Blog EntryKupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [4]Jun 3, '07 10:00 PM
for everyone

Kupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [4]

Usai shalat sunnat thawaf, kami melangkah menuju area zam-zam. Pada tahun sebelumnya, ada tangga untuk menuju ke sumur zam-zam yang letaknya di bawah area/pelataran untuk melakukan thawaf. Namun kemudian pemerintah Saudi menutup area tersebut untuk memperluas area thawaf seiring dengan meningkat pesatnya jamaah haji dari tahun ke tahun. Pada tahun keberangkatanku itulah pertama kali jamaah haji tidak lagi dapat menyaksikan sumur zam-zam tersebut. Menurut cerita para jamaah haji sebelumnya, termasuk kedua orang tua suamiku, mereka bisa puas mengambil air zam-zam dari sumbernya langsung. Ada juga yang sekalian mandi di sana. Wah … asyik juga ya … Walau kami tidak mungkin mengalami hal itu, kami bersyukur bisa mengambil air zam-zam sepuasnya dari keran-keran yang cukup banyak tersedia di pelataran Ka’bah itu. Puas pula menyiramkan beberapa gelas air ke kepala, atau untuk sekedar berwudhu.

Inilah air yang terpancar karena ketukan kaki Nabi Ismail. . Jawaban Allah yang sangat menyejukkan atas pertanyaan akan ujian dan perjuangan Siti Hajar untuk memperoleh ridho Illahi. Inilah pemuas dahaga atas kehausan jiwa dalam pencarian menujuNya.

Sambil menghadap ke Ka’bah, kami membacakan permohonan ini:

“Ya Allah, aku mohonkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat,

rezeki yang lapang,

dan kesembuhan dari segala penyakit,

dengan rahmatMu ya Allah Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi”

Kemudian kami meminum air zam-zam itu sambil memandangi Ka’bah … dan air mata yang terus meleleh tak terbendung … menyadari dan mensyukuri semua nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kami …

Suasana saat itu sudah sedemikian padat oleh jamaah haji dari berbagai negara … Subhanallah … Engkau memanggilnya … dan mereka datang dari berbagai negeri yang jauh memenuhi panggilanMu itu … mereka rela bersakit-sakit untuk menggapai ridhoMu …

Hari itu mulai siang … matahari mulai memancarkan panasnya yang terasa agak terik … kami berdua pun bergegas menuju area sa’i … untuk menyelesaikan tahap akhir ritual umrah wajib kami.

Inilah sa’i … lambang dari sebuah pencarian. Dari buku Syari’ati yang kubaca pada halaman 46-48 dijelaskan bahwa sa’i merupakan gerakan yang memiliki tujuan dan digambarkan dengan gerak berlari-lari dan bergegas. Ketika thawaf, kita berperan sebagai Siti Hajar, dan ketika berada di Maqam Ibrahim, kita berperan sebagai Ibrahim, dan pada sa’i ini, adalah untuk kedua kalinya kita berperan sebagai Siti Hajar. Kita berperan sebagai budak perempuan dari Ethiopia yang hina dan menghamba kepada Sarah. Ini menunjukkan kualifikasi dalam sistem sosial manusia. Sahaya perempuan ini memiliki hubungan istimewa dengan Allah. Dialah ibu dari para nabi-Nya dan dialah wakil dari setiap makhlukNya yang cantik jelita. Dalam pertunjukan haji ini, Hajar adalah pribadi terpenting, sedang di dalam rumah Allah ini ia adalah satu-satunya wanita, seorang ibu. Allah menyuruh Hajar untuk patuh kepadaNya dan Dia akan memelihara Hajar beserta puteranya, memenuhi segala kebutuhan mereka dan menjamin masa depan mereka. Siti Hajar adalah teladan kepasrahan dan kepatuhan yang sangat teguh dalam keyakinan dan yang bersandar kepada cinta. Ia tinggalkan puteranya di lembah itu untuk mencari air. Ia berlari-lari dari satu bukit tandus (Shafa) ke bukit tandus lainnya (Marwah). Dalam proses ini ada pengharapan yang sangat kuat dalam dirinya.

Dalam keterbatasan pemahamanku atas filosofi sa’i ini, aku mencoba menghidupkan sejarah tersebut dalam perjalanan sa’i yang kami lakukan … aku mengenang semua perjuangan yang pernah kulalui dalam cemas dan harap … sa’i kami menjadi sarat makna personal … betapa Allah sudah mengajariku kehidupan itu … melalui kepedihan, kepahitan, dan kepiluan yang kualami walau harus dengan jumpalitan sekalipun … semua itu menjadi tidak ada artinya dibandingkan hadiah Allah atas kehidupan perkawinanku yang sakinah, mawaddah dan warahmah (damai, penuh cinta dan kasih) … segala kebahagiaan lain yang Allah hadirkan setelah aku menikah …

Dengan merefleksi semua itu … bagaimana mungkin aku melalui sa’i ini dengan datar-datar saja … aku akan menjadi orang yang keterlaluan apabila tidak mau dan tidak mampu belajar bersyukur …  oleh karenanya … terima kasih ya Rabbi atas hidup yang telah Engkau rancang untukku.

Sa’i berakhir di Marwah, dengan menghadap Ka’bah kami bacakan doa:

“Ya Allah, karuniakanlah kami haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, amal shalih yang diterima, dan usaha yang tidak akan merugi. Ya Allah yang mengetahui segala hal yang terkandung dalam hati sanubari, keluarkanlah kami dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah, kami mohonkan kepadaMu segala hal yang mendatangkan rahmatMu dan segala ampunanMu, bebas dari segala dosa dan berbagahagia memperoleh surga, terhindar dari siksa neraka. Tuhanku, puaskanlah kami dengan anugerah yang telah Engkau berikan, berkatilah anugerahMu kepadaku dan gantilah yang hilang dari padaku dengan kebajikan dariMu”

(Doa ini juga kemudian, insya Allah, menjadi amalanku setiap usai shalat hingga sekarang)

Setelah puas mengucapkan berbagai permohonan lainnya, kami menutup prosesi umrah ini dengan tahalul yaitu memotong rambut kami. Bang Ais minta tolong jamaah lain yang sudah selesai melakukan taksir/potong rambut, untuk mengguntingkan rambutnya. Barulah kemudian Bang Ais memotongkan rambutku. Aku menangis saat mendengar suara Bang Ais  di belakangku memotong rambutku sambil membacakan doa:

“Ya Allah, berikan untuknya dari setiap rambut ini

cahaya pada hari kiamat”

(selesai deh ... )

 




8 Comments
anak2malam wrote on Jun 3, '07
mampir bentar yah
rinis wrote on Jun 4, '07, edited on Jun 4, '07
Subhanallah di tanah suci itu percaya ga percaya suka ada kejadian yg di luar nalar .....
Mimpi & harapan saya ziarah ke sana lagi satu hari nanti Insya ALLAH, Amin
Cantik si background-nya
ceumimin wrote on Jun 4, '07
Teh, senang banget ya pengalaman hajinya, saya thn 1998 naik kapal laut, he he he, kan dekat dari mesir, dah gitu pulangnya ada badai, jadi goyang2 diterjang badai, tapi Alhamdulillah bersyukur sudah haji...
ratnajanuarita wrote on Jun 4, '07, edited on Jun 4, '07
>rinis: insya Allah ... undangan Allah itu akan datang pada waktu yang tepat ... semoga Allah segerakan ya ...

>ceumimin: alhamdulillah ... semoga Allah mengudang kita kembali ... juga menyegerakan undanganNya bagi saudara-saudara muslim yang belum beroleh rezeki (usia, kesehatan, waktu, dan dana) untuk menunaikannya ...

>anak2malam: terima kasih atas kunjungannya ...
ceumimin wrote on Jun 5, '07
Makasih teh do'anya..untuk waktu dekat mudah2an bisa berumroh dengan anak2 untuk haji Insya Allah kalo anak2 sudah baligh...Sekali lagi terimakasih do'anya...
ratnajanuarita wrote on Jun 8, '07, edited on Jun 8, '07
sewaktu kami umrah tahun lalu, ada kebahagiaan yang tidak dapat saya gambarkan dengan kata-kata, yang terasa saat kami shalat bersama anak2 ... langsung di depan Ka'bah ... hanya bisa dirasakan ... sulit dijelaskan ... (didu'akeun ti bandung ...)
renayulia wrote on Jun 20, '07
aduuuuh...jd pengen naik haji, doain ya bu...
ratnajanuarita wrote on Jun 25, '07
insya Allah didoakan ... tapi niat dan upayanya juga harus ditumbuhkan ... segera buka rekening haji dan dawamkan doa yang pernah saya bagikan ... insya Allah dibukakan pintu-pintu rezeki yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help