Blog EntryKupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [3]May 20, '07 10:56 PM
for everyone

Kupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [3]

Puncak menara Masjidil Haram terlihat indah … cuaca saat itu sejuk dan cerah … walau belum terang benderang … talbiyah dan isak tangis mengiringi langkah rombongan kami yang semakin bergegas menuju rumah Allah …

Tibalah kami di pelataran luar masjid berlantai marmer … aku melihat banyak sekali burung merpati yang berterbangan … ada juga yang mematuki makanan burung yang ditebarkan beberapa jamaah haji dari negara lain … ada yang bilang … apabila memberi makan merpati yang konon keturunan dari merpati Bukit Tsur ini maka merpati-merpati itu akan mendoakan kebaikan bagi kita … mungkin nanti aku akan mencobanya …

Pak Kiai memimpin kami masuk melalui pintu Babussalam yang berhadapan dengan tembok tinggi … dulu tembok ini adalah Jabal Qubays … tempat Bilal mengumandangkan adzan … tetapi sekarang sudah berdiri megah istana Raja Saudi … konon … banyak jamaah termasuk jamaah asal Indonesia sering naik ke atas bukit Qubays ini dan memanggil nama keluarganya, dengan harapan keluarganya itu juga akan dipanggil ke tanah suci ini … untuk menghindari “kemusyrikan” ini maka pihak kerajaan menutup bukit bersejarah ini dengan istana megahnya … (Sebagai catatan: ini baru sebagian kecil dari tindakan kerajaan Saudi menghapus sejarah peradaban Islam di Makkah … atas nama menghindari kemusrikan … alamak jang …)

Kami memasuki pintu Babussalam … teman-teman yang sudah hafal doa … langsung membaca doa memasuki Masjidil Haram, sedangkan aku mempersiapkan halaman buku doa yang berisi doa itu (pokoknya aku paling terbelakang) … wong tidak ada satu doapun yang mampu kuhafal, maka aku jauh-jauh hari sudah memohon pertolongan Allah untuk membantuku dalam urusan doa mendoa ini. Bang Ais juga terus menyemangatiku, doa-doa di buku kan hanya menjadi pedoman, segala ibadah kembali kepada pemahaman inti terhadap tujuan ibadahnya. Dengan bimbingan Bang Ais disampingku, aku membaca: “Rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’alli milladunka sulthaanannashiiraa” (Ya Tuhanku, masukkanlah aku masuk dengan cara yang benar dan keluarkan aku dengan cara yang benar pula, dan anugerahkanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang menolong – QS Al Isra :80)

Tidak jauh dari pintu kami melangkah terus dan … kulihat bangunan berselimut kain hitam … itulah bangunan Ka’bah, Baitul ‘Atiq yang selama ini menjadi barometer seluruh umat Islam … saat shalat, berdoa, beribadah, … menuju Ka’bah (Allah) lah semua menuju …

Kukira … siapapun tidak akan mampu membendung airmata yang mengalir tak tertahan … sujud syukur kami padaMu yang telah memanggil kami berziarah … segera aku mengikuti Bang Ais yang melafalkan doa kemuliaan bagi Ka’bah …

Kemudian rombongan menuju garis berwarna abu-abu yang melintang di pelataran Ka’bah … sebagai tanda untuk memulai thawaf … saat itu jamaah haji dari berbagai negara sudah berdatangan, sehingga keadaan masjid sudah dipenuhi manusia berpakaian dan berihram putih …

Awalnya rombongan mengikuti KH Muchtar Adam, tapi sejak manasik, kami disiapkan untuk mandiri, sehingga saat kami tercerai-berai di putaran pertamapun, prosesi umrah dari mulai thawaf hingga sa’i alhamdulillah tetap dapat kami selesaikan masing-masing. Aku dan Bang Ais cenderung menyukainya untuk melakukannya berdua saja … karena tidak perlu harus tergantung pada orang lain, dan sekaligus tidak mengganggu orang lain.

Saat thawaf … aku teringat cerita Bang Ais dari referensi yang pernah dia pahami bahwa nun di atas sana pada posisi dan poros yang sama dengan Ka’bah yang sedang kami kitari ini, ada bangunan serupa yang menjadi poros thawaf para malaikat di Arasy sana, itulah yang disebut Baitul Makmur. Aku juga teringat ceramah Kiai kami dalam manasik haji, bahwa setiap putaran thawaf itu akan menutup tujuh pintu neraka dan membuka 7 pintu surga … ketujuh pintu neraka itu adalah: ujub (kagum/bangga pada diri sendiri), kibir (sombong), hasad, hirsh (tamak/rakus), bukhl/bakhil (kikir/pelit), ghadhab (marah/emosi), dan syahwat. Adapun ketujuh pintu surga adalah: ilmu, hikmah, ‘iffah (menjaga kesucian diri), syaja’ah (keberanian), ‘adalah (adil), al karam (dermawan), dan tawadhu (rendah hati). Tentunya putaran thawafnya tidak lagi pada tataran syariat dan tarikat, tetapi pada tataran hakikat. [Apabila ada yg berminat utk memahami lebih jauh tentang hal ini, bisa dibaca: “Membuka tujuh pintu surga, menutup tujuh pintu neraka”, tulisan KH. Drs. Muchtar Adam, penerbit Makrifat]. Aku mencoba menggabungkan diri dalam putaran thawaf segenap makhluk Allah … kularutkan pikiran dan hati seolah berada dalam putaran thawaf alam semesta ini … aku merasa mengecil mengecil mengecil dan terus mengecil … ternyata selama ini aku menyombongkan hal-hal yang sama sekali tidak ada artinya … aku terpuruk dalam malu, kerdil, dan butuh pertolonganNya … aku dan Bang Ais tergugu menangis dalam thawaf itu … lama kelamaan … kami merasakan kehadiran suatu perasaan nikmat dalam melakukan thawaf … rasanya kami dekat sekali denganNya … inilah perasaan yang tidak akan mampu ditukar oleh apapun di dunia … tidak ada lagi keinginan untuk memohon segala macam permintaan yang sudah kubuat daftar permohonannya, selain memperoleh ampunan dan kasih sayang Allah … rasanya aku ingin tenggelam dalam samudera cintaNya yang tak berbatas … semua yang ada di dunia menjadi sama sekali tidak ada artinya …

Di muka Multazam … aku berdiri dan tiba-tiba merasa seperti seorang pengemis dengan pakaian terburuknya … aku tidak berucap apa-apa selain mengiba … Ya Arhammarrahimiiiiiiin irhamna … shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya kuucapkan ... semoga mereka pun menyaksikan pengakuan dosa dan pengaduanku ini ... kusebut semua dosa yang bisa kuingat ... tapi kemudian tidak mampu lagi kusebutkan satu persatu mengingat betapa panjangnya daftar dosaku ... kuadukan kepada Allah segala kemaksiatanku, kedurhakaanku, dan segala keburukanku lainnya kepadaNya … aku seperti orang yang bangkrut ... tidak memiliki bekal apapun untuk tampil baik di hadapan Allah, di hadapan pemimpinku Muhammad SAW, di hadapan keluarga Rasulullah ... semua menyaksikan diriku yang hancur ... inilah aku makhlukMu Ya Allah dan umatmu Ya Rasul ... yang sedang mengakui kenistaannya ... yang sedang menyesali segala dosanya ... tapi kemudian kurasakan secercah harapan dan keyakinan akan kecintaan Allah dan Rasulullah & ahlul baytnya kepada orang yang datang dengan dosa dan taubatnya ... kuikrarkan janji taubatku ... semoga aku diberi kemampuan untuk memenuhinya dan tidak melanggarnya ...

Setelah puas mengadu, lalu dengan masih berurai airmata dan berleleran ingus (ups … sori …) aku bersama Abang beranjak ke area shalat masih di muka Multazam, dan melakukan shalat dua rakaat. Usai shalat, aku membacakan titipan doa dari keluarga, kerabat, dan teman-teman yang sudah mereka tuliskan di buku yang memang sengaja kusiapkan bagi yang hendak minta dibacakan permohonannya di berbagai tempat yang mustajab.

Semoga Kemurahan Allah SWT mengaruniai kami kemampuan untuk membunuh ketujuh sifat yang dapat membukakan pintu neraka dan menutup pintu surga, dan mampu menghidupkan ketujuh sifat yang akan menutup pintu neraka dan membukakan pintu surga …

(bersambung … )




2 Comments
wiriajaya wrote on May 30, '07
Terima kasih mbak ratna, artikel nya luar biasa bagus ... setelah menyimak artikel mbak ratna membuat kami semakin rindu untuk memenuhi undanganNya berhaji ... subhanallah, walhamdulillah, walaailahaillallah, wallahu akbar. Doakan kami mudah rezeki untuk dapat memenuhi panggilanNya berhaji. Amin.
ratnajanuarita wrote on May 30, '07
Alhamdulillah bila tulisan ini ada manfaatnya ... insya Allah kami turut mendoakan, semoga rizki yang luas dan penuh berkah selalu Allah anugerahkan kepada Bapak sekeluarga ... dan Allah sampaikan pula pada terwujudnya cita-cita tersebut ... amin Ya Mujibasailin ...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help