Berbuka Puasa di Masjid Nabawi
Kedatanganku ke Haramain kali ini merupakan pertama kalinya di bulan Ramadhan. Oleh karenanya, aku benar-benar menikmati kesempatan berbuka puasa dua kali di hari Sabtu 22 Sept/10 Rmdhn & Minggu 23 Sept/11 Rmdhn.
Usai shalat ashar, para asykar dibantu sukarelawan di antara jamaah shalat, mulai menggelar plastik putih panjang yang sudah tersedia dalam bentuk gulungan. Gelas plastik mulai dibagikan. Tumpukan kardus berisi kurma, berbungkus-bungkus plastik roti, berkardus-kardus youghurt mulai dibagi ke berbagai penjuru masjid.
Aku dan ibuku diam saja memperhatikan kesibukan itu. Sesekali aku membantu menyebarkan gelas plastik yang diedarkan, atau sekedar menerima kurma, roti, dan yoghurt yang dibagikan oleh tidak saja para asykar dan relawan tetapi juga oleh jamaah yang memang sengaja membawa bekal kurma untuk dibagikan kepada jamaah lainnya. Ada juga yang membagikan air zam-zam yang diambilnya dari tong-tong yang tersedia di beberapa lorong untuk lalu lalang.
Ibu-ibu yang sejak tadi sibuk dan berada di dekatku sibuk menaruh sesendok bubuk berwarna kecoklatan ke dalam gelas plastik. Ketika aku menerima satu gelas yang berisi sesendok kecil bubuk tersebut, aku mencium aroma rempah dari bubuk tersebut. Tidak lama kemudian ada seorang lainnya menuangkan air panas ke dalam gelas tersebut yang sudah dibagikan kepada jamaah, tetapi ada juga yang tidak mau dituangi air panas. Aku termasuk yang menolak dituangi juga, karena aku tidak yakin bisa meminum cairan beraroma rempah itu … hmmm … walau aku dan Bang Ais termasuk penyuka makanan Timur Tengah … tapi rasanya aku belum sefanatik ini untuk menikmati cairan berempah ini … hehe …
Saat azan berkumandang … semua sibuk berdoa sebentar lalu menikmati ta’jil yang beraneka ragam itu … aku dan ibuku menikmati air zam-zam dan kurma sambil memperhatikan kira-kira roti, yoghurt, dan rempah tadi mau dimakan dengan cara bagaimana … sebetulnya aku sudah tahu bahwa roti itu dimakan sambil dicowelkan ke yoghurt yang rasanya masam … tetapi aku belum pernah tahu nasib si bubuk rempah … seolah memahami kebingunganku … seorang jamaah asal Saudi menunjukkan bubuk rempah itu dituangkan ke dalam yoghurt … aku ikuti sarannya … ahaaaa … rasa masam dari yoghurt-nya menjadi berubah lebih enak setelah diberi bubuk rempah itu … aku menikmati 3-4 cowel potongan roti yang lembut dan enak itu … (hehehe … maklum perut terasa lapar sekali saat itu) … sedangkan mereka yang bubuk rempahnya dituangi air panas, memakan rotinya sambil mencelupkan ke dalam gelas berisi air rempah tadi … subhanallah … lain lubuk lain ikannya … beginilah cara mereka makan …
Hanya saja … sebagian besar mereka memang berbuka langsung dengan makanan berat, maksudnya, roti yang mereka makan saat berbuka lumayan besar, kurma yang dimakan pun tidak sekedar 3-7 butir seperti yang biasa kulakukan, tetapi segelas plastik itu. Ditambah lagi susu sebotol dan yoghurt yang berukuran sedang itu tandas dicowel bersama roti … busyet deh … pantas saja badan mereka tidak ada yang berukuran L tapi entah berapa L …
Aku seringkali prihatin menyaksikan begitu banyaknya jamaah yang tidak bisa shalat sempurna karena besarnya tubuh mereka. Dari yang tidak bisa duduk diantara dua sujud, tidak bisa berdiri, tidak bisa duduk dengan kaki terlipat jadi harus dengan kaki selonjor, hingga yang harus bekal kursi lipat untuk shalat sambil duduk.
Hampir tidak kutemukan orang Timur Tengah yang bertubuh ramping, kecuali beberapa yang masih muda. Umumnya mereka berbadan lumayan besar. Yang mengesalkan adalah kalau sudah waktunya shalat, tiba-tiba ada yang mendesak masuk diantara kami yang sudah rapi shaf shalatnya, dan kemudian tubuhnya menghabiskan bahkan menyingkirkan badan kita dari barisan shalat. Uuuuuuuhhhh … menghadapi hal ini aku sering mengomel dalam hati … ya karena Cuma mampu mengomel dalam hati pula … mereka umumnya senang menerobos jamaah Indonesia dibandingkan jamaah sebangsanya, karena jamaah Indonesia jarang sekali meributkan hal-hal seperti ini, paling sebatas ngedumel dalam hati atau dalam bahasa sendiri. Apabila mereka menerobos jamaah sebangsanya atau dari Timur Tengah lainnya, pasti terjadi perang mulut.
Terkadang kalau kejadian itu terjadi di depanku dan sudah lumayan keterlaluan, aku akan mencoba mengingatkan “hai shabar ya hajj …” biasanya mereka langsung menerima apabila diingatkan seperti itu … atau seperti kejadian yang sempat kualami dalam umrah ini juga begitu … karena kejadiannya masih di siang hari, saya mencoba mengingatkan “shaum ya hajj …” akhirnya kedua orang yang sedang berbantahan tempat shalat di depanku langsung diam, sedangkan jamaah lain yang berada di dekatnya tersenyum melihat ke arahku dan mengomentari dalam bahasanya sendiri …
… aku jadi geli …
Namun demikian, penduduk Madinah memiliki keramahan yang tidak akan ditemukan pada penduduk Makkah. Iklimnya pun lebih sejuk dibandingkan Makkah. Tanahnya subur dengan perkebunan kurmanya. Mungkin inilah salah satu pengaruh dari aura Rasulullah di Nabawi … mungkin karena lingkungan seperti ini pula, Rasulullah lebih betah tinggal di Madinah … kota Rasul …
Usai berbuka … sekitar 20 menit kemudian muadzin mengumandangkan iqamah dan plastik putih pun secara berantai digulung hingga ke ujung dan diangkut oleh petugas cleaning service yang siap hampir setiap waktu mengangkut dan mengangkat setiap sampah sekecil apapun.