Draft Naskah Buku-ku tentang Memoar Haji
Di bawah ini adalah beberapa cuplikan dari draft buku memoar haji yang sedang berada di persimpangan jalan: diterbitkan oleh penerbit atau self-publishing.
Mohon doa teman-teman … semoga Allah pilihkan yang terbaik ya …
Setiap hari adalah haji,
dan setiap tempat adalah Arafah-Muzdalifah-Mina
--------------------------------------------
“Berbagai kisah tentang pengalaman dalam rangkaian perjalanan ibadah haji selalu bak kisah seribu satu malam yang tidak pernah ada habisnya. Kazuo Murakami dalam bukunya The Divine Message of the DNA – Tuhan dalam Gen Kita, mengingatkan kita bahwa gen atau DNA (deoxyribonucleic acid) adalah cetak biru kehidupan kita, dan bahwa gen setiap orang itu berbeda satu dengan lainnya. Barangkali, karakteristik personalnya ini ada hubungannya dengan kentalnya sisi subyektif pengalaman haji setiap jamaah. Konon pula, perbedaan ini terletak tidak hanya pada aspek ‘apa’ yang dialami, tetapi juga pada aspek ‘bagaimana’ kita memaknai pengalaman tersebut. Faktor perbedaan DNA tadi akan sangat mewarnai ‘bagaimana’-nya seseorang memaknai setiap peristiwa yang dialaminya. … Premis Murakami seolah meneguhkan karakteristik eksklusif (sangat pribadi) pemaknaan perjalanan haji yang saya lakukan pada tahun 1424 H atau bertepatan dengan bulan Januari-Februari 2004.
Buku di tangan pembaca ini telah mengalami evolusi, baik dalam hal bentuk maupun cara bertuturnya. Dari hanya sekedar catatan kecil dalam diary haji sederhana, hingga sempat saya muat beberapa diantaranya dalam jurnal pribadi di mayantara: http://ratnajanuarita.multiply.com dan satu di antaranya pada Harian Republika. Dari sekedar rangkaian kata-kata yang berisi omelan, keluhan, syukur, kesedihan, ataupun kegembiraan selama perjalanan haji, hingga menjadi rangkaian bab-bab yang terwujud setelah melalui proses belajar menulis, menerima komentar, kritik dan masukan dari banyak pihak. Sejujurnya, langkah penerbitan ini dilakukan dengan bermodal nekad dan keyakinan. Nekad, pertama karena saya tidak memiliki basic menulis karya non-akademik sekaligus non-hukum (bidang ilmu yang saya tekuni dalam lebih dari dua dekade), dan kedua karena saya belum pernah menerbitkan buku apapun. Keyakinan, karena Allah pasti menyertai langkah niat dan motivasi lain yang mengiringi saya untuk menuliskan pengalaman haji sekaligus menerbitkannya”
------------------------------------------
“Kegamangan perasaan soal bisa pergi haji ini juga pernah begitu kerap menghinggapi hatiku. Kami ini termasuk orang kebanyakan yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan finansial. Sebagai catatan soal ini, beberapa waktu lalu pernah ada teman-teman baru yang tidak mempercayai bahwa kami pernah mengalami masa yang tidak mudah, bagi kami untuk bisa membayar ONH. Sejujurnya, “kami” yang mereka kenal dalam waktu belakangan ini berbeda dengan “kami” pada, paling tidak, sepuluh tahun lalu. Segala sesuatu lahir dan batin yang ada pada kami sekarang ini, semata-mata kasih sayang Allah saja, dan bukanlah karena kemampuan kami yang sejati. Di sini aku hendak meyakinkan siapapun, bahkan diriku sendiri, bahwa Allah akan senantiasa memberkahi sen demi sen rezeki yang diberikanNya kepada kita apabila kita gunakan untuk kegiatan di jalanNya. Dengan Segala KemurahanNya, materi yang kami gunakan untuk ongkos tersebut Ia kembalikan tidak hanya dalam bentuk uang atau materi yang hitungannya tidak pernah terkira oleh kami, tetapi juga dalam bentuk immateri yang tidak akan dapat ditukar dengan materi apapun di dunia ini. Inilah salah satu keistimewaan ibadah haji yang dirasakan oleh umumnya mereka yang telah melaksanakan haji.”
-------------------------------------
“Keesokan harinya aku benar-benar membuka tabungan haji di sebuah bank syariah. Aku seolah berijab-kabul dengan Allah ketika hati ini berbisik, “Ya Allah, kuserahkan dan kupercayakan uang ini kepadaMu untuk kewajiban haji yang Engkau bebankan padaku, semoga Engkau berkenan menggenapkan dan memberkahinya.” Aku tersenyum dan menarik nafas lega saat membaca angka Rp. 500,000.- pada kolom kredit. Aku bersyukur karena Allah telah mendorong dan memudahkanku untuk membulatkan niat berhaji dan mewujudkannya dengan membuka rekening tabungan haji.”
-------------------------------------
“Ihram yang dikenakan ini dapat bermakna filosofis bahwa dengan mengenakannya maka diri ini sudah sungguh-sungguh menyucikan diri sekaligus menafikan segala hal yang berkaitan dengan diri kita. Setiap jamaah tidak lagi memikirkan baju yang dikenakannya pantas atau tidak, tetapi sudah konsentrasi memenuhi hati dan pikirannya hanya dengan Tuhan. Dengan ihram ini pula, ruhani jamaah mulai melakukan mi’raj dari keduniawian menuju keilahian.”
-------------------------------------
“Tidak jauh dari pintu Babussalam, kulihat bangunan berbentuk kubus berselimutkan kain hitam dengan garis berwarna kuning keemasan pada bagian atasnya. Kurasakan dadaku berdegup … dan aku sempat tertegun … Ka’bah-kah itu? Itukah Baitul ‘Atiq yang selama ini menjadi episentrum atau titik pusat seluruh umat Islam saat shalat, berdoa, dan beribadah? Itukah bangunan simbolik rumah Allah, baitullah itu?
Ka’bah yang telah Allah hadirkan sejak Nabi Adam diturunkanNya ke bumi ini, adalah tempat yang aman (QS Ali Imran: 96); tempat manusia berkumpul (QS Al Ma’idah: 97); tempat thawaf (QS Al Hajj: 29); tempat berkumpul dan aman bagi manusia (QS Al Baqarah: 125); sebuah tanda atas Islam (Nahjul Balaghah). Ka’bah menjadi qiblah atau kiblat atau arah yang dituju segenap kaum muslimin. Kusaksikan beribu jamaah berpakaian putih mengitari episentrum sejati jagad ini. Ke arah Ka’bah lah semua menghadap, dan kepada Allah lah semua menuju. ”
-----------------------------------------
“Dan suara muadzin itu selalu membuatku terhenyak di shubuh buta. Begitu mesranya suara muadzin memanggil Tuhannya. “Ya Arhamarrahimiiiiiiin irhamna …” kudengar suaraku menirukan muadzin itu. Aku mulai mengiba memanggilNya. Rasanya ingin kuhamburkan diri ini ke dalam pelukanNya yang akan menenteramkanku, ingin kurasakan belaianNya yang akan melembutkan kekeraskepalaanku.”
----------------------------------------
“Zamzam menjadi lambang dari buah perjuangan, pencarian, dan penantian. Zamzam adalah hadiah dan anugerah penuh berkah dari Allah yang kita saksikan hingga sekarang ini. Letak sumurnya yang strategis berada di titik terendah kota Makkah yang menyerupai ceruk wajan itu untuk beberapa keadaan memang cukup logis secara teori. Air kan mengalir ke tempat terendah. Meski demikian, teori ini masih saja menyisakan pertanyaan besar bagi banyak ilmuwan yang tetap tidak habis pikir tentang air yang tidak pernah habis itu. Bagaimana kepala ini tidak geleng-geleng, kawasan tersebut sangat jarang hujan tetapi sumber airnya senantiasa melimpah, darimana airnya berasal? Maha Besar Allah dengan segala KekuasaanNya. Tidak ada yang sulit bagiNya.”
------------------------------------------
“Untuk menghadiri perjamuan suci (haji maupun umrah) yang diselenggarakan Sang Pemilik Kesucian, Sang Pengundang telah menetapkan dresscode-nya adalah pakaian kesucian. Kain atau baju ihram yang dikenakan sejatinya hanyalah sebuah lambang dari pakaian kesucian itu. Sedangkan berbagai larangan ihram merupakan konsekuensi dari mengenakan pakaian ihram itu. Apabila pakaian ihram menjadi simbol kesucian, maka larangan ihram merupakan konsekuensi dari kesucian itu sendiri yaitu meninggalkan semua yang diharamkan. Ketentuan dresscode ini Allah ciptakan bukannya tanpa maksud. Dengan dibuatnya dresscode, maka ini bermakna larangan bagi tamu undangan untuk mengenakan pakaian yang tidak diwajibkan. Apabila ada tamu yang coba-coba menerabas dresscode ini, akibatnya ia tidak hanya akan tampak berbeda dengan tamu lain yang mematuhi kaidah dresscode tersebut, tetapi juga melawan ketentuan (hukum) yang telah Allah tetapkan.”
---------------------------------------
“Secara pribadi, sesi perenungan ini juga sangat membantuku untuk melihat diriku yang sebenarnya. Terutama untuk menyesali berbagai dosa dan keburukan yang selalu kulakukan, serta mensyukuri segala amal dan kebaikan yang senantiasa Allah anugerahkan di sepanjang kehidupanku, sejak sebelum Ia tiupkan ruhNya ke tubuh dan jiwaku hingga saat ini dan bahkan masa yang akan datang. Karenanya, di Arafah ini kuperbaharui janji yang telah terikrar di awal penciptaanku namun telah kukotori di sepanjang hidupku sejak aku mengenal nikmatnya dosa. Sebanyak pasir yang menghampar, serimbun pepohonan yang menghijau, bergunung bebatuan dan beronggok-onggok kerikil serta sepoi-sepoinya angin Arafah … menjadi saksi diakuinya segala dosa dan diperbaharuinya setiap janji suci saat itu. Arafah menjadi nexus of renewed contract antara aku sebagai manusia dan Allah sebagai Pencipta diriku.”
--------------------------------------
“Salah satu hidangan rahasia di Mina adalah mencerna makna di balik kegiatan mencukur rambut. Rambut adalah lambang keindahan dan hiasan seseorang. Karenanya, mencukur rambut dengan sukarela di Mina bermakna menghilangkan keindahan dan hiasan dirinya. Menurut Imam Ali Zainal Abidin, salah satu putra dari Imam Hussein bin Ali bin Abu Thalib, “rahasia mencukur rambut adalah bahwa seseorang harus membunuh sifat bangga diri dan sombong”. Mencukur rambut tidak hanya sekedar menjadi titik yang membebaskan diri dari keadaan haram menjadi halal kembali, tetapi jauh lebih dalam lagi, apakah kita sudah meniatkannya sebagai titik awal meninggalkan segala bentuk ujud dan takabur?”
---------------------------------------
“Dalam fragmen itu, aku sedang menitipkan pesan kepada panitia qurban di kompleksku, untuk menyisihkan sedikit saja bagian buntut sapi yang menjadi hewan qurban kami. Tapi kemudian, saat aku hendak memasak buntut pesanan itu, ada semacam kehampaan yang tiba-tiba menyelimuti hatiku. Aku diliputi rasa malu pada diri sendiri, karena masih saja menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu bernilai penting bagiku. Berapa sih harga buntut sapi yang kuminta dari bagian hewan qurban itu? Akupun mengomeli keinginan diri ini. Tidakkah hewan yang sudah diqurbankan telah menjadi lambang niat dan tekad untuk memutus urat ketamakan dan dan kerakusan sebagaimana telah diajarkan oleh para guru kita?”
--------------------------------------
“Ketika muridnya menanyakan hal ini, sang Imam menjelaskan bahwa itulah bentuk hakikat dari beberapa jamaah yang sedang thawaf itu. Itulah manusia yang dalam kehidupannya selalu bersikap rakus, tidak pernah memperhatikan halal, haram, dan syubhat. Imam mengusap kembali mata muridnya, kali ini sang murid semakin tercengang, karena tidak hanya babi, tetapi ia juga melihat serigala yang sedang melolong sedang turut serta dalam kitaran thawaf itu. Imam menjelaskan, itulah mereka yang selalu bersikap semena-mena, kejam, dan mengambil hak orang lain. Untuk ketiga kalinya, Imam pun mengusap kedua mata muridnya, kali ini yang nampak adalah monyet yang sedang berteriak riuh rendah ikut mengorbit bersama jamaah lainnya dalam thawaf. Inilah wujud asli jamaah yang suka usil dan senang mencari kesalahan orang lain. Akhirnya, Abu Bashir menyaksikan hanya sedikit saja jamaah thawaf yang masih nampak dalam wujud manusia. Mereka inilah yang sedang benar-benar berhaji.
Andai Imam ash-Shadiq dan muridnya ini ada di atas atap Masjid sana dan menyaksikan diriku sedang melaksanakan thawaf di tengah jamaah haji lainnya, akan nampak seperti apakah bentuk asliku?”
------------------------------------------------
“Rindu kami padamu ya Rasul. Rindu tiada terperi. Berabad jarak darimu ya Rasul … Seakan dikau disini …”
“Ya Nabi … salam ‘alaika … ya Rasul salam … salam ‘alaika … ya Habib salam‘alaika … shalawatullah ‘alaika”.
Kerinduan yang terasa menggelegak di leher akhirnya pecah.
------------------------------------------------
“Usai shalat, aku pun bergegas menuju tempat yang dijanjikan. Namun tunggu punya tunggu, Abang tidak muncul juga, padahal setahu aku jarak antara tempat dia shalat (di muka multazam) dengan lampu hijau di pelataran thawaf, hanya beberapa meter saja. Aku celingukan mulai gelisah dan gemas.”
------------------------------------------------
“Bismillahi Allahu Akbar … dan … tiba-tiba muncul sepasang lengan melingkari tubuh saya, tidak memeluk, tapi melingkar longgar sehingga aku seolah berada di dalam lingkaran alat hulahoop. Sempat kuperhatikan lengan bajunya yang berwarna putih lusuh dan tangannya berkulit gelap.”
--------------------------------------------
“Untuk meraih ‘haji mabrur’ yang sejatinya merupakan sebuah babak baru pasca Arafah, dibutuhkan perjuangan tersendiri secara lahir dan batin, yang harus dibangun dan dijaga kesinambungannya dari waktu ke waktu hingga waktu kepulangan yang sebenarnya kelak yaitu mati. Perjuangan yang diwujudkan dalam bentuk pengkhidmatan ini, tidak saja didedikasikan kepada Allah dan Rasulullah saja, tetapi juga kepada sesama makhluk Allah di muka bumi ini. Oleh karenanya, kemabruran haji tidak hanya diukur dari meningkatnya ibadah ritual kita kepada Allah, tetapi juga pada meningkatnya ibadah sosial kita kepada sesama makhluk Allah.”
------------------------------------------------