Blog EntryMusyawarah BurungJun 28, '08 9:16 PM
for everyone


Musyawarah Burung

Diambil dari:

http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg00436.html

Musyawarah Burung (Manthiqut Thair) merupakan karya sastra penyair sufi
terkenal Faridu’Din Attar yang berisi tentang kisah sufistik. Karya yang hingga
saat ini tetap melegenda ini mengisahkan perjalanan burung-burung menuju istana Simurgh sebagai metafor bagi para salikin (pejalan ruhaniah) dalam berjalan menuju Tuhannya.

***

Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, "Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja."

Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang. "Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya."

Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, "Lalu apa yang harus kita lakukan?" "Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja. Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan.

Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkankeagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk.

“Burung-burung sekalian, kata Hudhud, “Kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya.  Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi kita jauh dari-Nya. Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, "Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini."

Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggapai istana Simurg mereka harus  bersatu,  saling bekerja sama dan tidak boleh saling mendahului.

Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa  perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan  harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat  dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan.

"Apakah kalian sudah siap ?" kata burung Hudhud, menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan  turun. Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang  memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, "Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana nanti orang-orang  rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang mekarku ?" demikian alasan burung Kenari.

Selanjutnya, burung Merak berkata, "Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan." 

Kemudian disusul oleh Itik, "Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa  berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air," kilah Itik.

Begitu juga burung Garuda, "Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan",alasan Garuda.

Kemudian disusul burung Gelatik, "Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu," kata burung Gelatik.   Lantas burung Elang ikut menyahut, "Semua orang sudah tahu  kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini, " kata burung Elang.

Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. "Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal  kalian tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?" ucap Hudhud.

Kemudian ada seekor burung menyela, "Dengan cara apa kita bisa sampai ke tempat  Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? "Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi,  kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya," jawab Hudhud meyakinkan. “Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar, demikian lanjut Hudhud.

Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.

Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. "Mengapa  perjalanan sudah lama dan  jauh, kok tidak sampai-sampai?" guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan.

Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Namun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha panjang itu.

Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang dibanggakan  berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan. Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang  tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak-berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan   tenggelam dalam gelombang fana'.  

Pada akhirnya cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh. Namun  kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak  gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.

Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, "Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?" kata penjaga istana.  Serentak mereka menjawab, "Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya."

Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, "Salaamun qaulam min rabbir rahiim" sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan  yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya.  Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, "Lho kok aku sudah ada disini?" begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya.  Maka datanglah suara lembut menjawabnya, "Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan Kamil."

Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana' billah hingga mencapai puncak baqa' billah.  Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal  dalam ketuhanan.

Penulisnya, Faridu’Din Attar, lahir pada tahun 1120 Masehi, dekat Nisyapur di
Persia Barat Laut dan meninggal pada tahun 1230. Karya ini telah diterjemahkan lebih dari enam bahasa di dunia. Terjemahan dalam bahasan Inggris dilakuan oleh C.S. Nott dengan  judul The Conference of the Birds.

Dikutip dari Majalah "KASYAF"
KASYAF adalah majalah Kajian Tauhid dan Hakikat yang terbit setiap dua bulan sekali.

Untuk yang mau cari dan beli buku MUSYAWARAH BURUNG ini, penerbitnya Pustaka Jaya. 
Cetakan Pertama tahun 1983. Koleksi kami Cetakan Ketiga - 2001.



24 Comments
rasti812 wrote on Jun 28
TFS ya mbak. Mengingat banyak manfaat yang bisa dipetik dari tulisan di atas, saya minta ijin boleh nggak blog ini saya link dan teruskan ke milis (Indonesian Muslim Society in US)? InsyaAllah semua info diatas berikut referencesnya akan saya sertakan dan saya tidak akan teruskan sebelum diberikan ijin dari mbak. Terima kasih sekali lagi.
ratnajanuarita wrote on Jun 28, edited on Jun 28
TFS ya mbak. Mengingat banyak manfaat yang bisa dipetik dari tulisan di atas, saya minta ijin boleh nggak blog ini saya link dan teruskan ke milis (Indonesian Muslim Society in US)? InsyaAllah semua info diatas berikut referencesnya akan saya sertakan dan saya tidak akan teruskan sebelum diberikan ijin dari mbak. Terima kasih sekali lagi.
monggo mbak rasti/mas adi ... apabila ada manfaat kebaikannya silakan sebarkan ... kita sama-sama belajar kan ... semoga Allah senantiasa memberkahi silaturahim di multiply ini :-)
qiyani wrote on Jun 29
Cerita ya ng menarik,
makasih Mba Ratna,
manikamanika wrote on Jun 29
Bagus bgt mb..
putri06 wrote on Jun 29
TFS ... menarik banget :-)
ciciatjeh wrote on Jun 29
hampir beli buku ini minggu lalu...
tapi musti bersabar... nunggu bulan depan aja..
TFS.. bukunya memang menarik yaa
megami2008 wrote on Jun 29
Aq pengen jd seperti burung Hudhud.. Semangaaadd!!! Ganbatte Kudasai!!
tsuroiya wrote on Jun 29
kayaknya pernah dengar tentang buku ini, tapi belum baca lengkapnya...

TFS Mbak!
ratnajanuarita wrote on Jun 30
qiyani said
Cerita ya ng menarik,
makasih Mba Ratna,
ini dongeng filosof mbak ... jadi mesti sambil merenung hehe ...
ratnajanuarita wrote on Jun 30
Bagus bgt mb..
fariduddin attar memang luar biasa mbak ...
ratnajanuarita wrote on Jun 30
putri06 said
TFS ... menarik banget :-)
sama-sama mbak ... semoga bermanfaat juga :-)
ratnajanuarita wrote on Jun 30
hampir beli buku ini minggu lalu...
tapi musti bersabar... nunggu bulan depan aja..
TFS.. bukunya memang menarik yaa
kalo saya, untuk buku suka lupa diri hehe ... sekalipun dompet tongpes, pasti tiba-tiba lupa gak punya uang hehe ...
ratnajanuarita wrote on Jun 30
Aq pengen jd seperti burung Hudhud.. Semangaaadd!!! Ganbatte Kudasai!!
semangat reformasi diri ... :-)
ratnajanuarita wrote on Jun 30
kayaknya pernah dengar tentang buku ini, tapi belum baca lengkapnya...

TFS Mbak!
baca deh mbak ... cakep bener isinya ... coba cek rak bukunya mas ulil atau ... abah pasti pernah membacanya :-)
nunkhermawan wrote on Jul 1
cerita yang sangat bagus...thanks mba
ratnajanuarita wrote on Jul 1
cerita yang sangat bagus...thanks mba
ini hanya saya copy-paste dari situs tetangga ... dan ini hanya cuplikan saja ... aslinya sih buku, saya punya bukunya tapi malas menyalin atau mereviewnya di sini hehe ...
bundakirana wrote on Jul 2
Dina: saya pernah ziarah ke makam penulisnya
mbak Ratna: ah, udah tau
:D
ratnajanuarita wrote on Jul 2
Dina: saya pernah ziarah ke makam penulisnya
mbak Ratna: ah, udah tau
:D
duh ... bener-bener efektif ya selama di sana ... tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang berbuah kebaikan ... mudah-mudahan ... Allah sampaikan saya & keluarga juga ke sana ya ... sambil nengok panglima yang sedang sekolah di sana ... hihi ... mengkhayal ... :-D
bundakirana wrote on Jul 2
amiiiiiiiiiiiiiiin... mudah2an segala doa dan cita2 Mba Ratna diijabah Allah swt:)
cewekimanis wrote on Jul 8
Subhanalloh..................
tak ada kata2 yang mampu ana ucapkan. takjub dan entah apa yag terasa..............
masyaAlloh............
semoga saja kita mampu menyikap semua tabir dalam kehiduapan di dunia ini
op33ck wrote on Jul 8, edited on Jul 8
boleh nambahin ya teh....(kurang lebih sih sama ..)
dari buku "The Secret of your Spiritual DNA" kar Musa Kazhim penerbit HIKMAH

Dalam Musyawarah burung (Mantiq al-Thayr) macam macam watak manusia diumpamakan dengan beragm jenis burung .
Semua jenis burung ini diceritakan bertujuan mencari raja sejati (Tuhan) yang bernama Simurgh.

Perjalan mereka harus melewati 7 lembah yang melambangkan 7 keaadan yang pasti dilalui manusia: pencarian, cinta, pemahaman, pelepasan dan kemerdekaan ,kesatuan, ketakjuban dan terakhir kematian.

Di lembah pertama, semua burung menemui seratus kesulitan yang menindih.Mereka harus menemui banyak ujian saat mencoba melepaskan diri dari apa yang mereka anggap berharga. Begitu berhasil mereka dipenuhi dengan kerinduan yang meluap.

Lembah kedua burung2 tsb meninggalkan nalar demi cinta.

Lembah ketiga semua pengetahuan duniawi yang pernah mereka miliki tak lagi berguna. Ada pemahaman baru yang sama sekali berbeda hingga mereka ditimpa kebingungan, semua yang tampak baik bagi mereka kini tampak menjijikan.

Lembah keempat yaitu lembah pelepasan diri dan kemerekaan (kemedekaan dari hasrat untuk memiliki, dan keinginan untuk menemukan) tiba2 burung2 itu merasa seperti lolos dari kurungan kecil dan membesar seluas alam semesta. Dalam keadaan baru itu,mereka melihat bahwa dunia fana terlihat amat sangat kecil.

Lemabah kelima burung burung itu baru menyadari bahwa keaneka ragaman diantara mereka ternyata menimbulkan satu tujuan yang sama yaitu pencarian atas Simurgh.

Lembah keenam mata mereka melihat cahaya yang begitu menyilaukan sekaligus membuat takjub yang teramat sangat .
Ketakjuban itu membuat mereka bodoh, dan tidak bisa berbuat apa apa , tidak mengenal dan menghiraukan lagi satu dengan yang lain , bahkan mereka tidak menyadari keberadaan mereka disitu. Inilah lembah ketujuh , lembah kematian.
Setelah melewati 7 lembah dan sampai di singgasana Simurgh rupanya hanya tersisa 30 burung . Akan tetapi di Singgasana tersebut tak tampak Simurgh.
Cukup lama mereka menyadar bawa merekalah SI (tiga puluh) MURGH (burung) - bhs Persia -itu sendiri.

Perumpaan ini ditulis oleh Fariduddin Attar (1114-1220) seorang filsuf Persia yang percaya bahwa fitrah manusia adalah pencitraan diri Tuhan, jika mereka sungguh2 mencari dan mengarungi berbagai kesulitan hidup di ujung perjalan mereka akan mendapati bahwa Tuhan selalu ada dan hadir dalam diri (fitrah) mereka.
ratnajanuarita wrote on Jul 9
amiiiiiiiiiiiiiiin... mudah2an segala doa dan cita2 Mba Ratna diijabah Allah swt:)
amiiiiiin Ya Rahman Ya Rahiim ...
ratnajanuarita wrote on Jul 9
semoga saja kita mampu menyikap semua tabir dalam kehiduapan di dunia ini
insya Allah ...
ratnajanuarita wrote on Jul 9
op33ck said
"The Secret of your Spiritual DNA" kar Musa Kazhim penerbit HIKMAH
o iya ... saya juga sudah selesai membaca buku ini ... buku Rhenald Kasali, Kazuo Murakami, dan Musa Kazhim yang ketiga-tiganya membahas perihal DNA ini memang menarik untuk dibaca semua, biar paripurna.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help