Umrah untuk Ayahku
Rabu 26 September 2007 – 14 Ramadhan 1428 H
Aku bersyukur telah Allah gabungkan aku & ibuku dengan BAS Travel ini, karena mereka sudah mengagendakan dua kali umrah lagi setelah umrah pertama saat datang. Ada travel lain yang tidak menyediakan agenda seperti ini karena ada pemahaman umrah itu cukup satu kali saja.
Pada umrah yang kedua ini, kami mengambil miqat di Ji’ranah. Letaknya sekitar sejam perjalanan menggunakan bis dari hotel kami dekat Masjid al Haram. Ji’ranah ini merupakan tempat miqat (starting point) untuk melakukan umrah bagi penduduk kota Makkah atau orang-orang yang sudah berada di Makkah tapi kemudian hendak melakukan umrah lagi. Rasulullah SAW pernah mengambil miqat dari tempat ini.
Usai shalat tahiyyatul masjid, aku mendirikan shalat ihram. Kemudian berdoa dan berniat ihram, diikuti dengan melantunkan talbiyah. Saat berniat, aku niatkan umrah ini sebagai hadiah untuk ayahku.
“Semoga Engkau berkenan untuk menyampaikan
hadiah kecil ini kepada ayahku:
Muhammad Yunus bin Tisnadiredja,
semoga Engkau berkenan merakhmati dan memberkahi hadiah kecil ini sehingga menjadi hadiah besar yang bermanfaat bagi ayahku,
dalam kuburnya,
dalam kesunyiannya,
dalam kesendiriannya,
dalam penantiannya,
dalam kerinduannya …
semoga hadiah kecilku ini
menjadi cahaya dan kebahagiaan bagi ayahku …”
Kami bertolak dari Ji’ranah untuk kembali ke hotel dengan diiringi pembacaan niat bersama-sama dan melantunkan talbiyah …
Kami tiba di hotel sekitar pk 10.30. Aku dan ibu sempat berunding untuk mengikuti saran Buya, pimpinan kami, untuk melakukan thawaf & sa’i nanti usai shalat maghrib. Tapi begitu sampai di hotel untuk menyimpan barang bawaan kami, aku dan ibu mencoba mengira-ira sanggup gak ya thawaf dengan cuaca seperti ini? Rasanya belum terlalu panas, dan akhirnya begitu ibu bilang, “insya Allah siap”, kamipun segera menuju Masjid al Haram.
Begitu sampai ke dalam Masjid, ternyata orang yang thawaf juga lumayan padat. Jadi kami bukan yang hebat-hebat amat berani dan siap thawaf di bawah terik matahari, masih lebih banyak lagi jamaah yang lebih tahan berpanas-panas demi meraih ridho Allah. Aku dan ibuku thawaf sambil menutupi kepala kami dengan kain sajadah, sementara itu badan kami terasa meleleh hingga baju yang dikenakan basah oleh keringat dan bau yang campur aduk …
Saat menuruni tangga Masjid menuju pelataran Ka’bah … aku sempat berbisik, “Ya Allah beri kami kekuatan dan kesabaran untuk mengerjakan thawaf umrah ini … dan bantu aku untuk dapat menjadikannya sebagai hadiah terbaik untuk ayahku …”
Alhamdulillah … Allah mengaruniai kami kemudahan, kesabaran, kenikmatan, dan kebahagiaan dalam menyelesaikan tujuh putaran thawaf ini … kami juga dapat melaksanakan shalat sunnat usai thawaf di area Maqam Ibrahim dengan tenang dan khusyuk. Setelah menyiramkan air zam-zam ke wajah dan kepala kami, sekedar untuk menyegarkan dan terutama untuk mengambil berkahnya, kami segera mencari tempat untuk shalat dzuhur karena waktunya hampir tiba. Tetapi karena waktunya sudah mepet, kami tidak memperoleh di tempat biasa kami shalat, akhirnya kami mendapat tempat yang leluasa di bawah tangga menuju pintu Babussalam dekat tempat sa’i.
Usai shalat Dzuhur, kami melanjutkan prosesi umrah dengan sa’i dan tahalul di Marwah. Alhamdulillah …
“Ya Allah, semoga ayahku senang menerimanya …”
Kami tidak tidak langsung pulang ke hotel karena waktunya tanggung, sebentar lagi masuk waktu Ashar. Setelah shalat Ashar, kami pulang ke hotel dan tertidur … terbangun sesaat menjelang adzan Maghrib … akhirnya kami berbuka di kamar. Setelah shalat Maghrib di kamar, kami makan malam di ruang makan hotel. Baru kemudian kami menuju masjid untuk shalat Isya dan tarawih. Semula kami hendak i’tikaf malam itu, tetapi karena aku terus menerus bersin dan hidung mampet, akhirnya kami pulang dan istirahat di hotel.