Catatan kecil atas wafatnya ayahku
Hari itu, Kamis 14 Juni 2007. Sekitar pukul 17.00 aku menerima telepon dari ayahku di Jakarta. Beliau menyampaikan bahwa ia baru saja dari dokter, dan dokter yang memeriksanya mendiagnosanya menderita lever dan harus dirawat di rumah sakit. Aku tahu ayahku cukup segan untuk memintaku menjemputnya segera, karenanya ia bilang, kalau tidak sibuk tolong jemput papap hari Sabtu saja. Namun, aku merasakan sesuatu yang lain dan ada semacam dorongan yang tentu Allah hembuskan ke dalam hatiku untuk menjemputnya sesegera mungkin. Setibanya Bang Ais dari kantor, aku merundingkan untuk menjemputnya malam itu juga. Setelah meminta seorang tetanggaku untuk membantu menyupiri mobil, kami berangkat dari rumah ba’da Isya malam itu juga.
Kami tiba di kediaman ayahku sekitar pk 22.30. Aku melihat ayahku sangat pucat dan menguning. Dia mengeluhkan sakit di ulu hati, pusing kepalanya, dan sudah berhari-hari tidak bisa makan. Aku sempat bilang, kenapa papap tidak segera telpon memberitahuku. Beliau menjawab, tidak mau merepotkanku.
Hanya sekitar lima belas menit kemudian, mobil kami sudah meluncur kembali menuju Bandung. Kami langsung menuju UGD RS Al Islam dan tiba di sana sekitar pk 02.00. Dokter jaga mendiagnosa sakit yang diderita ayahku sebagai maag akut, kemudian ia meresepkan beberapa macam obat gastritis. Aku sempat memintanya untuk dilakukan cek darah, namun dokter tersebut menyarankan untuk menghabiskan obat saja dulu, baru kemudian kontrol ke internist. Well, OK, aku nyerah dan manut, kompetensi medis dokter yang lebih tahu, bukan aku yang sarjana hukum. Akhirnya, kami membawa ayahku yang terhuyung-huyung dalam pusing hebatnya, menuju rumah kami yang berada tidak jauh dari RS tersebut. Kami tiba di rumah sekitar pk 03.30. Ayahku tidur di kamar tengah dan kami istirahat sambil menunggu adzan shubuh.
Usai shalat shubuh, Bang Ais sudah siap-siap mengantar Afif, sulung kami, ke sekolah di SMP Istiqomah, Jl. Pahlawan. Mereka berangkat menjelang pk 06.00. Aku menyiapkan diri karena ada rapat di fakultas pk 09.00. Lewat sedikit dari pk 06.00 aku agak heran kok Zaki belum terlihat keluar dari kamarnya, maka aku pun mencoba membangunkannya. Namun, aku sangat terkejut karena kudapati genangan darah di kamar tempat ayahku istirahat yang letaknya berhadapan dengan kamar Zaki. Aku sampai terbengong-bengong menyaksikan pemandangan yang membuatku gemetaran. Aku bertanya-tanya sendiri, “ini darah?”. Masya Allah … kupanggil ayahku yang kuduga sedang di kamar mandi. Lalu aku dan Piyah (asistenku di rumah) secapat mungkin membersihkan genangan darah tersebut, aku khawatir Zaki keluar dari kamarnya dan menyaksikan pemandangan yang pasti akan membuatnya shock. Tidak lama kemudian ayahku membuka pintu kamar mandi, dan kusaksikan di lantai kamar mandipun sudah penuh genangan darah dengan gumpalan-gumpalan hitam kira-kira selebar setengah telapak tangan orang dewasa. Aku benar-benar terhenyak menyaksikan semua ini. Ayahku berdiri dan berpegangan erat pada daun pintu, matanya terpejam menahan sakit. Aku mencoba membantunya, namun ayahku kemudian perlahan terjatuh, aku panik tidak mampu menahan berat tubuh ayahku, aku berteriak memanggil Piyah yang sedang mencuci kain pel yang baru saja dipakai untuk membersihkan lantai. Piyah muncul dan mencoba membantuku menggeser tubuh ayahku ke kamar, tapi tidak mampu. Piyah berlari keluar memanggil siapa saja yang dapat membantu kami. Ya Tuhanku … apakah ayahku akan Engkau jemput saat itu juga? Dengan gemetaran hebat, aku menuntun ayahku untuk melafazkan kalimat tahlil yang suci … Laa illaha illallah muhammadurrasulullah … beliau mengikutiku melafazkan kalimat tahlil itu … (Ya Allah … aku tidak siap … aku tidak berani menghadapi semua ini … jangan tinggalkan aku sendirian … hatiku menjerit dalam kepanikan itu …)
Tidak lama kemudian Piyah datang dengan supir tetangga kami dan seorang pemulung yang sedang lewat di muka rumah kami. Dengan bantuan mereka, kami berhasil menaikkan ayahku ke atas tempat tidur.
Kemudian aku bilang pada ayahku, bahwa kami akan segera membawanya kembali ke UGD. Aku menelpon Bang Ais yang masih dalam perjalanan menuju sekolah Afif, memberitakan keadaan mengejutkan ini. Juga, aku segera menelpon UGD RS Al Islam, dan sedikit mengomeli dokter yang memeriksa ayahku beberapa jam sebelumnya. Kemudian aku meminta sesegera mungkin dikirim ambulans. Setelah bolak-balik kontak bagian ambulans di RS, kemudian aku bersiap diri sambil membujuk Zaki agar mau diantar ke sekolah oleh mbak Piyah dengan becak. Biasanya ia diantar olehku. Alhamdulillah, ia memahami situasi yang dihadapi bundanya dan eyangnya, ia mau diantar oleh mbak Piyah tanpa rewel sedikitpun.
Saat aku kembali lagi menengok keadaan ayahku, dia sudah tidak ada lagi di kamar, dan lantai digenangi lagi oleh darah walau tidak sebanyak sebelumnya. Aku mendengar ayahku muntah di kamar mandi. Saat kubuka pintu kamar mandi yang tidak dikuncinya, ia sedang duduk di kloset, dan lantai kamar mandi benar-benar penuh dengan genangan darah. Masya Allah … aku mengajaknya keluar kamar mandi. Pada saat itu pula Bang Ais memasuki rumah dan segera membantuku memapah ayahku ke tempat tidur. Kubersihkan darah yang berlepotan di sekitar mulut ayahku. Rasanya gemetaranku sempurna sekali. So heartbreaking!! Sambil menunggu ambulans datang, aku membersihkan kamar mandi dari genangan darah, dan memijit tombol flush di closet, kulihat ada kotoran yang hitam. Rasanya ada yang berdetak di hatiku dan jantungku terasa berdebar kencang dengan “tanda” tersebut. Tanganku makin gemetaran. Konon, kotoran hitam pertanda ajal sudah sangat dekat. Tapi aku segera menepisnya jauh-jauh. Aku melihat ayahku makin memucat saja. Pantas saja ia menderita pusing yang hebat, berliter-liter darah dalam tubuhnya sudah keluar menghempas. Aku terus menuntun ayahku untuk dzikrullah … aku tidak tahu … walau dalam keadaan panik, gemetaran, dan hancur … tapi ada energi yang mendorongku menuntun ayahku untuk tidak berhenti mengingat Allah dan Rasulullah …
Menjelang pk 07.30, ambulans datang, dengan dipapah supir ambulans dan suamiku, kami membawanya kembali menuju UGD RS Al Islam. Kami bertemu dokter yang memeriksa ayahku beberapa jam sebelumnya. Rasanya aku sudah tidak mau menjelaskan keadaan yang dihadapi ayahku kepadanya, aku kecewa dengan kesalahan diagnosa awalnya. Namun demikian, aku juga dapat memaklumi diagnosanya karena ayahku memang tidak menginformasikan apa-apa selain nyeri di ulu hatinya dan muntah (tanpa embel-embel muntah darah). Kemudian dilakukan cek darah, ekg, dan rontgen thorax. Sambil menunggu semua itu, aku menelpon keluarga ayahku, dan kuminta kedatangan mereka semua segera. Setelah beres, sekitar pk 09.00 kami memasuki kamar perawatan di lantai 5. Kami sudah meminta ruang di lantai 1, namun saat itu yang tersedia hanya satu tempat tidur di sebuah kamar di lantai 5.
Sekitar pk 10.00, dokter internist memeriksa ayahku di ruang perawatan. Hasil laboratorium menunjukkan HB yang sangat rendah yaitu 3,2 dan beberapa indikator yang menujukkan kerusakan fungsi hati. Pada saat dokter memeriksa, bicara ayahku terdengar agak pelo, aku juga melihat lidahnya agak tertarik ke dalam. Dokter menjelaskan bahwa itu sebagai akibat adanya stroke ringan karena kurangnya oksigen ke otak akibat berkurangnya suplai darah. Dokter menginstruksikan tranfusi darah dan akan dilakukan tindakan medis lainnya lebih lanjut. Bang Ais segera menjemput darah di PMI.
Sekitar pk 11.00, datang Mamih Mien (kakak ayahku), teh Nina (sepupuku), aa Hadi (sepupuku) dan isterinya (teh Diah). Saat mereka datang, ayahku terlihat bahagia dan bicaranya tidak pelo lagi. Setelah memberikan doa dan semangat kepada ayahku, mereka pulang menjelang waktu jumatan.
Sebelum adzan Jum’at, kulihat ayahku shalat sambil berbaring. Pada waktu Jum’atan, ayahku hendak buang air kecil, tapi karena perawat laki-laki sedang pergi jumatan, terpaksa ayahku menahannya. Segera setelah perawat laki-laki kembali dari jumatan, , aku meminta perawat membantu ayahku buang air kecil dan sekalian membersihkan ayahku dari bercak-bercak darah bekas muntahnya tadi pagi dan mengganti baju beliau dengan baju bersih milik rumah sakit.
Menjelang pk 13.30, aku memberikan obat untuk meredakan sakit di perutnya yang sudah disediakan perawat untuk diminum oleh ayahku. Aku menjelaskan terlebih dahulu, bahwa ada 2 tablet kecil dan 2 sendok obat cair yang harus diminum beliau. Kutaruh obat itu satu persatu ke dalam mulutnya yang sudah sangat pucat dan kuberikan air zam-zam di botol melalui sedotan. Sambil meminumkan air zam-zam tersebut, aku sempat bilang, “pap, ini air zam-zam yang mbak bawa waktu umrah lalu, nanti papap ambil sendiri air zam-zamnya di sana ya” … maksudnya kan beliau hendak pergi menunaikan ibadah haji, jadi nanti beliau bisa ambil sendiri air zam-zamnya di tanah suci …
Usai minum obat, aku memberikan tasbih kecil ke tangan kanannya dan ayahku bilang hendak shalat ashar dulu, kusampaikan bahwa waktunya belum masuk. Tapi ayahku menjawab bahwa ia baru saja mendengar adzannya. Kubiarkan ayahku melakukan shalat. Aku duduk di kursi di hadapan tempat tidurnya sambil membaca buku guruku, “Membuka Tujuh Pintu Surga, Menutup Tujuh Pintu Neraka”. Sambil memantau keluarga lain yang masih dalam perjalanan menuju rumah sakit dan juga suamiku yang sedang mengurus darah yang baru diambilnya di PMI, aku merasakan diriku agak gelisah. Adikku De Lia sudah menemaniku sejak sekitar sejam sebelumnya. Lalu kami gantian duduk, De Lia yang duduk di kursi sedangkan aku duduk di lantai. Kamar Kelas IB tidak menyediakan ekstra kursi untuk penunggu. Kami sempat meminta kamar yang jauh lebih baik, namun yang tersedia kosong hanya ini yang terbaik. De Lia yang sedang membaca koran sempat melihat ayahku menoleh dua kali ke arah pintu di samping kursi tempat De Lia duduk, dan De Lia bilang, “tidur aja ya pap, istirahat dulu”
Tidak lama kemudian, menjelang pk 14.00 Ance adik bungsuku tiba, dan ayahku sedang dalam keadaan lelap tertidur. Ance tidak hendak mengganggu tidur ayahku, karenanya dia menyalamiku dan Delia. Baru sekitar lima menit kami saling bertukar informasi, kami mendengar suara ngorok. Mulanya kupikir ayahku sangat lelah sehingga tidurnya mengorok seperti kebiasaannya, namun kuperhatikan ngoroknya kok sangat lain, ada nafas tersengal, langsung kupijit bel emergency dan meminta kedua adikku memanggil perawat. Dalam waktu sekejap, beberapa perawat dan seorang dokter jaga ruangan melakukan tindakan yang membuatku tercengang. Seorang perawat langsung naik ke tempat tidur dan kedua tangannya menekan dada ayahku, perawat lainnya memasukkan selang oksigen ke hidung ayahku, alat-alat bantu dan indikator lainnya mulai dipasang. Ini kan resusitasi ? … aku mulai bertanya-tanya dalam kebingungan luar biasa … artinya … ayahku sedang sangat sangat kritis …
Suasana tiba-tiba mencekam saat dokter dan perawat menuntun membacakan kalimat tahlil … Laa illahaillallah … aku dan kedua adikku panik … kami bergantian membisikkan kalimat tahlil tersebut ke telinga ayah kami … aku menggumamkan labbaikallahumma labbaik … dan memberi semangat kepada ayah kami untuk berjuang dan mengingatkannya pada niat hajinya … Ya Allah … kenapa ini … ayahku kan hendak mengunjungiMu tahun ini … izinkan ia untuk menemuiMu dengan sukarela di baitMu … Ya Rabbi … jangan Engkau muliakan aku sebelum Engkau muliakan ayahku ini … cemas dan harap lebur dalam bait-bait doa yang kudawamkan … aku juga terus mengontak beberapa keluarga ayahku … mereka sedang dalam perjalanan … kondisi ayahku benar-benar kritis … nafas spontan belum muncul juga … aku bersama kedua adikku sudah bertangisan … menyaksikan beberapa perawat dan dokter yang terus memperjuangkan nyawa ayahku … aku sempat mengontak beberapa keluarga juga Bang Ais (yang sedang dalam perjalanan membawa darah dari PMI) memberitahukan kondisi ayahku ini yang masih sedang diperjuangkan oleh tim medis … hingga akhirnya muncul detak dan nafas spontan yang sangat lemah … subhanallah …
Tidak lama kemudian, Mamah Hj. Nani, kakak tertua ayahku datang didampingi putra-putrinya … diikuti munculnya keluarga lainnya … termasuk ibuku dan Bang Ais … dan waktu terus bergulir dengan ketegangan dan suasana mencekam di ruangan tersebut … ketika detak dan nafas spontannya mulai menguat … dokter merencanakan tindakan berikutnya yaitu memindahkan ayahku ke ruang ICU … namun sambil terus memantau perkembangan ayahku … ternyata pemindahan terpaksa ditunda dulu karena sedang ada pasien gawat di ICU tersebut … jadilah kami menunggu untuk pindah ke ICU … tranfusi belum bisa dilakukan karena darah masih dalam keadaan terlalu dingin … sambil menunggu darah cukup hangat untuk ditransfusikan ke nadi ayahku … keluarga bergantian membisikkan berbagai hal ke telinga ayahku … termasuk ibuku … semoga kalian berdua saling memaafkan … dan Allah meridhoinya …
Belum juga tenang … ayahku drop lagi … upaya penyelamatan kedua dilakukan … saat kemudian detaknya kembali muncul dengan nafas spontan yang jauh lebih lemah dari sebelumnya … tranfusi darah segera dilakukan … di sinilah dokter memberikan kami pilihan sulit … dia menjelaskan bahwa kondisi ayahku sebenarnya sudah sangat buruk … apabila dipindah ke ICU pun sebenarnya sangat tipis harapannya mengingat perkiraan kerusakan otak akibat kurangnya oksigen dan darah … jadi, pilihannya pindah ke ICU dan menerima segala konskuensi yang sangat tentatif ATAU tetap tinggal di ruangan dan melanjutkan tindakan resusitasi … teh Yani sepupuku yang hadir saat itu kebetulan perawat di RSHS, ia mencoba memberikan gambaran bahwa apa yang disampaikan dokter benar adanya, ia menyarankan untuk tinggal di ruangan saja tetapi bisa ditemani oleh seluruh keluarga yang menuntun ayahku dengan kalimat-kalimat tahlil, dibandingkan pindah ke ICU yang relatif percuma secara medis dan yang bisa menemani hanya dua orang saja. Akhirnya setelah berunding, keluarga memutuskan untuk menemani ayahku menjelang ajalnya di ruangan tersebut. Aku juga meminta bantuan ibu & budeku membelikan sejumlah nasi bungkus untuk dibagikan sebagai sedekah … Tapi kemudian ibuku harus kami panggil kembali ke ruangan karena ayahku benar-benar kritis … lalu kuminta Bang Ais menjemput Afif & Zaki di rumah kami …
Ruangan dipenuhi gema tahlil keluarga kami … dan dalam penantian tersebut, aku teringat belum shalat ashar … namun aku juga khawatir ayahku meninggalkanku saat aku shalat … lalu aku berusaha “berdamai” dengan keadaan saat itu: ayahku sangat kritis dan aku belum menunaikan kewajibanku … baiklah Ya Allah … aku akan shalat ashar … apabila Engkau perintahkan kepada malaikatMu untuk menjemput ayahku pada saat aku shalat, aku ridho … aku yakin pada Keluasan ampunanMu, Kelembutan kasih sayangMu, Kemurahan cintaMu, aku yakin Engkau muliakan ayahku dengan cara terbaikMu, aku titipkan ayahku padaMu sementara aku menjalankan kewajibanku padaMu … Engkaulah sebaik-baiknya tempat untuk menitipkan …
Aku shalat bersama kedua sepupuku lainnya di mushala yang terletak di depan kamar ayahku berbaring dalam deritanya … seingatku aku melaksanakan shalat sunat qabla ashar terlebih dahulu baru shalat ashar … dan kupanjangkan sujud terakhirku …
Mungkin waktunya sekitar 15-20 menitan berikutnya … hingga akhirnya saat aku mengucap salam … di hadapanku sudah bersimpuh ibuku memberitakan bahwa ayahku sudah benar-benar tiada … kuucap innalillahi wa inna illaihi raji’un … kulipat mukena & sajadahku dengan berurai air mata duka … aku melangkah menjenguk ayahku yang sudah ditutupi kain putih dan keluargaku sebagian sudah berada di luar kamar … Ya Rabbi … ampuni ayahku … lipatgandakan amalnya … muliakan ia disisiMu … anugerahkan semua itu hanya dengan andalan kami yaitu kasih sayangMu semata …
Kulihat damai di wajah ayahku … hilang sudah sakit yang dideritanya … selamat jalan ya pap … semoga kepulangan terpaksa-mu ini dalam keadaan khusnul khatimah …
Kukabarkan wafatnya ayahku ini kepada Bang Ais yang baru saja tiba di rumah, yang selanjutnya diputuskan Afif & Zaki menunggu di rumah, dan tetangga2 mulai membantu menyiapkan rumah kami untuk menerima jenazah ayahku. Setelah beres, Bang Ais kembali ke RS sambil membawa kain ihram (suvenir dari bank) yang sudah kuambil hari Selasa minggu sebelumnya.
Keluarga berembuk mengenai tempat pemakaman, akhirnya semua sepakat untuk mengikuti semacam keinginan yang pernah terlontar ayahku yaitu untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di Leles, Garut. Malam itu jenazah akan disemayamkan di rumahku. Aku segera mengontak kampus untuk memperoleh pinjaman ambulans yang akan membawa jenazah ayahku dari rumah sakit ke masjid dekat rumahku untuk dishalatkan di sana, kemudian membawanya dari masjid tersebut ke rumahku, dan mengantarnya esok pagi dari rumahku ke tempat peristirahatan terkahir di Leles, Garut. Alhamdulillah, ambulans & supirnya ada dan dalam waktu singkat sudah siap di RS Al Islam.
Ibuku ditemani budeku pergi ke rumahku untuk mempersiapkan segalanya dengan bantuan tetangga2ku. Aku sangat berterima kasih kepada tetangga2ku yang dengan ringannya membantu kami sekeluarga.
Aku dan kedua adikku turut memandikan ayahku … ya ayahku … dulu mungkin kau sempat memandikan kami saat kami masih bayi … sekarang giliran kami memandikanmu sebelum menghadap Sang Khalik …
Betapa kecilnya diriku untuk memahami peristiwa kematian ini. Seiring berjalannya waktu, Allah terus membantuku untuk menemukan hikmah-hikmah yang mendalam atas peristiwa alam ini, terutama menemukan makna dan pandangan baru atas ayahku …