Blog EntryKupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [2]May 7, '07 5:09 AM
for everyone

Kupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [2]

Kami tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah lewat maghrib. Agenda selama beberapa jam di sini, kami mandi, shalat, dan mengambil miqat untuk umrah tamattu.

Asyik sekali kami mandi di sebuah kamar mandi yang cukup besar dengan beberapa kran untuk mandi, jadi kami, baik yang satu KBIH maupun beda KBIH, mandi beramai-ramai di sana. Tentunya sesama perempuan. Ada beberapa kamar mandi tertutup, tapi kondisinya lumayan kotor, bagi yang tidak menyiapkan diri untuk hal-hal seperti ini … wah bakal menderita deh … Aku bersyukur karena teman, tetangga, kerabat yang pernah menunaikan haji banyak berbagi pengalaman mereka, dan cerita-cerita pribadi juga wejangan yang mereka bagikan itu ternyata menjadi bekal yang berharga bagiku sejak berangkat dari rumah hingga kembali ke rumah lagi beberapa puluh hari kemudian.

Pak Toto (sekarang Prof. Dr. H. Toto Tohir, SH., MH.), seniorku di UNISBA, berpesan singkat, “Ratna, kunci selamat selama di sana hanya dua: sabar dan ikhlas”. Dua saja? Oke … let’s see what are the “sabar & ikhlas” all about … Dua kunci abstrak ini sebenarnya sudah mulai saya tanamkan sejak mendaftar haji dan membayar nomor porsi. Dan beberapa bulan sebelum keberangkatan pun, saya sudah harus mulai menggunakan dua kunci tersebut. Kapan-kapan saya ceritakan ujian kecil yang harus saya lalui saat itu.

Saat mandi di Jedah, saya melihat sampah (kantong2 plastik, pembalut bekas, kertas2 bungkus, juga bau2 tidak sedap) yang mungkin ditinggalkan jamaah sebelumnya di kamar mandi itu. Memang tidak sampai membuatku terganggu, tapi tetap saja hampir membuatku mengumpat dalam hati, cepat-cepat aku istighfar dan menutup mata, menekan rasa mual yang mulai naik dari ulu hati, dan meyibukkan diri pada prosesi mandi.

Prosesi mandi ini kulalui tidak sekhidmat yang selayaknya dilakukan, sebagaimana yang kubaca dari buku tuntunan haji “Cara Memperoleh Haji Mabrur” tulisan Husein Shahab.

Dalam buku itu, ada kisah Syibli yang baru pulang ibadah haji, menemui gurunya Imam Ali Zainal Abidin (cicit Rasulullah, putra Imam Husein bin Ali bin Abu Thalib). Saya kutip percakapan mereka dalam hlm 89-92 buku itu:

· “Anda baru pulang dari melaksanakan ibadah haji wahai Syibli?” sapa Imam Ali Zainal Abidin.

· “Benar wahai putera Rasulullah.” Jawab Syibli.

· “Apakah Anda telah berhenti di Miqat lalu menanggalkan semua pakaian yang berjahit yang terlarang bagi orang yang sedang mengerjakan haji dan kemudian mandi …?”

· “Ya. Benar.”

· “Adakah Anda ketika berhenti di Miqat juga meneguhkan niat Anda untuk berhenti dan menanggalkan semua pakaian maksiat dan sebagai gantinya mengenakan pakaian taat?”

· “Tidak ya Imam.”

· “Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah Anda menanggalkan diri Anda dari sifat riya’, nifaq, serta segala yang diliputi syubhat … ?”

· “Tidak …”

· “Kalau begitu Anda tidak berhenti di Miqat, tidak menanggalkan pakaian yang berjahit dan tidak pula mandi dan membersihkan diri.”

Kemudian Imam Ali Zainal Abidin melanjutkan:

· “Dan ketika Anda mandi dan berihram serta mengucapkan niat untuk memasuki ibadah haji, adakah Anda menetapkan niat untuk membersihkan diri dengan cahaya taubat yang tulus kepada Allah SWT?”

· “Tidak.”

· “Dan pada saat niat berihtam, adakah Anda berniat mengharamkan atas diri Anda segala yang diharamkan Allah Azza wa Jalla …?”

· “Tidak.”

· “Dan ketika mulai mengikat diri dalam ibadah haji, adakah Anda pada waktu yang sama telah melepaskan juga segala iktana selain bagi Allah?”

· “Tidak.”

· “Kalau begitu anda tidak membersihkan diri, tidak berihram dan tidak pula mengikat diri dalam ibadah haji.”

Selanjutnya:

  • “Bukankah Anda telah memasuki miqat, lalu shalat ihram dua rakaat dan setelah itu mulai menyerukan talbiyah?”
  • “Ya, benar wahai Imam.”
  • “Apakah ketika memasuki miqat, Anda meniatlannya sebagai ziarah menuju keridhaan Allah SWT?”
  • “Tidak ya Imam.”
  • “Dan ketika shalat ihram dua rakaat, adakah Anda berniat mendekatkan diri dan bertaqarrub pada Allah dengan mengerjakan suatu amal yang paling utama di antara segala macam amal, yaitu shalat yang juga merupakan kebaikan utama di antara kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh hamba-hamba Allah SWT. …?”
  • “Tidak …”
  • “Kalau begitu Anda tidak memasuki miqat, tidak bertalbiyah, dan tidak shalat ihram dua rakaat”

Saya yakin, saya masih menjadi pengikut Syibli … kualifikasi saya masih sangat jauh di belakang untuk mampu menjadi pengikut Rasulullah dan keluarganya yang ma’sum. Saya sudah membaca buku Ustadz Husein Shahab ini sebelum berangkat haji, namun tetap saja saya tidak mampu mengikutinya sebagaimana dijelaskan dalam buku ini. Semoga Allah anugerahi kembali kesempatan kedua bagiku agar dapat memperbaiki prosesi haji sebaik-baiknya …

Usai mandi, aku berkemas dan melakukan shalat ihram bersama suamiku.

Shalat di tempar miqat ini, menurut Ali Syari’ati dalam buku “Haji”, adalah “sebuah janji kepada Allah bahwa engkau tidak akan tinduk atau sujud kepada siapapun juga kecuali kepada Allah”. Aku merasa tersudut sekali, karena betapa sering aku menuhankan selain Allah … betapa banyak tuhan selain Allah yang kuciptakan dengan segenap kesadaranku, dengan segala kesenanganku, demi mewujudkan cita-cita duniaku … Semoga janjiku ini mampu kutepati … anugerahi aku kemampuan itu ya Allah … tanpa anugerah itu … aku tidak mampu mengendalikan diriku sendiri …

Sambil menunggu bis yang akan membawa kami ke Makkah, cemal-cemil makanan kecil, membaca kembali urutan ibadah haji dan doa-doanya, karena rasanya diantara jamaah KBIH kami, saya merasa paling tidak siap. Kami merupakan rombongan yang masuk ke dalam Gelombang Kedua Kloter 69, sehingga kami langsung menuju Makkah dan melaksanakan umrah wajib.

Perjalanan menuju Makkah diiringi dengan talbiyah yang menggema di dalam bis … aku tak mampu membendung air mata yang terus mengalir, karena masih saja tidak percaya, bahwa Allah benar-benar mengundangku hingga sampailah aku di tanahNya yang suci ini … perasaan seperti ini bukan eksklusif milikku saja, aku yakin semua jamaah haji merasakan hal yang kurang lebih serupa karena isak tangis terdengar di segala penjuru ruang bis yang kami tumpangi … Kebahagiaan yang tidak cukup dijelaskan dengan sekedar kata-kata … aku belum percaya bahwa kasih Allah itu nyata adanya … aku yang pakaian akhlaknya compang-camping lebih buruk dari pengemis ini ternyata memperoleh perkenan Allah … namun suamiku selalu menguatkanku sehingga menumbuhkan keyakinan yang kuat dalam diriku adalah Allah sangat mencintai orang yang tertatih menghampiriNya untuk memperoleh ampunannya … ini adalah harapan bagi orang yang mau bertaubat seperti aku … dan harapan ini menjadi energi yang luar biasa bagiku …

Setelah sekitar satu jam perjalanan dari Jeddah, kami memasuki kota Makkah menjelang pukul 02 dini hari … Walau sudah dini hari, namun suasana kota begitu terang benderang, karena lampu-lampu dari toko-toko yang berjajar di sepanjang jalan, umumnya selama musim haji mereka buka 24 jam … aku tersenyum … mendengar celoteh dan canda teman-teman satu bis yang mengomentari barang-barang yang dijual di toko dan kaki lima. Konon, jamaah Indonesia adalah jamaah yang paling royal dalam berbelanja … mungkin karena budaya memberi yang lazim dianut oleh bangsa kita yang kental dengan sistem kekerabatan.

Sambil menunggu pembagian kamar, aku sempatkan menghubungi tetanggaku (Bu Dina Isnur) yang juga berangkat haji tahun itu dan sudah tiba lebih dahulu, maktab tempatnya tinggal agak jauh dari maktab tempat rombonganku menginap. Aku melihat kopor2 diturunkan (sebenarnya dilemparkan dari bagasi di atas bis ke bawah, oleh para pekerja bongkar muat) hmm … semoga alat masak listrik dalam koporku tidak hancur …

Maktab kami bernomor 34 ini letaknya di daerah Hafair, jaraknya dengan Masjidil Haram sekitar 30 menit jalan kaki. Kondisi maktab yang menjadi jatah KBIH Babussalam bukanlah sebuah hotel yang nyaman, seperti juga umumnya maktab bagi jamaah haji reguler. Satu maktab umumnya diisi rombongan satu kloter atau lebih, sekitar 400 jiwa. Terbayang kan kumuhnya seperti apa. Maktab kami terdiri dari (kalau tidak salah 9 lantai, lantai ke 9 adalah area terbuka untuk menjemur pakaian). Satu lantai umumnya terbagi dari 3 unit, satu unit yang kami tempati terdiri dari 4 kamar: 2 besar, 2 kecil, 2 ruang kecil yang serbaguna, 1 dapur dan 2 kamar mandi. Rombongan KBIH kami yang berjumlah 52 orang terpaksa harus terbagi dua menempati 2 lantai berbeda. Hal ini terjadi karena pembagian kamar didasarkan pada kocokan undian di kloter kami. Akhirnya, sebagian mengisi separuh lantai 5 dan sebagian lainnya mengisi separuh lantai 7. Aku mendapat bagian di sebuah kamar di lantai 5, bersama 8 orang teman perempuan lainnya. Suamiku sekamar dengan 10 orang di sebelah kamarku. 2 kamar lainnya lebih kecil dan berisi 5 -8 orang. Sehingga kami di lantai 5 berjumlah sekitar 32 orang. Bisa dibayangkan ketidakmudahan yang harus kami lakukan dalam menata pembagian dalam menggunakan segala fasilitas yang terbatas itu …

Ya sudahlah … kami harus dan harus (tidak ada pilihan lain) mulai belajar menerima dengan sabar dan ikhlas … agar filosofi “air mengalir” dapat terwujud tanpa hambatan …

Setelah membagi kamar, memilih posisi tempat tidur, menata barang-barang bawaan, dan istirahat sejenak … kamipun bergantian shalat shubuh di maktab … mulanya jamaah KBIH kami hendak melaksanakan umrah wajib sebelum waktu shubuh, tetapi kondisinya tidak memungkinkan, disamping waktu yang terlalu mepet, jarak tempuh yang tidak dekat, dan separuh dari jamaah KBIH kami adalah para sepuh yang harus dibimbing oleh kami yang muda-muda.

Usai shalat shubuh … kami berlimapuluhdua orang bersiap dan berbaris di muka maktab … rasanya aku berada dalam barisan yang dikomandoi oleh Rasulullah … perasaan campur aduk menyeruak dari dalam batinku … sebentar lagi … dengan izin Allah … akan kulihat Ka’bah itu … Baitullah … air mataku mulai mencucur deras tak terbendung … beberapa temankupun kulihat mengalami hal serupa …

Saat itu kami akan menentang arus hilir mudik jamaah haji karena bertepatan dengan usainya shalat shubuh, jadi umumnya jamaah haji saat itu baru kembali dari Masjidil Haram menuju maktabnya masing-masing, sedangkan kami bergerak menuju arah sebaliknya.

Kemudian dengan menggemakan talbiyah … barisan kami melangkah menuju Masjidil Haram untuk menunaikan umrah wajib …

Labbaik Allaahumma labbaik … labbaika laa syarikalaka labbaik, innal hamda wanni’mata lakawalmulku laa syariikalak …

(Ya Allah, aku datang siap melaksanakan perintahMu, tidak ada sekutu bagiMu. Ya Allah aku siap menaatiMu. Sesungguhnya ketuhanan (kedaulatan), ni’mat dan kerajaan itu milik Engkau, tidak ada sekutu bagiMu) [dari buku Doa2 Ibadah Haji, KH. Drs. Muchtar Adam, Babussalam]

Ya Illahi …

inilah aku …

kupenuhi panggilanMu …

aku datang dengan bergunung-gunung dosa …

tidak ada bekal kecuali harapan akan ampunanMu …

inilah penyerahan diriku padaMu …

sebagai pengaduanku padaMu atas nistanya diriku …

kecamlah aku sampai Engkau ridha …

inilah aku menyerahkan segala kebodohanku …

yang telah membuat diriku buruk rupa di hadapanMu …

tidak ada amal yang pantas dan membuatku mampu dan layak hadir di hadapanMu … selain karena kasih dan sayangMu …

inilah aku memohon ampunan maghfirahMu …

kalau tidak Kau ampuni aku …

kepada siapa lagi aku berlari …

(bersambung)




Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help