tapi kami tidak bisa berada di muka Ka’bah sedekat kemarin, karena areanya sedang padat orang thawaf. Namun demikian, kami bersyukur masih memperoleh tempat dan waktu yang leluasa untuk shalat & berdoa, termasuk menyampaikan doa-doa titipan yang dititipkan para pemilik hajat. Seperti biasa, usai shalat sunnat kami menuju keran zam-zam dan menyiramkannya ke wajah dan kepala … segarrrrrr sekali … dengan disertai doa: “Allahumma innaanas aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan waa si’an wa syifaa an min kulli daain wa saqamim birahmatika yaa arhamarraahimiin” (Ya Allah, aku mohon ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rizqi yang lapang, dan kesembuhan dari segala penyakit, dengan rakhmatMu ya Allah Yang Maha Pengasih dari Segala Yang Pengasih).

Dari area zam-zam, aku dan ibu duduk-duduk di tangga pelataran Ka’bah bersama jamaah lainnya dari negara lain, sambil memandang bangunan segi empat di hadapan kami yang menjadi episentrum dari thawafnya seluruh makhluk dan ciptaan Allah SWT. Kami memperhatikan jamaah yang sedang thawaf di Baitul ‘Atiq di depan kami …

Duduknya kami di tangga itu membawaku pada kenangan umrah tahun lalu bersama kedua mertua dan kedua anak kami. Aku teringat penjelasan suamiku kepada kedua buah hati kami saat kami sedang duduk-duduk memandangi Ka’bah di tangga seperti yang sedang aku & ibuku lakukan saat itu:

Suamiku menjelaskan kepada Afif & Zaki bahwa mereka yang sedang thawaf itu hakikatnya sedang menggabungkan diri dengan thawafnya malaikat di Baitul Makmur yang tepatnya berada satu poros dengan Baitul ‘Atiq (Ka’bah) tersebut … Mereka sedang melarutkan diri dalam arus yang sama dengan berputarnya seluruh alam ini … bumi kita, bulan, matahari, tata surya  kita, galaksi kita, dan seluruh alam ini … Siapa yang menerobos atau menentang arus thawaf itu, pasti akan terpental atau mengganggu arus … karena arus perputaran ini mencerminkan hukum Allah … dan semua ciptaanNya harus tunduk pada hukum yang telah Allah ciptakan untuk terwujudnya kedamaian,  ketentraman, ketertiban, dan keadilan … (wah kalau sudah begini, aku bersyukur banget menjadi orang yang berlatar pendidikan hukum, karena filosofi ilmu hukum menjadi bagian dari mainstream ini). Suamiku juga mengatakan kepada kedua panglima kami, bahwa dengan memandangnya saja Allah hadiahkan pahala … kemudian kita merenunginya ... mengambil hikmahnya … apalagi apabila kita thawaf dan thawafnya bukan hanya sekedar berputar … tetapi membawa filosofi ketundukan kita kepada Sang Rabbul al Amin … lebih jauh lagi thawaf kita adalah untuk menutup 7 pintu neraka dan membuka pintu surga (mematikan 7 sifat buruk dan menghidupkan 7 sifat baik) …

Mudah-mudahan Allah senantiasa mampukan kami untuk mengambil hikmah dari setiap thawaf yang kami lakukan …


2 Comments
cambai wrote on Oct 12, '07
baca tulisan mbak ratna lebih terasa banyak hikmahnya ya.. tidak pernah tertarik untuk menjadi seorang "ustazah" mbak.. gak sekedar dosen ???
ratnajanuarita wrote on Oct 12, '07
cambai said
baca tulisan mbak ratna lebih terasa banyak hikmahnya ya.. tidak pernah tertarik untuk menjadi seorang "ustazah" mbak.. gak sekedar dosen ???
alhamdulillah apabila ada hikmah yang bisa diambil ... semata itu dari Allah saja ... sahabat mbak sewaktu kuliah dulu (namanya Asep) pernah "meramal" katanya 'suatu hari nanti kamu jadi mubaligh' hehe mungkin dia melihat semangat mbak saat itu yang sedang berjuang utk mutusin mau kembali ke Islam atau terus berkelana (bisa baca postingan sebelumnya) ... kalau jadi ustadzah sebgmn yang Dian maksud ... rasanya masih jauh dari memenuhi prerequisite utk jadi ustadzah ... tetapi mbak bersama organisasi tempat mbak bergabung (Fathimiyyah) hampir sebulan sekali ke desa2 binaan ... ya macem2 kegiatannya ... tapi menjadi ustadzah bagi diri sendiri ... itu harus dilakukan tidak oleh mbak aja tapi semua perempuan, baru setelah ia bisa menjadi guru bagi dirinya, ia bisa menjadi guru bagi keluarganya ... nah itu cita-cita mbak ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help