Hari itu aku mulai berkerudung
Setiap tanggal 30 September, biasanya ada yang memperingati hari G30S PKI. Tetapi tanggal yang sama pada tahun 1993, seorang perempuan berusia 24 tahun sudah sibuk sejak usai shalat shubuh di depan kaca mematut kepalanya dengan kerudung warna kuning lembut yang dipinjamnya dari adiknya. Dia sedang latihan mengenakan kerudung. Miring terlalu ke kiri … terlalu ke kanan … pipi terlihat mencos … tidak simetris … buka lagi … pasang lagi … peniti dimasukkan … duh … ketusuk pula … ya Tuhan … dia menarik nafas dalam-dalam dan dihembus perlahan … akhirnya dia pasang lagi perlahan dan seakan tidak perduli akan terlihat seperti apa, ia pasang peniti di pertemuan dua sisi kain kerudung di dagunya. Dia pandang sekali lagi wajahnya di cermin, dan tersenyum puas. Inilah aku dengan kerudung pinjaman.
Ya … hari itu adalah hari pertamaku memakai kerudung, sebagai pemenuh nadzarku atas dipinangnya diriku kemarin malam (29 September 1993) oleh Muhammad Haris Lubis.
Kedua adikku memelukku sebagai ucapan selamat atas keputusanku memulai hari baru ini. De Lia sudah berkerudung jauh sebelumnya, sedangkan Ance berkerudung beberapa tahun kemudian setelah aku. Ibuku memberikan restu dan dukungan walau beliau sendiri masih belum stabil dalam beragama. Bang Ais calon suamiku pada waktu itu juga sudah kuberitahu sebelumnya, dan diapun memberikan dukungannya.
Hari itu aku harus hadir di kelas Hukum Ekonomi Pembangunan di FH UNISBA. Statusku di UNISBA saat itu masih sebagai tenaga pengajar, yaitu tingkat paling awal sebagai dosen dan waktu itu aku baru 30 hari ‘beredar’ di kampus tersebut. Gaji pertama pun belum kuterima. Jadi pada waktu itu aku masih menjalani kewajiban hadir kuliah yang diberikan oleh Pembina atau Seniorku. Ketika aku memasuki ruang dosen, sambutan teman-teman melihat penampilan baruku ya macam-macam. Ada yang menyenangkan, menentramkan, memberikan dukungan, dan ada juga yang membuatku jengah. Dari mulai memberikan selamat, bertanya alasan pendorong berkerudung, hingga menyesalkan keputusanku berekerudung. Saat itu, memang belum terlalu banyak perempuan yang mengenakan kerudung, bahkan di UNISBA sekalipun. Tidak seperti sekarang, kerudung sudah menjadi salah satu tren dan mode. Sambutan beragam juga kualami ketika aku memasuki kelas … wah mahasiswa banyak yang suit-suit dan berkomentar nakal dengan penampilan baruku ini … aku cengar-cengir salah tingkah di depan kelas di hadapan puluhan mahasiswa …
Awalnya … aku sering mendengarkan ceramah Kang Aam Amirudin di acara Percikan Iman di Radio OZ. Dari berbagai tausiyahnya dan beberapa buku rujukan tentang jilbab, aku mulai memahami bahwa berkerudung adalah hal yang wajib dilakukan. Aku juga mencoba menemukan alasan dari beberapa tokoh panutan Islam yang tidak menganjurkan keluarganya berkerudung. Paling tidak, aku mempunyai dua wawasan yang berbeda untuk satu hal yang sama. Keduanya mempunyai dalil masing-masing. Aku dengan keterbatasan pengetahuan dan keimanan mencoba memilih untuk berkerudung, dengan beberapa alasan pribadi antara lain untuk lebih menutup aurat, tidak memberiku peluang tampil seksi, dan yang terpenting, sebagai alarm bagi diriku apabila suatu saat aku mencoba berbuat maksiat dan durhaka pada Allah.
Berpakaian panjang menutupi tangan dan kaki serta berkerudung sebetulnya merupakan pilihan dalam berpakaian. Siapapun boleh berpendapat berbeda dengan pemahamanku ini. Pengamatan dan pengalaman mengajarkanku bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar berpakaian seperti ini, yaitu hati yang bersih. Tidak sedikit kutemukan perempuan yang berkerudung tetapi masih bergunjing, iri dan dengki, bahkan merencanakan berbagai kebusukan. Pernah pula kubaca sebuah kisah nyata tentang pengalaman buruk seorang muslimah yang tidak berkerudung tinggal di rumah kost yang mayoritas penghuninya muslimah dengan baju abaya/gamish dan kerudung panjang. Muslimah tidak berkerudung ini memilih rumah kost ini dengan harapan ia bisa merasakan ketentraman tinggal di tengah muslimah dan bisa belajar banyak dari mereka. Namun yang dialaminya justru menyedihkan. Ia dikucilkan oleh muslimah yang sudah merasa suci dengan pakaiannya ini. Akhirnya, ia memutuskan pindah ke rumah kost lain yang dihuni oleh perempuan-perempuan berbeda agama dan ternyata ia merasakan ketentraman di sana. Ia tidak merasakan dipandang sebelah mata sebagai orang yang paling tidak beragama.
Dengan disampaikannya kisah ini, sama sekali tidak kumaksudkan posisi diriku seperti apa. Aku tidak lebih mulia dari perempuan manapun yang tidak berkerudung, tetapi mudah-mudahan pula tidak lebih buruk dari perempuan yang lebih sempurna dalam berpakaian & berkerudung. Karena, esensinya tidak di cara berpakaian dan berkerudung, tapi pada cita-cita untuk meraih hati yang bersih dan upaya-upaya untuk mewujudkannya.
Sebagaimana niat awalku berkerudung adalah untuk mensucikan hatiku dari laki-laki lain selain Bang Ais yang sudah melamarku sehari sebelumnya. Semoga niat ini bisa terus kuhidupkan hingga aku bisa mencapai cita-citaku berikutnya untuk mensucikan hati demi Tuhanku. Aku tahu ini sama sekali bukan hal mudah untuk orang sepertiku. Semoga ihram-ihram yang pernah kukenakan di tanah suci, menjadi semangat yang selalu mengingatkanku untuk mewujudkan hati yang berihram … untuk Allah Ta’ala …