Pagi ini aku kembali terkikik-kikik menyaksikan tayangan bertajuk “John Pantau” di sebuah stasiun tv. Dengan keisengan seriusnya, si John bertanya secara random kepada siapa saja yang ditemuinya tentang sila-sila dari PANCASILA.
Beberapa pejalan kaki dengan pakaian keren-keren, … tidak satupun mampu menjawab sila-sila dari falsafah bangsa kita itu.
Yang jadi dagelan adalah ketika si John menanyai seorang ibu petugas kebersihan,
“sila ketiga apa bu?” “Indonesia” “sila kedua?” “Republik Indonesia” “nah kalo sila pertama?” “Indonesia Merdeka!!!”
Seorang tukang ojek juga tidak luput dari sasaran si John iseng ini, “pak, sila ketiga apa pak?” “garuda” “sila kedua?” “garuda indonesia” “sila kesatu?” “gak hafal” “sila keempat?” “gak hafal” “sila kelima?” “gak hafal” “sila keenam” “gak hafal” “sila ketujuh?” “gak hafal”
Disamperin juga seorang polisi berhelm, “pak polisi, sila ketiga apa pak?” Pertanyaan ini secara mencengangkan disambut dengan full cengengesan.
Muncul pemuda dengan wajah penuh tindikan di bibir, hidung, alis, langsung disodori pertanyaan, “mas, sila ketiga Pancasila apa mas?” pemuda ini diam sejenak seolah sedang mengingat, lalu dengan yakin dia menjawab, “Persatuan Indonesia” … sontak berkumandang, “Indonesia …. tanah airku … tanah tumpah darahku … ”
Yang agak menggelikan, ketika John bener-bener serius isengnya, muncul sebagai office boy yang mengantarkan minuman teh untuk Menteri Pemuda & Olah Raga. Kembali, dia menanyakan lambang dari sila-sila Pancasila yang ada di dada burung Garuda. Pak Menteri berkelit berkali-kali dengan membalikkan pertanyaan tersebut kepada si John. Yaaa mungkin saja beliau memang hendak mengetes balik si John hehe adegan ini lucu sekali. Tapi pak Menteri cukup beruntung karena para ajudan/staff beliau umumnya dapat menjawab pertanyaan John dengan tangkas.
Aku meringis miris. Bukan berarti aku ini orang yang pancasilais … tetapi justru karena merasakan nyata benar perubahan jaman itu. Sekalipun usiaku sudah memasuki angka empat, namun masih segar dalam ingatanku bagaimana ketika masa kecilku dulu setiap anak sekolah PASTI hafal Pancasila, bahkan bersama butir-butirnya. Begitu kontras dengan kenyataan (faktual dan aktual) yang coba dipotret oleh tayangan tadi. Pancasila seolah menjadi aksesoris yang membuat alergi sekujur tubuh.
Kemirisan ini sebetulnya bukan baru saja kurasakan akibat tayangan tadi, karena sejujurnya kegelisahanku ini sudah menggangguku sejak aku mulai mengkhususkan diri pada bidang kajian hukum perusahaan dengan spesifikasi pada area good corporate governance, saat studi master di tahun 1998. Untuk menuntaskan jawaban atas keresahan tersebut, maka salah satu bahasan dalam disertasi yang sedang kukerjakan, kebetulan, menyinggung pula perihal keberadaan Pancasila dalam kerangka falsafah bangsa Indonesia.
Mengapa aku tertarik untuk mengaji kembali Pancasila? Ngapain susah-susah menjadi orang yang tidak populis? Justru karena starting point-nya adalah bidang kajian saya tadi. Dalam menyelami good governance, kita harus mendalami makna universal principles yang melandasinya. Adapun prinsip-prinsip yang melandasi good governance yang dilakukan baik oleh pihak swasta maupun pemerintah seyogyanya merujuk pada akar budaya setempat. Semata-mata untuk tidak menimbulkan resistensi. Tapi sebentar … apa itu good governance? Sederhananya, itu adalah akhlakul karimah. Tentu bagi yang beragama Islam tidak asing dengan term tersebut. Tetapi dalam konteks berbangsa, landasan akhlak yang baik ini pada dasarnya termaktub dalam sila-sila Pancasila yang merupakan hasil perenungan founding fathers kita. Beliau-beliau ini menyarikannya dari akar budaya bangsa Indonesia. Sedangkan selama dekade belakangan ini, pihak swasta dan pemerintah begitu mengagungkan pentingan good governance dengan senantiasa merujuk pada prinsip-prinsip yang dibawa dari barat (TARIF principles: Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Fairness). Sebagai konsultan yang juga ngurusi implementasi governance di sektor swasta danpublik, berkali-kali aku menjadi saksi keengganan perusahaan-perusahaan dan juga dari pihak birokrat untuk menerapkan good governance yang sejatinya adalah akhlak yang baik ini, di lingkungan institusinya. Umumnya berkilah dengan alasan … “ah itu kan barat punya, kenapa kita harus latah ngikutinya?”. Sering aku sodorkan, bagaimana dengan nilai dan prinsip yang ada dalam Pancasila? Di barat tidak dikenal Pancasila. Cuma ada di Indonesia. Karena memang ini inti sari akar budaya bangsa.
Baiklah … di hari Kebangkitan Nasional ini … selagi hari belum berganti ke tanggal 21, kubacakan kembali dengan semangat patriotik ... Pancasila yang telah diwasiatkan para Bapak Bangsa:
Sila Kesatu: KETUHANAN YANG MAHA ESA (lambangnya: BINTANG)
Sila Kedua: KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB (lambangnya: POHON BERINGIN)
Sila Ketiga: PERSATUAN INDONESIA (lambangnya:RANTAI)
Sila Keempat: KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN (lambangnya:BANTENG)
Sila Kelima: KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA (lambangnya:PADI & KAPAS)
he he he lumayan tulisan urutan pancasila buat si kakak mengenal pancasila, soalna saumur2 di jepang tara nyinguung soal eta.. duh hampura nya endonesia...
Pancasila...............itu termasuk idiologi atau hanya asas yo mba ^_^
kalo dalam teori grundnorm, ideologi dan asas berada pada satu level. pancasila, menurut saya ya falsafah bangsa yang di dalamnya dapat disimpulkan asas-asasnya ... ini bakal jadi kuliah sendiri de :-)
he he he lumayan tulisan urutan pancasila buat si kakak mengenal pancasila, soalna saumur2 di jepang tara nyinguung soal eta.. duh hampura nya endonesia...
haha ... di jepun mah atuh aya BUSHIDO tea nya ...
jadi tetep dunks ngga boleh dijadiin AZAZ.......................!
mbak maklum dengan pertanyaan sensitif begini de ... kalo dikaitkan dengan agama ... ya akan debatable ... tatapi mbak pernah mencoba memahaminya sebagai modus vivendi atau sebagai nexus dari keberagaman di negeri ini .. pada konteks ini, sulit untuk dibuat bantahan ... yang pasti pancasila bukanlah agama ... apabila dikaitkan dengan asas ... dalam konteks hukum, bukan hanya ajaran agama (atau kitab suci) saja yang dapat mengandung asas ...
Jadi ingat ketika upacara bendera dulu di smp ... mau lapor sekalian nih .... kalau saya hafal lho isi Pancasila hanya lambang yang kedua dan ketiga selalu harus ngingat-ngingat itu perus garuda di mana letaknya, sebab saya tuh seringkali terkesan pohon beringin itu bisa mengayomi seluruh bangsa Indonesia yang beragam adat istiadat ini ... jadi bisa melambangkan persatuan Indonesia hehehe, tapi rantai juga mengikat jadi satu. Karena itu kalau anak-anak nanya saya selalu harus mikir dulu .. hehe ... Merdeka !! Semoga Indonesia bisa bangkit dan bangkit dan maju
Mungkin karena trauma keseringan disuruh ngapalin dulu ya, jadi begitu lulus sekolah ya dibuang jauh-jauh... Padahal nggak banyak juga lho, baru 5 sila, belum butirnya atau ngitung bulu sang garuda.
Jadi ingat ketika upacara bendera dulu di smp ... mau lapor sekalian nih .... kalau saya hafal lho isi Pancasila hanya lambang yang kedua dan ketiga selalu harus ngingat-ngingat itu perus garuda di mana letaknya, sebab saya tuh seringkali terkesan pohon beringin itu bisa mengayomi seluruh bangsa Indonesia yang beragam adat istiadat ini ... jadi bisa melambangkan persatuan Indonesia hehehe, tapi rantai juga mengikat jadi satu. Karena itu kalau anak-anak nanya saya selalu harus mikir dulu .. hehe ... Merdeka !! Semoga Indonesia bisa bangkit dan bangkit dan maju
hehe ... malah jaman saya smp kalo jadi petugas upacara juga harus hafal "janji murid" ... saya gak tau disiplin model beginian masih ada gak ya ... sedangkan upacara saja sudah tidak lagi menjadi hal rutin seperti jaman dulu ... MERDEKA!!!
Mungkin karena trauma keseringan disuruh ngapalin dulu ya, jadi begitu lulus sekolah ya dibuang jauh-jauh... Padahal nggak banyak juga lho, baru 5 sila, belum butirnya atau ngitung bulu sang garuda.
hehehe ... memang kental dengan falsafah jawanya ...
wah om Jhon coba tanya saya,, aku sebut satu2 deh hihihi..... kalo aku malah sejak tinggal di Negeri Orang jadi lebih nasionalis hihi,,, bawaan kangen sama tempe dan bakso hiks hiks
Aku denger yang kelima udah direvisi jadi: "KEADILAN SOSIAL BAGI YANG BISA BAYAR". Betul engga ya?
hehe pak margono memang selalu muncul dengan ide unik (atau plesetan) ... pernah denger gak pak sila pertama itu katanya: "keuangan yang maha kuasa" atau "gusti Allah ga ono koncone", sila kedua: "ojo kejem-kejem", sila ketiga: "mangan ora mangan ngumpul" hehehe ...
wah om Jhon coba tanya saya,, aku sebut satu2 deh hihihi..... kalo aku malah sejak tinggal di Negeri Orang jadi lebih nasionalis hihi,,, bawaan kangen sama tempe dan bakso hiks hiks
hehe iya ya mustinya dia nyemperin orang2 Indonesia yang mukim di luar ... kan lagunya juga begini: "walaupun banyak negeri kujalani ... yang masyhur permai di kata orang ... tetapi kampung dan rumahku ... di sanalah ku rasa senang ... tanah ku yang kucintai ... engkau kubanggakan ..."
yaaa ... paling tidak itulah pula yang selalu menghinggapi hati kala sedang berada jauh dari negeri kelahiran ... terutama saat saya harus mukim di OZ sebentar 7 tahun silam :-)
aku nonton juga tuh john pantau. anak2ku (12 & 7 th) yg ribut malah, ih, masak polisi gk hapal? haa, masak pancasila ada tujuh? haa.. masak gk tau lambang sila ke tiga?? dst, dst.. :)) mulut sih nyengir, di hati sih miris banget :'(
aku nonton juga tuh john pantau. anak2ku (12 & 7 th) yg ribut malah, ih, masak polisi gk hapal? haa, masak pancasila ada tujuh? haa.. masak gk tau lambang sila ke tiga?? dst, dst.. :)) mulut sih nyengir, di hati sih miris banget :'(
hehe ... sekarang kita ngapalin bareng aja ya ... :-)))
maaf mbk, postingannya yang di atas sebagian ngarang yah, soalnya saya juga liat acara ini, tapi gak ada petugas kebersihan sama pak polisi yang diwawancarai. Yang diwawancarai yaitu anak sma, guru PPKn+ guru mata pelajaran lain, anak kuliahan (3 cowok, 1 cewek berjilbab), menegpora, pegawai di kantor menegpora. hehehehehe
maaf mbk, postingannya yang di atas sebagian ngarang yah, soalnya saya juga liat acara ini, tapi gak ada petugas kebersihan sama pak polisi yang diwawancarai. Yang diwawancarai yaitu anak sma, guru PPKn+ guru mata pelajaran lain, anak kuliahan (3 cowok, 1 cewek berjilbab), menegpora, pegawai di kantor menegpora. hehehehehe
yang petugas kebersihan dan pak polisi diwawancara sebelum pemuda beranting ... lalu ada iklan baru anak sekolahan, menpora, dst ... kayaknya mbak rere ketingga;an nontonnya ya :-)
Sejak jaman sd, mule dari PMP, PSPB sampe penataran P4, koq cara penyampaiannya seingat saya tidak satu pun yang interaktif. Rata2 monoton & membosankan. Tapi don't worry, sila2 pancasila, saya masih apal koq mbak!:) Jaman kuliah pula, sempat saya belajar Public Policy...pun kurang lebih sama! Inget, hanya untuk ujian dan dapet nilai bagus, stlh itu...menguap smua deh:)
good corporate governance?! Tentunya punya daya tarik tersendiri dong untuk mbak... Sukses selalu deh mbak!
koq cara penyampaiannya seingat saya tidak satu pun yang interaktif. Rata2 monoton & membosankan.
barangkali sesuai jamannya saat itu ya ... maksudnya gaya orde yang berkuasa saat itu kan selalu dengan pendekatan antik hehehe (indoktrinasi) ... jadi ya kita nerimanya sebagai beban ... dan idem ditto ... saya juga sekedar dapat angka dan lulus saja :-D
gcg ... yaaa ... ini memang perjuangan saya ... terima kasih doanya :-)
Mantep tulisannya Mbak. Hhhh...masih inget berdarah-darahnya menghapal Pancasila berikut butir-butirnya, belum lagi ikut penataran P4 pola pendukung 100 jam sampai 2x dengan hasil yang memuaskan dan sangat memuaskan. Walaupun namaku Pancasiwi, tapi insya Allah mentalku Pancasila koq Mbak :D
Mbak, di sekolah ni lagi musim anak-anak pramuka tes SKU. Salah satunya harus dites menyanyikan lagu Indonesia Raya. bisa ditebaaaak......jaraaaang banget yang hapal sampe baris terakhir ^_^
untung dulu jamannya sekolah dari SD sampe SMA setiap upacara senin, sering banget kebagian tugas kalo gak baca pembukaan UUD 45 atau gak Pancasila, jadi masih rada-rada hafal gitu....eh..eh...apa iya ya...btw masih inget gak ditaro belah mana ya lambang padikapas sama rantai?! ....halaah...! *teteeep*
Wah...asli lucu dengar ceritanya...Tapi asli mbak ratna...thanksnya udah share disini.. jangan2 kalo pas johnnya yg nanya ke yeyen, yen sendiri bisa lupa...hihhiiih
lha...saya dulu tk aja udah belajar dikit lagu wajib, anak sekarang, mana ada.....jadi emaknya repot harus ngajarin segala rupa termasuk lagu indonesia raya
Jaman orba giat banget Penataran P4, tapi hasilnya ya hafal doang sampai sak butir-butirnya, sak pasal-pasalnya tapi dalam kehidupan sehari-hari wes ewes nggak dijalankan. Sekarang lebih lagi, malah nggak ada yang hapal Pancasila. Sepuluh tahun lagi mungkin nggak ada yang pernah denger PAncasila. Wis kacau....
Mantep tulisannya Mbak. Hhhh...masih inget berdarah-darahnya menghapal Pancasila berikut butir-butirnya, belum lagi ikut penataran P4 pola pendukung 100 jam sampai 2x dengan hasil yang memuaskan dan sangat memuaskan. Walaupun namaku Pancasiwi, tapi insya Allah mentalku Pancasila koq Mbak :D
hehehe ... iya saya juga inget banget jaman susahnya diwajibkan menghafal ke 36 butir Pancasila, yang sekarang sudah tambah jadi 41 butir lho!!!
Mbak, di sekolah ni lagi musim anak-anak pramuka tes SKU. Salah satunya harus dites menyanyikan lagu Indonesia Raya. bisa ditebaaaak......jaraaaang banget yang hapal sampe baris terakhir ^_^
ayo bu guru ... ajak anak2 latihan lagi ... biar tumbuh semangat kebangsaannya :-D
untung dulu jamannya sekolah dari SD sampe SMA setiap upacara senin, sering banget kebagian tugas kalo gak baca pembukaan UUD 45 atau gak Pancasila, jadi masih rada-rada hafal gitu....eh..eh...apa iya ya...btw masih inget gak ditaro belah mana ya lambang padikapas sama rantai?! ....halaah...! *teteeep*
Makasih mengingatkan, sepertinya para 'pejabat' yang harus mulai duluan untuk memberi contoh pelaksanaannya...
role model memang penting pak yayan ... tapi seringkali mereka itu susah banget untuk mulai duluan ... mending kita inget pesannya aa gym aja: mulai dari yang kecil2, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga ... gitu katanya :-D
Wah...asli lucu dengar ceritanya...Tapi asli mbak ratna...thanksnya udah share disini.. jangan2 kalo pas johnnya yg nanya ke yeyen, yen sendiri bisa lupa...hihhiiih
ah gak percaya kalo lupa mah ... cuma mungkin perlu waktu dikit untuk jawabnya :-D kayaknya si Uda bakal bantuin tuh :-)
lha...saya dulu tk aja udah belajar dikit lagu wajib, anak sekarang, mana ada.....jadi emaknya repot harus ngajarin segala rupa termasuk lagu indonesia raya
bersyukurlah tio pinter punya ibu pinter dan kreatif ... apalagi ngajarin nyanyi lagu kebangsaan :-)
hahahahaa... aku dulu juga mau posting Pancasila mba,.. emang mendarah daging ya ?
kalo membaca sejarah ... termasuk membaca pidato bung karno yang memang "membakar" ... wah ... nasionalisme ini bener2 mencuat mbak ... dan ternyata, pancasila itu memang hasil "riset" yang berasal dari budaya bangsa kita memang :-) jadi pastinya (seharusnya) mendarah daging ... :-) mudah2an demikian :-)
Jaman orba giat banget Penataran P4, tapi hasilnya ya hafal doang sampai sak butir-butirnya, sak pasal-pasalnya tapi dalam kehidupan sehari-hari wes ewes nggak dijalankan. Sekarang lebih lagi, malah nggak ada yang hapal Pancasila. Sepuluh tahun lagi mungkin nggak ada yang pernah denger PAncasila. Wis kacau....
itulah mbak diana ... mungkin karena pendekatannya yang justru menciptakan resistensi dan menimbulkan penyakit alergi ... semua dijalankan karena kewajiban saja ... tidak ada ethic driven-nya ... saya jadi sedih membayangkan kekhawatiran mbak diana akan sepuluh tahun mendatang itu ... hhhhhh ... ,>_<, ... semoga Indonesia masih tetap berdiri ... MERDEKA!!!
sila pertama itu katanya: "keuangan yang maha kuasa" atau "gusti Allah ga ono koncone", sila kedua: "ojo kejem-kejem", sila ketiga: "mangan ora mangan ngumpul" hehehe ...
Lah emang iya bukan??? :))
Jadi dulu ngapain ngapalin Pancasila dan Pembukaan UUD 1945?? Aku masih apal pembukaan uud 45 nih. Gara-gara selalu kebagian baca itu kalo lagi upacara di SD.
hehehehe...tontonannya sama....lucu & miris...pas acara itu kita juga ...ikut2an menghapalkan sila2 itu...hehehe...sila 4 & 5 kebalik booo....makasih lho telah mengingatkan...MERDEKA.."Kita Pasti Bisa"
Aku masih apal pembukaan uud 45 nih. Gara-gara selalu kebagian baca itu kalo lagi upacara di SD.
hebat euy ... tapi kenapa ya sekarang saya gak pernah dengar yang beginian dari anak2 sekolah jaman sekarang ... kurikulumnya bener2 sudah globalisasi kali ya ... jadi tidak act locally lagi :-)