Kupenuhi panggilanMu ya Rabbi … [1]
Malam itu, 23 Januari 2004, aku dan Bang Ais melangkah keluar rumah menuju kendaraan yang akan mengantar kepergian kami untuk menunaikan ibadah haji. Doa dan shalawat dari ibuku, kedua mertuaku, anak-anakku, adik-adikku, kerabat dan para tetangga, mengiringi langkah kami. Afif ikut dalam rombongan ditemani Fauzi, adik Bang Ais. Zaki memilih tinggal di rumah dengan para eyangnya. Talbiyahpun kami lantunkan sepanjang perjalanan menuju pelataran parkir ITB, tempat kedua bis dari KBIH Babussalam akan bertolak menuju Wisma Haji di Bekasi. Perpisahan ini sungguh berbeda dengan perpisahan yang biasa terjadi apabila aku atau suamiku harus meninggalkan rumah untuk suatu tugas. Tentunya, hati orang tua mana yang tidak sedih meninggalkan belahan hatinya yang masih kecil-kecil di rumah, sedangkan ia sendiri harus pergi untuk waktu yang lumayan lama. Namun, terus terang saja perasaan sedih ini tidak berkepanjangan seperti ketika aku meninggalkan mereka berkali-kali saat aku sekolah di Melbourne. Mungkin, karena kedua buah hati kami akan berada dalam perawatan dan kasih sayang kedua neneknya. Sejak bis berangsur meninggalkan pelataran parkir, hati ini tidak lagi sepenuhnya memikirkan kedua anak kami dan keluarga di rumah, tetapi larut dalam talbiyah yang menggiring kami pada koridor jalan menuju pertemuan dengan Allah. Kerinduan akan pertemuan itu menebal seiring dengan air mata yang terus mengalir sepanjang perjalanan menuju Wisma Haji.
Bagiku dan suamiku, perkenan Allah mengundang kami ke Baitul ‘Atiqnya ini sungguh bagai dialog tentang keajaiban denganNya. Sebenarnya pada tahun sebelumnya kami hanya memiliki dana yang direncanakan targetnya umrah saja, karena tidak memadai untuk ongkos haji berdua. Rupanya Allah berkehendak lain, Ia membukakan pintu rizkiNya dari arah yang tidak terduga: supervisorku di Monash mengizinkanku untuk mengerjakan thesis di Indonesia. Akhirnya, selama 6 bulan terakhir masa studiku, aku berada di Bandung bersama keluarga sambil menyelesaikan studi yang terus dikomunikasikan dengan supervisor via email. Hal ini ternyata tidak hanya efisien tetapi juga berjalan efektif, terlebih mengingat supervisorku ini juga menjadi dosen tamu di Amerika. Efek domino dari izin supervisorku ini tidak hanya kebahagiaan berkumpul kembali dengan keluarga, tetapi ada nilai ekonomis yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Selama 6 bulan terakhir itu, aku tetap menerima kiriman stipend dari World Bank (Joint Japan-World Bank Graduate Scholarship Program) yang total jenderalnya cukup besar dan memungkinkan kami untuk membayar ongkos haji satu orang lagi. Sungguh Allah itu Sang Pemilik Rizki yang dengan segala kemurahanNya rizki itu ditebarkan kepada siapa saja yang dikehendakiNya …
Pintu rizki lainnya juga Allah bukakan secara tidak terduga, hal ini terjadi saat kami mulai hitung-hitung dana yang harus kami siapkan untuk keberangkatan kami. Kami tidak saja harus menabung untuk bekal selama haji, tetapi juga harus menyediakan dana untuk keluarga yang ditinggalkan dan untuk mengantar kembali keluarga mertua ke Medan. Ini bukan jumlah sedikit yang harus kami sediakan, dan cukup berat apabila mengandalkan kapasitas penghasilan kami berdua. Pada saat membereskan berbagai dokumen selama aku di Australia, aku iseng-iseng membaca kembali surat World Bank tentang pemberian beasiswa mereka kepadaku pada tahun 2001, ternyata World Bank baru membayar 23 bulan dari seharusnya 24 bulan. Aku mencoba klaim ke World Bank, alhamdulillah dikabulkan. Maha Mengaturnya Allah ditunjukkan pada saat dana itu kami terima tepat pada bulan keberangkatan kami ke tanah suci, dan ini menjadi pos dana yang sebelumnya tidak terbayangkan dari mana asalnya. Sebagai catatan, studi di Monash selesai pada Juli 2003, namun rektor tempat aku mengabdi sebagai dosen menginginkan aku juga menyelesaikan program master di UNPAD yang sudah terbengkalai selama aku studi di Monash. Jadilah sejak Juli 2003 hingga 19 Januari 2004, aku berada pada semacam fast track untuk menyelesaikan thesis dari masterku yang kedua.
Semua proses jumpalitan ini membawaku pada keyakinan bahwa apabila Allah sudah mengundang kita untuk pergi ke tanah suci, niscaya segala kebutuhannya dipenuhi olehNya dengan caraNya sendiri.
Pada saat suamiku dan teman-teman lainnya dalam satu KBIH mempersiapkan diri selama beberapa bulan menjelang keberangkatan melalui manasik haji, aku sibuk sendiri menyelesaikan thesis. Aku yang pengetahuannya pas-pasan ini tidak percaya diri, karena tidak mampu menghafal doa apapun untuk menjalani prosesi haji nanti. Namun aku menyempatkan membaca buku-buku tentang haji, antara lain yang monumental bagi saya adalah yang ditulis oleh Ali Syari’ati. Bagiku, buku yang satu ini membuka jiwa dari ibadah haji yang tidak hanya sekedar wuquf, thawaf dan sa’i. Banyak hal yang tidak kutemukan dalam buku tema haji lainnya. Oya, sidang thesisku pada 19 Januari 2004 juga terasa indah pada saat Ketua Pembimbingku (Prof. Dr. H. Man S. Sastrawidjaja, SH., SU.) menutup sidang dengan doa pengantar haji.
Kembali pada perjalananku ke Wisma Haji di Bekasi …
Rombongan tiba di lokasi pada sekitar pukul 02.00. Lumayan mengantuk. Di sini kami berkumpul dengan jamaah dari KBIH lainnya yang akan diberangkatkan dalam satu kelompok terbang (kloter). Kami ikut program reguler, selain karena dananya tidak memadai untuk haji plus, juga jangka waktu tinggal 40 hari yang jauh lebih lama dibanding program haji plus, tentunya menjadi pesona tersendiri.
Di Wisma ini, kami menjalani beberapa pengecekan, masuk ke ruang tidur untuk beristirahat sebentar sebelum berangkat lagi usai waktu shubuh menuju Bandara Cengkareng.
Kloter kami terbang sekitar pk 09.00 pada 24 Januari 2004, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan kami yang ke 10. Terima kasih Ya Allah atas hadiah terindah ini … hadiah lainnya kami peroleh pada saat nama kami berdua termasuk dalam daftar penumpang yang menduduki kursi untuk kelas business. Inilah kali pertamaku menduduki kursi yang lebih besar dan nyaman dibanding kelas ekonomi yang biasa kutumpangi, baik menggunakan GA, SQ, dan penerbangan lainnya. Kusyukuri setiap hal yang Allah hadiahkan kepada kami. Aku takut menjadi orang yang tidak bersyukur, karenanya untuk kemampuan mensyukuri pun rasanya aku harus mengucapkan syukur lagi, wal hasil, aku tidak patut untuk berhenti bersyukur …
(bersambung … )