Blog EntryHari itu aku mulai berkerudungMay 23, '07 7:53 PM
for everyone

Hari itu aku mulai berkerudung

Setiap tanggal 30 September, biasanya ada yang memperingati hari G30S PKI. Tetapi tanggal yang sama pada tahun 1993, seorang perempuan berusia 24 tahun sudah sibuk sejak usai shalat shubuh di depan kaca mematut kepalanya dengan kerudung warna kuning lembut yang dipinjamnya dari adiknya. Dia sedang latihan mengenakan kerudung. Miring terlalu ke kiri … terlalu ke kanan … pipi terlihat mencos … tidak simetris … buka lagi … pasang lagi … peniti dimasukkan … duh … ketusuk pula … ya Tuhan … dia menarik nafas dalam-dalam dan dihembus perlahan … akhirnya dia pasang lagi perlahan dan seakan tidak perduli akan terlihat seperti apa, ia pasang peniti di pertemuan dua sisi kain kerudung di dagunya. Dia pandang sekali lagi wajahnya di cermin, dan tersenyum puas. Inilah aku dengan kerudung pinjaman.

Ya … hari itu adalah hari pertamaku memakai kerudung, sebagai pemenuh nadzarku atas dipinangnya diriku kemarin malam (29 September 1993) oleh Muhammad Haris Lubis.

Kedua adikku memelukku sebagai ucapan selamat atas keputusanku memulai hari baru ini. De Lia sudah berkerudung jauh sebelumnya, sedangkan Ance berkerudung beberapa tahun kemudian setelah aku. Ibuku memberikan restu dan dukungan walau beliau sendiri masih belum stabil dalam beragama. Bang Ais calon suamiku pada waktu itu juga sudah kuberitahu sebelumnya, dan diapun memberikan dukungannya.

Hari itu aku harus hadir di kelas Hukum Ekonomi Pembangunan di FH UNISBA. Statusku di UNISBA saat itu masih sebagai tenaga pengajar, yaitu tingkat paling awal sebagai dosen dan waktu itu aku baru 30 hari ‘beredar’ di kampus tersebut. Gaji pertama pun belum kuterima. Jadi pada waktu itu aku masih menjalani kewajiban hadir kuliah yang diberikan oleh Pembina atau Seniorku. Ketika aku memasuki ruang dosen, sambutan teman-teman melihat penampilan baruku ya macam-macam. Ada yang menyenangkan, menentramkan, memberikan dukungan, dan ada juga yang membuatku jengah. Dari mulai memberikan selamat, bertanya alasan pendorong berkerudung, hingga menyesalkan keputusanku berekerudung. Saat itu, memang belum terlalu banyak perempuan yang mengenakan kerudung, bahkan di UNISBA sekalipun. Tidak seperti sekarang, kerudung sudah menjadi salah satu tren dan mode. Sambutan beragam juga kualami ketika aku memasuki kelas … wah mahasiswa banyak yang suit-suit dan berkomentar nakal dengan penampilan baruku ini … aku cengar-cengir salah tingkah di depan kelas di hadapan puluhan mahasiswa …

Awalnya … aku sering mendengarkan ceramah Kang Aam Amirudin di acara Percikan Iman di Radio OZ. Dari berbagai tausiyahnya dan beberapa buku rujukan tentang jilbab, aku mulai memahami bahwa berkerudung adalah hal yang wajib dilakukan. Aku juga mencoba menemukan alasan dari beberapa tokoh panutan Islam yang tidak menganjurkan keluarganya berkerudung. Paling tidak, aku mempunyai dua wawasan yang berbeda untuk satu hal yang sama. Keduanya mempunyai dalil masing-masing. Aku dengan keterbatasan pengetahuan dan keimanan mencoba memilih untuk berkerudung, dengan beberapa alasan pribadi antara lain untuk lebih menutup aurat, tidak memberiku peluang tampil seksi, dan yang terpenting, sebagai alarm bagi diriku apabila suatu saat aku mencoba berbuat maksiat dan durhaka pada Allah.

Berpakaian panjang menutupi tangan dan kaki serta berkerudung sebetulnya merupakan pilihan dalam berpakaian. Siapapun boleh berpendapat berbeda dengan pemahamanku ini. Pengamatan dan pengalaman mengajarkanku bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar berpakaian seperti ini, yaitu hati yang bersih. Tidak sedikit kutemukan perempuan yang berkerudung tetapi masih bergunjing, iri dan dengki, bahkan merencanakan berbagai kebusukan. Pernah pula kubaca sebuah kisah nyata tentang pengalaman buruk seorang muslimah yang tidak berkerudung tinggal di rumah kost yang mayoritas penghuninya muslimah dengan baju abaya/gamish dan kerudung panjang. Muslimah tidak berkerudung ini memilih rumah kost ini dengan harapan ia bisa merasakan ketentraman tinggal di tengah muslimah dan bisa belajar banyak dari mereka. Namun yang dialaminya justru menyedihkan. Ia dikucilkan oleh muslimah yang sudah merasa suci dengan pakaiannya ini. Akhirnya, ia memutuskan pindah ke rumah kost lain yang dihuni oleh perempuan-perempuan berbeda agama dan ternyata ia merasakan ketentraman di sana. Ia tidak merasakan dipandang sebelah mata sebagai orang yang paling tidak beragama.

Dengan disampaikannya kisah ini, sama sekali tidak kumaksudkan posisi diriku seperti apa. Aku tidak lebih mulia dari perempuan manapun yang tidak berkerudung, tetapi mudah-mudahan pula tidak lebih buruk dari perempuan yang lebih sempurna dalam berpakaian & berkerudung. Karena, esensinya tidak di cara berpakaian dan berkerudung, tapi pada cita-cita untuk meraih hati yang bersih dan upaya-upaya untuk mewujudkannya.

Sebagaimana niat awalku berkerudung adalah untuk mensucikan hatiku dari laki-laki lain selain Bang Ais yang sudah melamarku sehari sebelumnya. Semoga niat ini bisa terus kuhidupkan hingga aku bisa mencapai cita-citaku berikutnya untuk mensucikan hati demi Tuhanku. Aku tahu ini sama sekali bukan hal mudah untuk orang sepertiku. Semoga ihram-ihram yang pernah kukenakan di tanah suci, menjadi semangat yang selalu mengingatkanku untuk mewujudkan hati yang berihram … untuk Allah Ta’ala …




18 Comments
karelkemal wrote on May 23, '07
Rit, aku percaya memakai atau tidak jilbab adalah pilihan hidup seseorang yang patut dihargai... sebagaimana halnya sesorang menjalankan kewajibannya. Semua berpulang kehati masing2. Meski Kemal bungsuku ribut terus pingin bundanya berkerudung tapi suami belum ridho, nanti ya katanya. Hatipun belum mantap. Baca tulisanmu aku jd inget cerita Tri Utami di Femina mengenai alasannya membuka kerudung, ktnya : begitu saya memakai kerudung saya merasa "lebih tinggi" daripada yg tidak memakai, merasa selalu benar dan memandang rendah yg lain. Inginnya ngajarin org aja, pdhl ternyata diri sendiri belum sempurna. Nah, rasanya kalo hati belum mantap dipagari memang belum cocok aurat ditutupi. Terjadi persis pada sepupuku yg bermulut tajam, thl lalu pake kerudung baru saja kita mensyukuri tiba2 saja dia bilang : emang abis di kompleks gw di papua yg gak pake tuh yg murtad2 aja........ Masya ALLAH.... penampilan berubah tapi hati & mulut tetap sama....... Tulisan ini gakda maksud apa2 loh rit, aku senang aja kamu dapat hidayah disaat yg muda sekali.... selamat yah bu.....
ratnajanuarita wrote on May 24, '07
Sejujurnya aku setuju sekali dengan pendapat neng geulis ini ... esensinya bukan di kerudung tapi di hati. Tidak sedikit yang berkerudung tapi hatinya busuk, tetapi yang tidak berkerudung berhati mulia. Ukurannya tidak di kerudung. Kita (termasuk saya lho jeng) sering terjebak dengan kerudungnya. Seyogyanya kerudung tidak menjadi ukuran. Dalam pemahaman awamku kerudung hanya sebuah simbol saja (mungkin ada juga yang berbeda pendapat soal ini nih). Ada makna yang lebih tinggi dari sekedar mengenakan kerudung. Guru-guru saya banyak yang mengajari untuk tidak berhenti pada tataran syariat yang seringkali implementasinya berbeda satu sama lain , tetapi harus mau mendaki ke tataran hakikat. Dan hakikat itu tidak mudah dicapai. Aku juga gak tau Tih hatiku seperti apa ... yang pasti kerudung itu hanya salah satu cara saja untuk mendidik diriku sendiri. Aku mah senang dengan komentarmu Tih ... malah menguatkan tulisanku hehe ... suwun yo ... paling tidak ... dengan kerudung aku selalu ngingetin diri sendiri ...
karelkemal wrote on May 24, '07
Siiiippp, bu.... Hehehe, tapi MasyaAllah, aku kagum banget loh rit.... waktu reuni kita itu banyak sekali yang sudah berkerudung.... Alhamdulillah, semoga semuanya sejalan antara tindak tanduk, tingkah laku, isi hati dan penampilan ya..... Semoga semua bisa mendapatkan hidayah seperti yang Rita udah dapetin....
ratnajanuarita wrote on May 24, '07
btw ... aku mau jadi sahabatnya kemal ah ... kayaknya bener2 pengen cubit dia nih ... dia seumuran dengan zaki ... tapi kemal ndut ya ... zaki kurus sejak kutinggal ke ozi ... ibunya tidak bertanggungjawab ... hehe
karelkemal wrote on May 24, '07
Kemal itu "nduT" kayak ibunya hehehehe..... kalo Karel lebih langsing kayak bapaknya... Mana Karel anak pertama, dirawat dengan penuh kehati-hatian, masih probation toh hahahaha....... Kita malah senewen dengan ke"besar"an badan Kemal, sekaligus gemes abis dia lucu [ih... ibu sendiri maunya muji2 anak sendiri]. Btw, InsyaAllah nanti liburan sekolah kalo aku sama anak2 ke Bdg, kita janjian ketemuan yah rit... bawa anak2 juga.... Seru kali...
ratnajanuarita wrote on May 24, '07
kayaknya waktu reuni kamu gak ndut ah ... malah terlihat segar ... memang dasarnya ratih mah cheerful ya ... kalo ke bdg pls info ya ... anak2 bisa renang di mana gitu ... terus ibu-ibunya pada rumpi ... kita bisa ajak temen2 lain join biar rame. saya masih suka ketemu ati & ina. beberapa hari lalu ati info dia sedang hamil lho ... anak kedua
ceumimin wrote on May 26, '07
Selamat ya bu berkerudung di usia muda n tanpa paksaan, penuh persiapan, n berbenah diri tuk yg terbaik, n tentu apapun juga kalo ibadah tergantung niatnya, ada berita miring tuk org yg berjilbab do'akan aja Allah beri petunjuk. Karena jilbab bertengger di kepala pertanda iman di dada.... Untuk merasa benar dengan apa yg dilakukan memang harus, tapi itulah jaga diri n tidak riya mestinya itu yg dilakukan Trie Utami..Semoga dia kembali..
ratnajanuarita wrote on May 26, '07
alhamdulillah ... hidayah itu semata-mata dari Allah saja ... tidak ada apapun yang pantas dinisbahkan pada diri saya pribadi ... jilbab/kerudung ini menjadi alarm kalau saya mulai melenceng ... semoga keyakinan akan kebenaran yang dilakukan tidak menjadikan kita menjadi orang yang "tinggi sebenang" ... nuhun ceu ...
faysal77 wrote on Feb 20, edited on Feb 21
mbak ratna apa pendapat mbak,
Ada artis berjilbab hampir seluruh tubuh tapi di buka dan lebih ironis malah makai tanktop. alasannya berjilbab merasa gak nyaman karena hatinya belum berjilbab, kemudian artis bolak-balik naik haji tapi kelakuan dan pakaian lebih jahiliyah dari jahiliyah sendiri , aku bukan berperangsangka buruk dan bukan juga merasa aku sangat lebih baik, tapi kenyataannya seperti itu dan syariat tidak memperbolehkan begitu kan mbak, apa komentar mbak ratna. jengah liat artis ngakunya muslim. tapi salut bener sama Inekke Kus. apa itu namamnya hidayah yang diberikan dan diambil kembali mbak?
jandra22 wrote on May 23
Teh Rita, bagus juga niatnya berkerudung tanpa diawali oleh sesuatu yang tidak baik, juga tidak karena kepengin tampil beda. Kisah saya lain lagi. Ada di bundel.multiply dengan judul "Kisah Jilbab di Kepala Saya". Alasan saya sungguh beda dari teh Rita. Selamat ya teh, udah jadi muslimah yang baik untuk teladan banyak orang.
ratnajanuarita wrote on May 23
mbak ratna apa pendapat mbak,
Ada artis berjilbab hampir seluruh tubuh tapi di buka dan lebih ironis malah makai tanktop. alasannya berjilbab merasa gak nyaman karena hatinya belum berjilbab, kemudian artis bolak-balik naik haji tapi kelakuan dan pakaian lebih jahiliyah dari jahiliyah sendiri , aku bukan berperangsangka buruk dan bukan juga merasa aku sangat lebih baik, tapi kenyataannya seperti itu dan syariat tidak memperbolehkan begitu kan mbak, apa komentar mbak ratna. jengah liat artis ngakunya muslim. tapi salut bener sama Inekke Kus. apa itu namamnya hidayah yang diberikan dan diambil kembali mbak?
de faysal ... mbak gak berani menilai soal ini-itu yang de faysal tanyakan ... mbak kira, semua itu wilayah kewenangan Allah saja yang paling layak menilai siapapun hamba-Nya ...
ratnajanuarita wrote on May 23
Teh Rita, bagus juga niatnya berkerudung tanpa diawali oleh sesuatu yang tidak baik, juga tidak karena kepengin tampil beda. Kisah saya lain lagi. Ada di bundel.multiply dengan judul "Kisah Jilbab di Kepala Saya". Alasan saya sungguh beda dari teh Rita. Selamat ya teh, udah jadi muslimah yang baik untuk teladan banyak orang.
insya Allah mbak julie ... semua semata-mata karena hadiah hidayah Allah ta'ala ...
umenohana wrote on May 24, edited on May 24

Jadi teringat pengalaman pertama berjilbab di tahun1991, Dekan fakultas tempat saya menuntut ilmu yang masih berdarah Arab pun, turut menyambut penampilan baru dengan memanggil saya "Ninja"...^_^
ratnajanuarita wrote on May 26

Jadi teringat pengalaman pertama berjilbab di tahun1991, Dekan fakultas tempat saya menuntut ilmu yang masih berdarah Arab pun, turut menyambut penampilan baru dengan memanggil saya "Ninja"...^_^
ikut prihatin mbak dayang ... memang pada masa itu masih cukup jarang orang yang berkerudung ... di rumah kami pun adik saya sudah mengenakan kerudung + gamis pada tahun 1990. dia aktif di fpmipa ikip.
balqmunk wrote on May 31
Jadi keinget saya...
dulu waktu masih kerja di kantor, temen2 kantor yang wanita, yang belum berjilbab, sempet saya tawarin jilbab gratis, asal dipake tiap ari, minimal ke kantor...
sayangnya, sampe saya out dari kantor, ga ada yang mau...
hiks... T_T
ratnajanuarita wrote on May 31
Jadi keinget saya...
dulu waktu masih kerja di kantor, temen2 kantor yang wanita, yang belum berjilbab, sempet saya tawarin jilbab gratis, asal dipake tiap ari, minimal ke kantor...
sayangnya, sampe saya out dari kantor, ga ada yang mau...
hiks... T_T
saya meyakini bahwa hidayah itu harus dijemput, tidak semata-mata ditunggu :-) jadi nampaknya memang harus dari diri sendiri :-)
babyhakunamatata wrote on Jul 9
teh, kathy pake kerudung dulu semata-mata karena merasa saya muslimah, dan punya kewajiban untuk menutup aurat saya. insya allah, itu step pertama saya untuk terus belajar dan bertingkah laku dengan baik. tidak ada niatan ingin jadi orang yang lebih dari orang yang belum pakai kerudung. semua kathy serahkan pada Allah semata....
ratnajanuarita wrote on Jul 9
teh, kathy pake kerudung dulu semata-mata karena merasa saya muslimah, dan punya kewajiban untuk menutup aurat saya. insya allah, itu step pertama saya untuk terus belajar dan bertingkah laku dengan baik. tidak ada niatan ingin jadi orang yang lebih dari orang yang belum pakai kerudung. semua kathy serahkan pada Allah semata....
iya kath ... memang orang banyak berbeda pandangan tentang kerudung ini ... bagi mbak, ini memang terpulang kepada diri kita masing-masing ... mau sebagai mode atau tren saja ... atau sebagai kewajiban ... monggo2 saja ... sepanjang mengantarkan kita pada kebaikan, dan bukan pada perasaan lebih baik dari yang tidak berkerudung ... karena hakikatnya Allah lah yang paling pantas menilai keikhlasan tersebut :-) insya Allah ya kath ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help