Beberapa hari lalu saya membaca “Jalan-jalan Penuh Keindahan”-nya Gede Prama. Seperti biasa, beliau selalu inspiring dengan spiritual insight-nya. Salah satu renungannya yang menarik adalah bahwa untuk menuju “surga”, jalannya melalui “neraka”. Di sini saya beri tanda kutip untuk kedua kata yang kondisinya berseberangan ini, sekedar untuk meluaskan makna dari keduanya.
Menjelang pukul 07 pagi ini, di rumah sedang agak santai, karena Afif, panglima mudaku masih libur karena sekolahnya dipakai ujian anak kelas 3. Berdua Abang, aku menyaksikan tayangan tv sekilas tentang heboh kenaikan bbm. Di tengah keresahan membayangkan multiplier effect kenaikan harga ini, kami tertumbuk pada tayangan “percikan sanubari” di trans tv tentang anak-anak yang harus mencari nafkah bagi keluarganya. Ada pengamen, penambal ban, penjual cobek, pemulung, dllsb.
Yang membuatku terenyuh, ketika benak mereka satu per satu ditelusuri oleh kru tv.
Di kebeliaan mereka, begitu tertanam semangat untuk menghasilkan sesuatu untuk keluarganya, semata-mata agar mereka tetap bisa makan hari itu juga agar mereka bisa terus sekolah. Walau kenyataannya, tidak sedikit dari mereka terpaksa harus merelakan kesempatan sekolahnya kalah oleh perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di usia yang seharusnya mereka bisa bermain dengan teman-temannya, mereka benar-benar harus berteman dengan kekejaman kenyataan hidup. Betapa hatiku makin melorot saat mereka ditanya mau jadi apa kelak … mau jadi polisi … mau jadi penyanyi … mau jadi pegawai … mau jadi dokter … begitu tingginya cita-cita itu tumbuh di tengah keprihatinan …
Aku terkenang masa laluku … hingga sebelum menikah kehidupanku pun cukup memprihatinkan … berbagai hantaman kehidupan datang silih berganti.
Memasuki usia dewasa, aku mulai memahami bahwa segala kesulitan hidup yang telah dilalui adalah madrasah ruhaniah yang Allah anugerahkan kepadaku … justru dengan melaluinya, suka tidak suka, mau tidak mau, telah mengantarkan aku pada pintu kedewasaan dan kebijaksanaan. Walau aku pada hari ini, belumlah terhitung sebagai manusia dewasa apalagi bijak, tetapi pintu-pintu kesedihan dan penderitaan yang sudah kumasuki telah membantuku memiliki orientasi menuju kedewasaan dan kebijaksanaan. Tentu namanya juga orientasi … jadi sifatnya hanya “mengarah kepada” bukan “sudah menjadi” … mudah-mudahan dengan “mengarah kepada” inilah yang menjadi sebuah proses positif bagiku menuju segala kebaikan hidup (dunia wal akhirat).
Jadi, benarlah kiranya renungan Gede Prama … “menuju ‘surga’ melalui ‘neraka’ jalannya”
Aku memiliki keyakinan, anak-anak tadi akan berbeda kedewasaan dan kebijaksanaannya dengan anak-anakku yang begitu nyaman dalam pelukan hangat bundanya, segala kemudahan hidup, bermain tanpa beban mikirin duit, dll. Meski kami mencoba memekakan hati kedua panglima muda kami dengan mengajarkan kedermawanan, berbagi secara rutin kepada mustadh’afin, melihat kantong-kantong kemiskinan di pelosok bandung dan sekitarnya … tapi tetap akan berbeda dengan pejuang cilik tadi …
Akhirnya … dengan kenaikan harga bbm yang 28,7% ini … aku sama sekali bukan apa-apa dibanding anak-anak yang terus menjadi pahlawan bagi keluarganya itu … karena walau mulai terasa sesak, tapi (alhamdulillah) kami masih memiliki kelonggaran budget, sedangkan keluarga dari anak-anak itu yang pasti akan menjadi pengantri BLT (apabila termasuk dalam list) … aku memang bukan apa-apa … tapi mudah-mudahan Allah senantiasa anugerahi sesuatu yang bisa menjadi apa-apa bagi human investment untuk anak-anak yang punya semangat sekolah dan mengubah hidupnya …
Semoga kita semua Allah mampukan untuk dapat mencapai "surga" itu ...
kayak pepatah "berakit rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian"...kira2 bisa diasumsikan begitu kali ya mbak
whoaaa.............. terharu baca ceritanya. Pengen banget menanamkan jiwa seperti ini, mau bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu agar bisa memiliki sifat apresiatif terhadap banyak hal. Teh Ratna kan tau sendriri jama sekarang gimana apalagi yang ortunya berkecukupan, apa2 yang diinginkan langsung terpenuhi. pengorbanan untuk mendapatkannya jadi minim bikin anak jadi manja.
seharusnya kita memang lebih banyak bergaul dengan orang yang kekurangan agar bisa mensyukuri kelebihan yang kita miliki, bukan bergaul dengan orang2 yang berkelebihan jika nantinya hanya meratapi kekurangan yang kita miliki
kalo melihat tayangan yg menggambarkan anak2 yg musti banting tulang suka bertanya2..'siapa yg salah..? orang tuakah..? ekonomi? pemerintah..? ah pokoknya jadi banyak pertanyaan yg memenuhi benak saya.. Tapi sisi baiknya adalah saya akan semakin bersyukur anak saya tidak harus menjalani hal seperti itu...duh kebayang.juragan cilik musti bawa2 cobek di pinggir jalan..tidaaaakkkk !!! Hal itu memacu saya selagi mampu untuk bisa mengatur ekonomi rumah tangga supaya anak saya bisa sekolah setinggi mungkin. Karena dengan pendidikan nasib buruk bisa dirubah menjadi cerah tentunya dengan bekerja keras atau belajar dengan giat.
Sungguh memprihtinkan keadaan negara kita yang jauh terpuruk dibandingkan negara-negara tetangga kita yang merdekanya belakangan. Di mana ya kesalahannya?
yah...aku juga liat itu acara...sedih melihatnya...anak2 sekecil itu udah mencari nafkah u/ dirinya bahkan u/ ortu mereka....SIAPA YANG SALAH? mungkin banyak faktor yg menyebabkan itu terjadi...tapi kalau kita selalu mencari siapa yg salah...pasti engga ada habis2nya...sekarang banyak sekali org menyalahkan pemerintah yg tdk perduli dgn kesusahan rakyatnya...tapi apa betul itu semua kesalahan pemerintah? dan semua org menunggu tindakan pemerintah...Pertanyaannya Kenapa kita musti menungu org lain berbuat sesuatu...kenapa kita engga bertanya pada diri kita "APA YANG BISA KITA LAKUKAN?"
Waduuuh... Mbak-e, tulisannya bagus sekali... Ikut meng-amin-i doanya Mbak. Mudah-mudahan kita semua suda berada di jalan menuju "surga'nya Allah, baik "surga" di dunia maupun surga di akhirat.. Mbak, jadi pengen mampir lagi ke rumah Mbak Ratna, moga-moga ada kesempatan longgar waktu untuk banyak ngobrol sama Mbak Ratna
Moga anak-anak itu selalu yakin akan rahmat Allah Swt, dan menganggap kesulitan yg mereka hadapi itu sebagai madrasah ruhaniyah mereka (nyuplik kata-kata Mbak Ratna)...
kayak pepatah "berakit rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian"...kira2 bisa diasumsikan begitu kali ya mbak
whoaaa.............. terharu baca ceritanya. Pengen banget menanamkan jiwa seperti ini, mau bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu agar bisa memiliki sifat apresiatif terhadap banyak hal. Teh Ratna kan tau sendriri jama sekarang gimana apalagi yang ortunya berkecukupan, apa2 yang diinginkan langsung terpenuhi. pengorbanan untuk mendapatkannya jadi minim bikin anak jadi manja.
seharusnya kita memang lebih banyak bergaul dengan orang yang kekurangan agar bisa mensyukuri kelebihan yang kita miliki, bukan bergaul dengan orang2 yang berkelebihan jika nantinya hanya meratapi kekurangan yang kita miliki
aduh ... dindaku yang pinter masak ini ... kayaknya kalo sedang meracik bahan sambil merenung ya? gak percuma jauh2 ke tko ... wisdomnya begitu kental :-) ... iya vi ... orang tua & guru2 kita kan sering ngingetin, lebih baik melihat ke "bawah" dan bersyukur ... daripada ke "atas" malah menyesali ... mudah2an kita senantiasa Allah mampukan menjadi orang yang pandai bersyukur ya ...
kalo melihat tayangan yg menggambarkan anak2 yg musti banting tulang suka bertanya2..'siapa yg salah..? orang tuakah..? ekonomi? pemerintah..? ah pokoknya jadi banyak pertanyaan yg memenuhi benak saya.. Tapi sisi baiknya adalah saya akan semakin bersyukur anak saya tidak harus menjalani hal seperti itu...duh kebayang.juragan cilik musti bawa2 cobek di pinggir jalan..tidaaaakkkk !!! Hal itu memacu saya selagi mampu untuk bisa mengatur ekonomi rumah tangga supaya anak saya bisa sekolah setinggi mungkin. Karena dengan pendidikan nasib buruk bisa dirubah menjadi cerah tentunya dengan bekerja keras atau belajar dengan giat.
iya saya juga suka diam merenungkannya ... lingkarannya begitu sulit dicari ujungnya ...
kami belajar dari orang tua kami yang begitu rela perih demi menyekolahkan anak2nya ... insya Allah kami juga seperti mbak lusy ... tayangan tadi juga mengingatkan saya yang cenderung boros untuk lebih berhemat dan "perih" menabung untuk sekolah masa depan anak2 ... wah baca komennya mbak lusy jadi semangat nih :-)
miris kalo baca ginian mba,kasian anak2 itu kehilangan masa kanak2 mereka tapi mungkin buat mereka sendiri ga berasa kehilangan apa ya mba....:((
kalo dari tayangan tadi ... terlihat jelas kehilangan itu mbak ... dan itulah yang membuat saya benar2 sedih tadi pagi ... rasanya ada semacam tanggung jawab yang tidak mampu saya lakukan ...
saya berharap, tayangan tadi akan menggugah banyak orang untuk lebih bersemangat lagi melakukan human investment untuk anak2 dari keluarga tidak mampu ...
Sungguh memprihtinkan keadaan negara kita yang jauh terpuruk dibandingkan negara-negara tetangga kita yang merdekanya belakangan. Di mana ya kesalahannya?
kita ini sudah menjadi bangsa yang semakin individualis pak ... altruism sudah mulai digantikan egoism ... perilaku korup yang tidak hanya dilakukan para pejabat, tetapi juga merata di sesama rakyat ... tayangan kekorup-an ini terlihat ketika penjual es balok menggunakan air sungai yang pasti berbumbu e-colli ... spbu yang mencampur air di solarnya, es cendol yang menggunakan bedak, jajanan semacam nata de coco yang dipercepat fermentasinya dengan pupuk ZA ... cape dehhhh ...
yah...aku juga liat itu acara...sedih melihatnya...anak2 sekecil itu udah mencari nafkah u/ dirinya bahkan u/ ortu mereka....SIAPA YANG SALAH? mungkin banyak faktor yg menyebabkan itu terjadi...tapi kalau kita selalu mencari siapa yg salah...pasti engga ada habis2nya...sekarang banyak sekali org menyalahkan pemerintah yg tdk perduli dgn kesusahan rakyatnya...tapi apa betul itu semua kesalahan pemerintah? dan semua org menunggu tindakan pemerintah...Pertanyaannya Kenapa kita musti menungu org lain berbuat sesuatu...kenapa kita engga bertanya pada diri kita "APA YANG BISA KITA LAKUKAN?"
menyontek aa gym, mulai dari yang kecil2, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga ...
guru saya pernah ngingetin begini, kalo kita bisanya cuma membiayai satu anak asuh saja, lakukanlah. kalo belum mampu, doakanlah.
Waduuuh... Mbak-e, tulisannya bagus sekali... Ikut meng-amin-i doanya Mbak. Mudah-mudahan kita semua suda berada di jalan menuju "surga'nya Allah, baik "surga" di dunia maupun surga di akhirat.. Mbak, jadi pengen mampir lagi ke rumah Mbak Ratna, moga-moga ada kesempatan longgar waktu untuk banyak ngobrol sama Mbak Ratna
Moga anak-anak itu selalu yakin akan rahmat Allah Swt, dan menganggap kesulitan yg mereka hadapi itu sebagai madrasah ruhaniyah mereka (nyuplik kata-kata Mbak Ratna)...
amin ... yang pasti ... saya belajar banyak dari ketegaran mereka :-)
Semoga kita semua allah mampukan untuk dapat mencapai "surga" itu ...
amien...
tfs mbak... jadi mikir, apa saya sudah mendapat 'ujian' itu. kalau sudah, apa saya berhasil melewatinya. kayaknya masih jauh banget dibandingin anak2 yang mbak ceritain
ternyata bu.... buat kita yg suka gak sadar ini "enough is never enough"........... rasanya kuraaaaaannnnggg ajaaa.... padahal Alhamdulillah anak2 kita jauh lebih beruntung daripada mereka yg dijalan.........
InsyaAllah suatu saat nanti ..anak2 yang keras berjuang untuk hidupnya itu diberikan jalan2 kemudahan oleh Allah SWT... Mbak Ratna...harga2 di Bandung krasa banget naiknya yah Mbak..? untuk semua orang, atau hanya orang kecil saja..?..
jadi penasaran baca bukunya Gede Prama..sering dengar sih, namanya.. TFS ya Mbak.. saya juga ehm, yah, resah juga nih soal Kirana yg kurang sosialisasi.. tapi minimalnya saya gak selalu menuruti apa yg dia minta..selalu pake syarat, biar ga terasa hidup ini gampang2 aja..gitu...
tfs mbak... jadi mikir, apa saya sudah mendapat 'ujian' itu. kalau sudah, apa saya berhasil melewatinya. kayaknya masih jauh banget dibandingin anak2 yang mbak ceritain
insya Allah ... pelajaran kan bisa kita dapat dari pengalaman orang lain ... tidak harus mengalami sendiri ... semangat ya!!!
ternyata bu.... buat kita yg suka gak sadar ini "enough is never enough"........... rasanya kuraaaaaannnnggg ajaaa.... padahal Alhamdulillah anak2 kita jauh lebih beruntung daripada mereka yg dijalan.........
ah bener banget tih ... yang penting, rasa syukur tidak boleh sirna dari hati dan ucapan kita ya tih ...
InsyaAllah suatu saat nanti ..anak2 yang keras berjuang untuk hidupnya itu diberikan jalan2 kemudahan oleh Allah SWT... Mbak Ratna...harga2 di Bandung krasa banget naiknya yah Mbak..? untuk semua orang, atau hanya orang kecil saja..?..
insya Allah ... biasanya penderitaan tidak pernah berujung sia-sia ... Allah sudah menanti mereka dengan hadiah indah di seberang sana ... semoga kemuliaan dan kehormatan hiduplah hadiah itu :-)
sejujurnya, mbak sudah mulai mengeluhkan harga2 itu ... bbm belum naik, harga2 sudah curi start naik lebih cepat dengan kenaikan yang memberatkan ... nanti ketika bbm sudah diumumkan kenaikannya, mereka akan naikkan lagi ... kita yang nasibnya cuma jadi konsumen tidak punya pilihan lain ... hanya jadi pengguna akhir dari rangkaian panjang produksi dan industri ...
semoga Allah senantiasa memberkahi rizki kita ... sehingga tetap memiliki manfaat tidak hanya untuk kita sekeluarga tetapi juga untuk banyak pihak lainnya :-)
jadi penasaran baca bukunya Gede Prama..sering dengar sih, namanya.. TFS ya Mbak.. saya juga ehm, yah, resah juga nih soal Kirana yg kurang sosialisasi.. tapi minimalnya saya gak selalu menuruti apa yg dia minta..selalu pake syarat, biar ga terasa hidup ini gampang2 aja..gitu...
saya suka dengan tulisan2 dia din ... artikel2 beliau di koran pun cantik2 ... apalagi selalu mengutip bait2-nya rumi :-) selain dia, mbak juga suka dengan gaya kontemplatifnya miranda risang ayu (adik kelas mbak di fh dulu) ... mungkin karena filsafat adalah salah satu elemen dalam bidang hukum, jadi mbak suka dengan gaya2 seperti mereka ini :-) ...
iya din ... rasanya jadi orang tua jaman sekarang mungkin berbeda dengan seperti orang tua kita dulu ya ... situasinya bener2 menciptakan tantangan yang berat ... akhirnya kita juga dituntut untuk kreatif sekaligus strategis dalam mendidik anak2 kita ... hmmm ... smg Allah selalu mendampingi kita ...
aku mulai memahami bahwa segala kesulitan hidup yang telah dilalui adalah madrasah ruhaniah yang Allah anugerahkan kepadaku … justru dengan melaluinya, suka tidak suka, mau tidak mau, telah mengantarkan aku pada pintu kedewasaan dan kebijaksanaan.
wuihhh...sedap, ibuku juga pernah bilang begitu mbak Ratna, beliau bilang: semakin keras hidupmu semakin lapang hatimu menjalani sandungan berikutnya. TFS
wuihhh...sedap, ibuku juga pernah bilang begitu mbak Ratna, beliau bilang: semakin keras hidupmu semakin lapang hatimu menjalani sandungan berikutnya. TFS
itulah yang mbak rasakan ... jadi jangan takut ... hadapi ... karena kita tidak pernah akan sendirian ... ada Allah yang senantiasa menemani kita melaluinya :-) semangat!!!
waktu kecil saya pernah menikmati susahnya hidup...di hutan di daerah trans...makan seadanya, kadang nasi campur gula..nasi campur air petsin (he..he.. menu yang aneh bukan) dst..dst..tapi satu hal yang saya syukuri dan membuat hati kaya..."saya tidak pernah kehilangan kasih sayang mamah dan bapak". Terutama mamah...sering sekali bahkan tiap hari selalu membawa kami bertiga mengembara ke negeri mana saja yang bisa kita jumpai dalam ceritanya, hingga kami tetap merasa "Kaya". Yang sering saya doakan semoga para pejuang cilik di jalanan itu...mereka juga tetap bisa mendapatkan kehangatan kasih sayang kedua orang tua mereka, walau kesusahan yang selalu mereka jumpai di depan mata.
waktu kecil saya pernah menikmati susahnya hidup...di hutan di daerah trans...makan seadanya, kadang nasi campur gula..nasi campur air petsin (he..he.. menu yang aneh bukan) dst..dst..tapi satu hal yang saya syukuri dan membuat hati kaya..."saya tidak pernah kehilangan kasih sayang mamah dan bapak". Terutama mamah...sering sekali bahkan tiap hari selalu membawa kami bertiga mengembara ke negeri mana saja yang bisa kita jumpai dalam ceritanya, hingga kami tetap merasa "Kaya". Yang sering saya doakan semoga para pejuang cilik di jalanan itu...mereka juga tetap bisa mendapatkan kehangatan kasih sayang kedua orang tua mereka, walau kesusahan yang selalu mereka jumpai di depan mata.
subhanallah ... menetes air mata saya pagi ini mbak ita ... membayangkan keindahan cinta keluarga mbak melipur "keprihatinan" hidup ... saya juga pernah melalui masa-masa sulit itu mbak ... tapi memang, keindahan cinta bersama kedua orang tua kita tidak pernah sebanding dengan kesulitan yang harus dilalui ... cinta mereka kepada kita memang sepanjang masa ... semoga Allah senantiasa membantu kita untuk memuliakan mereka ya mbak ita ... :-) syukran jazil sudah berkenan membagi kenangan indahnya di sini :-)
maka sebaiknya kita sebagai sesama umat muslim merapatkan barisan untuk membantu mereka yang berkekurangan..jangan sampe kita mencak mencak jika ada umat lain yang menyantuni dan akhirnya berubah keyakinan...jgn jgn kita juga punya andil dengan ketidak pedulian kita.....naudzbillah
Rakyat Endonesa tuh sebenernya kaya2 lho... Tapi ini pendapat yang relatif. Karena ukuran kaya atau miskin kadang2 kabur antara person satu dengan yang lain. Jadi kalau ada kenaikan BBM atau harga2 barang/sembako, saya yakin rakyat Endonesa ga "terlalu" keberatan....
ya itulahh..kita itu kaya tp gak pake hati, jadi sama aja...bahkan ngrasanya miskin, sampe sampe pada pd gak mau ngaku kayak krn takut ditarik pajak..
rakyat kita udah biasa dengan naek..naek dan naekkkk terusss..cuman...harus ada bukti juga kalo kenaikan itu diikuti peningkatan pada hal yg laenn...duh terlalu berharap..
maka sebaiknya kita sebagai sesama umat muslim merapatkan barisan untuk membantu mereka yang berkekurangan..jangan sampe kita mencak mencak jika ada umat lain yang menyantuni dan akhirnya berubah keyakinan...jgn jgn kita juga punya andil dengan ketidak pedulian kita.....naudzbillah
kelihatannya begitu mbak ... saya dkk pernah ke daerah binaan pengajian kami, di sana salah satu kendala adalah bahasa daerah. dari kelompok lain yang sering kita sirikin itu, selalu datang ke daerah dengan bahasa daerah yang halus, penuh cinta, dan sangat menolong masyarakat. mereka bawakan obat2an, beasiswa, sembako dll yang begitu berarti bagi orang desa ... dengan bahasa dan tetek bengeknya, mereka sudah merebut hati masyarakat desa dan itu lebih dari cukup untuk meyakinkan bahwa agama merekalah yang solving their problem ... nah ... kita yang sibuk ribut tinggal gigit jari deh :-)
itulah..sementara kita sibuk dengan nilai hitam dan putih..menghakimi orang jahat hingga jurang pemisah makin dalam...makin kuat image bhw islam adalah agama yg kejam dan seolah tanpa ampun....ini tantangan buat kita. membuktikan bahwa islam sebagai rahmatan lil alamin...
itulah..sementara kita sibuk dengan nilai hitam dan putih..menghakimi orang jahat hingga jurang pemisah makin dalam...makin kuat image bhw islam adalah agama yg kejam dan seolah tanpa ampun....ini tantangan buat kita. membuktikan bahwa islam sebagai rahmatan lil alamin...
insya Allah semoga semakin banyak lagi yang menyadarinya :-) dan segera rescue ... bukan berantem lagi :-D