Blog EntryMenjemput Hidayah Allah [1]May 1, '07 1:42 PM
for everyone

Menjemput Hidayah Allah [1]

Usiaku masih 15 tahun saat kedua orang tuaku berpisah. Sejak saat itu, aku dan kedua adikku berada dalam asuhan dan kasih sayang Ibu kami di lingkungan keluarga Ibuku di Pringsewu, Lampung. Ayah dari ibuku, Mbah Kakung, adalah seorang pemborong bangunan yang mengerjakan semua proyek misionaris di Sumatera Bagian Selatan, baik berupa gereja, rumah, maupun sekolah. Dan … ya … keluarga Ibuku adalah pemeluk agama Katolik yang taat. Ibuku hijrah beragama Islam karena pernikahan dengan ayahku di tahun 1967.

Tulisan ini merupakan flash back contemplation yang kuharapkan menjadi tonggak syukurku atas segala yang Allah anugerahkan kepadaku dalam pencarianku atas Tuhan dan jati diriku.

Di usia pancaroba-ku saat itu, aku harus berjuang menata diriku yang memasuki masa pubertas di tengah konflik kedua orang tua. Aku (bersama ibu dan kedua adikku) mencoba menyembuhkan kepedihan yang menjadi multiplier effect dari rentetan kepedihan, ketakutan, dll di masa lalu. Penderitaan yang kami rasakan menciptakan kekuatan solid yang saling menyembuhkan. Aku merasa bersyukur, karena keluarga Ibuku menyambut dan menerima kehadiran kami dengan penuh kehangatan. Terlebih kedua orang tua ibuku, Mbah Putri & Mbah Kakung seolah menemukan kembali “si bungsunya yang hilang”. Suasana penuh kasih sayang ini menjadi obat yang mujarab bagi kesembuhan luka batin kami.

Aku yang sedang berada pada tahapan usia yang mencari jati diri, mengelana dalam petualangan batin mencari Sang Khalik. Aku memang terlahir sebagai muslim, kedua orang tuaku juga memanggil ustadz ke rumah untuk sekedar mengajarkan cara membaca Al Qur’an. Namun, mungkin values Islam-nya tidak tertanam dengan baik, sehingga di usiaku saat itu, aku meraskan ketidakyakinan dengan Islam. Ketentraman dan kenyamanan yang aku rasakan di lingkungan Katolik keluarga ibu ini mendorongku untuk mengetahui dan mendalami ajaran kasih sayang dalam agama ini. Salah satu kakak ibuku adalah seorang biarawati di Susteran Fransiskanes di sana. Melalui salah saorang rekan beliau di Susteran tersebut, aku mulai mempelajari Katolik. Namun, karena banyak hal yang tidak pernah puas kudapatkan penjelasan logisnya, maka setiap dianjurkan untuk dilakukan pembaptisan, aku tidak pernah mau, walaupun aku sudah memilih nama “agatha” sebagai nama baptis. Disamping itu, ibuku pun sangat tidak merekomendasikan pembaptisan ini, sekalipun beliau sendiri pada waktu itu masuk kembali pada keyakinan masa kecilnya. Aku mengaktualisasi hubunganku dengan Tuhan dengan cara rajin menghadiri misa mingguan dan harian. Untuk beberapa hal, aku merasakan kedamaian, tapi pada banyak hal lain aku merasakan banyak hal yang belum mampu kuidentifikasi persoalannya. Hasilnya, ya aku tidak merasakan ketentraman batin karena keyakinanku belum mencapai tingkat yang ajeg. Untuk memenuhi kebutuhan batinku ini, berbagai buku dengan topik ketuhanan, sastra, filsafat, dan psikologi menjadi lahapanku sehari-hari. Aku mengandalkan perpustakaan sekolah, kampus, dan organisasi keagamaan, juga tidak jarang ibuku membelikan buku pesananku di Tanjung Karang (jaraknya sekitar hampis 1 jam dari Pringsewu yang pada saat itu masih berstatus kota kecamatan).

Kepedihan yang pernah kulalui sejak kecil hingga usia saat itu menjadikanku sebagai remaja yang ingin tampil kuat, tegar, dan mandiri. Aku anak tertua dengan dua adik perempuan, dan kulihat walau ibu menjadi pahlawan dalam hidup kami, ia tetap saja memiliki kerapuhan. Jadilah aku sebagai teman ibu dalam mengambil keputusan bagi kami berempat. Untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, ibu diberi kepercayaan mengelola pabrik penggilingan padi milik Mbah Kakung. Aku sering menemani ibuku mencari beras dan pupuk untuk disuplai ke Dolog (Bulog), juga menjaga pabrik. Menyenangkan sekali. Aku melihat ibuku yang tangguh pada saat menyetir mobil colt pick up untuk membeli beras dan pupuk atau mengajak aku dan adik-adik jalan-jalan.

Pada tahun 1988, ibuku memutuskan untuk membawa aku dan kedua adikku pindah ke Bandung, menempati kembali rumah kami yang sudah lama kosong sejak keluargaku pindah mengikuti pekerjaan ayahku ke Jakarta pada tahun 1979, ke Palembang pada tahun 1983, dan 1984-1988 di Lampung.

Di Bandung, aku berada pada suatu turbulensi yang mengakibatkanku menjadi orang yang cenderung tertutup dalam pergaulan kampus. Aku melihat kebahagiaan yang dimiliki oleh umumnya teman-temanku. Aku iri. Aku malu dengan segala ketidakpunyaanku. Apalagi, untuk memenuhi kebutuhan hidup kami di Bandung saat itu terasa sangat berat dan sesak, karena suatu hal ibu bersikeras untuk tidak lagi menerima bantuan dari keluarganya di Lampung. Ibuku mencari nafkah bagi kami dengan membuka jahitan di rumah, kebetulan ibu memiliki keterampilan menjahit. Saat itu, ibu harus membiayai kuliahku di Unpad dan Lia di IKIP, sedangkan Ance masih di SMA (kemudian masuk FKG Unpad yang biayanya luar biasa untuk kapasitas finansial kami saat itu). Untuk menghemat pengeluaran dan memenuhi kebutuhan akademikku, aku mengajukan beasiswa, buku-buku kupinjam dari teman-teman dan perpustakaan. Saking sulitnya kehidupan kami saat itu, aku bahkan pernah tidak pergi kuliah karena ibuku hanya memiliki uang Rp. 500,-. Uang sebesar itu bisa kupakai untuk ongkos angkot pp ke kampus. Tapi bagaimana mungkin aku tega membiarkan tangan ibuku melepas the only 500 rupiah hari itu?

Namun, sifat arrahman dan arrahim dari Allah selalu menjaga kesinambungan hidup kami dari hari ke hari. Hingga akhirnya ibuku berhasil mengantarkan aku dan kedua adikku sebagai sarjana. Padahal apabila dihitung-hitung, rasanya tidak mungkin penghasilan ibuku cukup untuk membiayai ketiga anak gadisnya.

Pada tahun ketiga kuliah, aku merasakan stagnansi dalam pencarian ini. Aku merasa menjadi orang yang tidak beragama. Aku tidak punya tuhan. Aku mencariNya bertahun-tahun, tapi belum kutemukan juga … dimanakah gerangan dia? Aku bersyukur memiliki teman-teman baik yang memberikan wawasan keagamaan padaku yang tidak stabil. Namun aku masih saja membiarkan diriku berkelana dalam pencarian ini. Hingga suatu hari di tahun 1989, aku merasa benar-benar tidak tahu harus menemui tuhan yang mana dan seperti apa. Mulailah aku membaca buku-buku agama Islam secara acak. Sebagai langkah pra-afirmasiku memasuki keimanan Islam, aku juga membaca buku-buku yang berisi tata cara shalat dan bacaannya. Aku menuliskan surat-surat dalam Juz Amma dan bacaan shalat lainnya dalam secarik kertas, dan mulai belajar shalat. Sendiri saja. Kuucapkan syahadatain sendiri, berhadapan dengan Tuhan Allah yang Subhanahu wa Ta’ala. Mengetahui hal ini, kedua adikku, Lia dan Ance memelukku dan memberikan selamat atas “kedatanganku kembali”. Air mata kebahagiaan mengembang. Aku tidak akan melupakan saat indah ini. Lia ini keimanannya tangguh, tidak pernah tergoyahkan di saat kami terombang-ambing, dia tetap dalam iman Islamnya. Sedangkan si bungsu Ance, sebenarnya mengalami hal yang sama denganku, namun mungkin karena kedekatannya dengan Lia, ia lebih dulu menambatkan dirinya dalam Islam. Beberapa tahun belakangan, ibuku pun mengikuti jejak kami.

Kini, apabila aku menengok pada masa jatuh-bangunku dalam menemukan tuhan dan diriku yang sejati, aku melihat perjuangan ini mengantarkanku pada pemahaman bahwa hidayah itu harus dicari, dan pencarian ini harus dipersiapkan dan diperjuangkan. Proses pembelajaran yang berharga ini mendidikku untuk selalu memintakan hidayah dalam hal apapun.

Kepedihan dan penderitaan yang pernah kulalui ini telah menjadi madrasah ruhani yang indah bagiku. Kini, aku tidak pernah lagi menyesali segala nestapa yang pernah Allah hadirkan dalam penggalan kehidupanku di masa lalu … justru, kini aku mensyukurinya. Beginilah rupanya cara Allah mendidikku …

Terima kasih Ya Allah atas petualangan indah ini … aku bahagia karena Engkau perkenankan aku berada kembali dalam Islam … terima kasih Ya Rabbi karena telah memperkenankanku untuk menancapkan bendera kemenangan ini di puncak gunung keimanan yang terjal … inilah stase terindah dalam hidupku ...




8 Comments
karelkemal wrote on May 7, '07
Rit,
Salut pisan dgn perjuanganmu, terutama juga sang Ibu, yg benar2 mengagumkan. Belum tentu kita bisa melewati seperti yg sudah dilalui ibu-mu... Beliau benar2 perempuan tangguh, titipkan salam.... Pantes aja anaknya juga tangguh... Nah ini baru "buah jatuh tak jauh dari pohonnya". Dan saya juga menemukan jawaban atas ketebalan iman-mu... ternyata ke"ISLAM"mu diperoleh dari perjuangan dan pencarian sendiri, inilah bedanya dgn ke"ISLAM"an yg memang berupa "hadiah" dari lahir, suatu agama yg memang diturunkan dari orangtua tanpa susah payah harus digapai..... Bagi2 ilmu-mu yah Rit........
ratnajanuarita wrote on May 7, '07
Tih,
Kepahitan dan kepedihan adalah guru terbaik saya ... kata orang no pain no gain ... mungkin itulah yang saya alami tentu dengan kerendahan kadar yang saya miliki. Semoga ketidakenakan yang pernah saya alami, tidak perlu dialami oleh anak-anak saya, juga siapapun yang mengenal atau tidak mengenal saya. Dian Edon, Asep, Shanti, Ati, Ina, dan beberapa teman lainnya sempat menjadi teman berbagi urusan keimanan ini saat saya disorientasi, bahkan Wahyu, Uci dan Chandra yang pernah nemani acara keagamaan nonmuslim. Pokoknya saat itu mah Ratih sudah mencelat merdeka keluar dunia kampus ... hehe ... Insya Allah salam akan saya sampaikan kepada ibuku ... matur nuwun Ratih ...
amilia25 wrote on Jun 8, '07
Salam kenal..
Mpnya seru sekali :)
Wish you great days and much postiv energy for your work and family :)

Silahkan mampir di MP saya..
ratnajanuarita wrote on Jun 8, '07
terima kasih mbak amilia ... saya sudah tengok mp-nya ... cuantik sekali sulamannya ...
faysal77 wrote on Feb 26
Subahanallah, Tidak menyangka mbak Ratna punya kisah masa lalu seperti itu.
Btw tante nya masih biarawati?, maaf kalo pertanyaannya lancang
ratnajanuarita wrote on Feb 26
Subahanallah, Tidak menyangka mbak Ratna punya kisah masa lalu seperti itu.
Btw tante nya masih biarawati?, maaf kalo pertanyaannya lancang
maksudnya bude (kakak ibu) saya? o iya ... beliau masih seorang biarawati :-) dan keluarga ibu saya umumnya pemeluk katolik yang taat, alhamdulillah kami rukun bersaudara :-)
safarashds wrote on Jul 23
Assalamu'alaikum mba' ratna. saya ta'jub dengan jalan kehidupan mba' ratna, dan saya sangat terharu ketika membaca tulisan mba'. Yang membuat saya terharu adalah ketika mba' kembali ke jalan Allah SWT. mohon bantuan mba' ratna gimana atau apa yg harus saya lakukan untuk mencari hidayah. sudah kurun waktu 3 tahun saya mencoba menunggu hidayah itu datang dengan sendirinya, tapi hingga detik ini belum juga ada. Saya sangat ingin mencari hidayah berawal dari kesalahan yg pernah saya buat mba' dan saya sadar betul itu adalah dosa terbesar yg pernah saya lakukan hingga saya di sentil (ungkapan kakak tertua saya waktu itu) oleh Allah, 3 tahun ini saya selalu membaca artikel2 islam, non-islam sampai satu blog yg atheis pun saya masuki. Tolong bantu saya mba' ratna.... wasalam, Heru.
andariningroem wrote on Oct 19
assalammualaikum, Ratna, sungguh aku terharu dan terkesan membacanya. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga iman Islam kita. Amin.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help