Perginya si Kembar …
Kisah ini terjadi pada tahun 2004, dan tulisan ini merupakan bagian dari catatan jurnal pribadi saya saat itu.
Pada ibadah haji yang saya & suami tunaikan pada Januari 2004, saya sempat melantunkan permohonan untuk diberikan kesempatan memperoleh anak lagi. Sejujurnya, jauh di lubuk hati terdalam ini bersemayam pinta … seorang anak perempuan dari rahimku sendiri. Saya pernah mengutarakan keinginan ini kepada Bang Ais, suamiku. Dia, yang sangat mengetahui nature kegiatan saya yang lumayan padat, berpendapat untuk fokus pada dua amanah yang sudah ada di tengah kami, Afif & Zaki. Dengan berseloroh, dia bilang, “kan diawali dengan huruf A, dan sudah diakhiri dengan huruf Z”. Tentunya ini hanya candaannya saja yang memang merupakan keseharian Bang Aisku ini. Di awal pernikahan kami, dia bahkan pernah menyampaikan keinginannya punya anak enam orang. Namun, mengingat kegiatan saya yang mulai padat sejak kualifikasi akademik bertambah, maka suamiku ini khawatir, kami tidak mampu merawat amanah baru ini kelak dengan sebaik-baiknya..
Namun, karena aku merengek terus, akhirnya kami sepakat untuk memulai program baru ini usai haji.
Sepulang haji, saya cek emails di inbox yahoo. Salah satunya datang dari Prof. Paul Latimer, dosen saya sewaktu ambil program master di Monash, Melbourne. Emailnya menawari saya untuk duduk dengan dia sebagai pembicara dalam International Conference of Economic Crime di Cambridge University, Cambridge - UK, pada bulan Agustus tahun itu. Bagi saya, tentu saja ini tawaran yang sangat berharga. Setelah beliau membantu diterbitkannya dua tulisan saya di jurnal internasional (The International Comparative of Corporation Law Journal – Kluwer Publication dan The Company Lawyer Journal dari Sweet & Maxwell Publication), sekarang beliau mengajak saya menjadi pembicara di konferensi internasional … perasaan saya sulit saya gambarkan dengan kata-kata … karena ini tawaran langka yang ternyata bisa mampir ke seorang dosen biasa seperti saya.
Akhirnya, setelah membicarakan hal ini dengan Bang Ais, saya menerima tawaran itu. Saya pun mulai mempersiapkan preliminary research untuk paper yang akan dipresentasikan bersamanya, dan melakukan timetable berbagai persiapan teknis lainnya hingga waktu keberangkatan. Dari mulai pengurusan visa, mencari sponsor, izin institusi, timetable & itinerary, dan lain-lain.
Diterimanya tawaran ini juga mengakibatkan saya dan suami harus me-rearrange rencana memiliki momongan baru. Kami berencana untuk memulainya nanti sepulang saya dari konferensi tersebut.
Namun, manusia hanya mampu berencana dan Allah-lah yang Maha Menentukan. Saya tidak memperoleh haid yang seharusnya datang pada pertengahan Juli. Siklus haid saya selalu teratur, jadi apabila mengalami terlambat, hampir dipastikan ini adalah kehamilan. Saat itu saya tidak perlu ragu apabila di dalam organ terdalam saya tidak tertanam alat kontrasepsi. Tes kehamilan yang saya lakukan menunjukkan hasil positif. Subhanallah … bagaimana mungkin? Tentu saja mungkin … Allah itu Maha Kuasa … saya mengomeli diri sendiri atas ketololan perdebatan ini. Kemudian, Bang Ais mengajak saya cek ke bidan di BKIA RS St. Borromeus. Hasilnya, saya positif hamil 5 minggu. Untuk mengambil alat kontrasepsi, bidan dibantu dokter kandungan untuk mengeluarkannya.
Atas kehamilan ini, baik saya maupun suami, awalnya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Segalanya di luar perkiraan, lumayan kaget dan merasa tidak siap. Namun kemudian kami mencoba menata perasaan dan sikap terbaik yang dapat kami lakukan di hadapan Allah yang menganugerahkan tugas ini. Saya mencoba mengeksplorasi perasaan saya, rasanya ada semacam keberpihakan kepada keinginan terpendam. Sedangkan suamiku, terlihat tidak seceria yang saya rasakan, saya menangkap ada semacam kekhawatiran dalam benaknya. Pada periode itu, rasa syukur yang ada sepertinya berdampingan erat dengan kekhawatiran dan kegamangan.
Hari-hari pada waktu itu merupakan hari baru bagi saya, Bang Ais, Afif, dan Zaki. Kedua anakku ini selalu menyempatkan diri “pamitan” saat berangkat sekolah dan “say hello” saat pulang sekolah. Berkaitan dengan rencana keberangkatan ke Cambridge di bulan Agustus, saya diskusikan dengan suami, konsultasi dengan dokter, dan saya pun meminta pertimbangan dari Prof. Latimer. Suami keberatan, dokter tidak merekomendasi, dan Professorku menyarankan menyarankan untuk konsentrasi pada kehamilanku dan paper tetap disubmit ke panitia konferensi karena namaku sudah published di undangan dan internet.
Di tengah kehamilanku ini, kegiatanku masih tetap padat. Dari mengajar hingga menjadi pembicara atau moderator di seminar & diskusi. Hingga pada 8 Agustus, saya bersama keluarga main ke pameran di ITB. Kemudian saat akan wudhu untuk shalat dzuhur di masjid Salman, saya ke toilet terlebih dahulu dan mendapati bercak kemerahan di pakaian dalam. Akhirnya, kami cek ke UGD RS Borromeus, dan dokter jaga di sana setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan saya, tidak memperkenankan saya pulang. Saya harus bed rest. Jadilah saya menginap di sal bersalin, ruang rawat inap untuk ibu-ibu yang baru melahirkan, sedangkan Bang Ais dan anak-anak pulang ke rumah.
Berdiam di atas tempat tidur bukanlah ide menyenangkan, namun saya harus menata kesediaan hati menerima semua itu, otherwise, saya kehilangan janinku. Saya menarik nafas dalam-dalam, dan melakukan afirmasi pada diri sendiri, “OK, saya jalani”.
Sambil menunggu kedatangan Bang Ais membawakan perlengkapan pribadi, saya melakukan shalat ashar dengan berbaring. Inilah kali pertama dalam hidup, saya baru menyadari nikmatnya shalat dengan posisi sempurna. Ketika sakit saya ingat sehat, namun ketika sehat saya sering lupa sakit. Shalat dalam keadaan berbaring saat itu penuh dengan airmata … segala sesal, keluh kesah, takut, dan lain-lain berhamburan dan berlomba keluar dari ruang batinku …
Esok paginya, 9 Agustus 2004, sebagaimana sudah dijadwalkan kemarin dan sesuai arahan & perintah dokter, perawat membawaku di atas tempat tidur ke bagian radiologi untuk menjalani laparoskopi.
Setelah menjalani tindakan medis yang baru pertama kali dijalani, yaitu dimasukkannya kamera ke dalam rahimku melalui organ utamaku, ternyata dokter di radiologi menyimpulkan telah terjadinya perdarahan, dan detak janin sudah tidak bisa dideteksi lagi. Tidak ada jalan lain … curretage siang itu juga.
Saya dan Bang Ais bertangisan atas kehilangan ini. Tidak tahu harus memaknai apa atas kehilangan ini. Saya membiarkan pikiran saya mengambang … terbang jauh … saya kecewa … tapi tidak berani untuk sekedar memunculkan amarah sekalipun hanya tersembul dalam hati. Saya merasakan sedang berhadapan dengan Sang Kuasa yang Maha Menentukan hidup saya. Sungguh tidak ada daya apapun. Kecil sekali diriku yang tidak mampu mempertahankan apapun dalam tubuhku sendiri … janinku telah pergi … Innalillahi wa inna illaihi raji’un …
Sambil menunggu persiapan curretage, ibu dan keluargaku lainnya datang memberikan dukungan dan semangat. Pada saat tempat tidurku didorong menuju ruang curretage, teman-teman dari kampus bermunculan di pintu masuk sal bersalin. Saya mintakan maaf dan doa. Terutama kepada suami dan ibuku. Saya khawatir tidak keluar lagi dari ruangan itu … saya belum pernah merasakan ketakutan sebagaimana yang saya alami saat itu …
Saya mencoba pasrah … membiarkan perawat mempersiapkan diriku … dokter anestesi menyuntikkan obat bius … saya terus mendawamkan istighfar, asmaNya dan shalawat … saya pasrah … lakukan yang terbaik menurut Engkau sampai Engkau ridho … ampuni aku Ya Rabb … saya mendengarkan diri saya bedzikir … lalu … rasanya saya belum selesai dzikir … tahu-tahu saya tersadar dan melihat perawat sedang membenahi saya … kemudian … tempat tidur didorong masuk ke kamar rawat inap. Usai curretage itu saya diberikan pilihan untuk menginap semalam atau pulang dan istirahat di rumah. Tadinya saya ingin menyendiri di kamar itu, tapi kemudian saya merasa lebih baik pulang dan berkumpul dengan keluarga ketimbang menginap di sana dan mendengar suara-suara bayi. Sore menjelang maghrib, saya dibawa pulang Bang Ais. Malamnya kami tidur berempat sambil memberikan pengertian kepada kedua anakku, bahwa mereka baru kehilangan calon adik. Mereka berdua agak menyalahkan saya yang terlalu sibuk … maafkan kelalaian bunda … tetap sibuk padahal sedang hamil, bunda lupa … usia bunda tidak lagi semuda ketika bunda hamil kalian … bunda lupa … usia itu sangat mempengaruhi tingkat kerawanan rahim …
Esoknya, seharian saya menangis sendirian di kamar Zaki. Kedua belahan jiwaku sedang sekolah, dan Bang Ais ke kantor. Sakit yang terasa di rahim tidak seberapa dibanding kesedihan ini. Tetangga berdatangan. Telepon berdering. Semua memberikan simpati dan perhatian. Tapi tidak ada yang lebih mengobati selain kesadaran bahwa Allah telah menetapkan yang terbaik untuk kami. Saya terus mendorong diri untuk bangkit dari kesedihan, sambil tidak lupa meminta ganti kesedihan dengan kebahagiaan kepadaNya.
Saya mencoba membunuh waktu sedih dengan berbagai kegiatan. Seminggu setelah itu, saya pergi ke Jogja beberapa hari dengan ibuku, belanja batik. Ceritanya, mau jualan batik. Entah darimana ide ini. Kalau istilah sunda mah … saya sedang berupaya ngabambrangkeun … mencoba melupakan kesedihan dengan berbagai kesibukan. Kebayang kan namanya perempuan membedah pusat batik di Jogja, lupa rasa lelah. Padahal saat itu, saya masih mengalami bercak dan nyeri di rahim.
Kemudian, kembali dari Jogja, ada undangan dari Bapepam untuk ikut dalam rombongan mereka mengunjungi the Philippines Stock Exchanges di Manila. Akhirnya seminggu terakhir Agustus, saya berada di Manila sebagai bagian dari Delegasi Indonesia ini. Sebagaimana kunjungan ke suatu negara, tidak lengkap apabila hanya memenuhi kunjungan resmi (courtessy cal), tetapi juga dilengkapi sesi tamasya dan belanja. Saya pun berbelanja baju2 barong dan mutiara, yang merupakan oleh-oleh khas Philippines, juga pernak-pernik aksesoris. Saya menyempatkan diri pula belajar membuat/meronce gelang dan kalung. Dan juga yang tidak pernah saya lewatkan adalah belanja buku.
Selama perjalanan ke/di/dari negaranya Arroyo itu, saya terus mengalami pendarahan dan nyeri di rahim, yang saya pikir karena masih dalam masa nifas (belakangan saya tahu bahwa perempuan yang mengalami curretage tidak mengalami nifas sebagaimana perempuan melahirkan). Jadi, saya tidak tahu energi apa yang mengakibatkan saya tidak memperdulikan nyeri ini. Mungkin, saya sedang mempertahankan semacam sikap denial atas ketentuan Allah. Mungkin, saya sebenarnya belum bisa menerima kehilangan janinku itu …
Kembali ke Bandung, saya memulai keasyikan baru meronce gelang dan kalung dari mutiara dan batu. Bang Ais yang memahami kesibukan yang dicari-cari ini, mencoba mengakomodir dengan membelikan seperangkat peralatan untuk membuat aksesoris. Saya menikmati upaya denial ini. Browsing internet untuk melihat tren disain aksesoris di berbagai negara, termasuk mencontek disain yang mudah kupelajari dan kubuat prorotip-nya.
Hingga suatu hari saya belanja perlengkapan membuat aksesoris di Pasar Baru. Inilah bandelnya saya. Sudah tahu masih pendarahan, terus saja keluyuran, ke Pasar Baru pula.
Tidak lama usai belanja, saya merasakan sakit hebat di rahimku, keringat dingin mengalir deras, saya tidak tahu harus berbuat apa. Saat itu saya berada di lantai pertama dekat pintu masuk, saya kemudian duduk di kursi dekat bagian informasi. Saya menahan sakit yang tidak tahu harus bagaimana. Si mbak yang duduk di bagian informasi itu memberikan kayu putih, tapi tidak menolong. Sakit makin hebat tidak terkatakan. Saya khawatir pingsan kemudian menelpon suami agar menjemput. Sambil menunggu suami datang yang baru satu jam kemudian datang, sakit itu terus meningkat gradasinya. Bang Ais harus datang dengan menggunakan angkot, karena saya bawa mobil dan parking slot-nya di lantai atas Pasar Baru.
Dari Pasar Baru, kami langsung menuju UGD RS Borromeus. Diagnosa dokter jaga menyimpulkan sementara bahwa saya mengalami pendarahan. Kembali saya harus bed rest. Esok paginya, 24 September 2004, kembali saya berada di ruang radiologi untuk menjalani laparoskopi. Saat dokter radiologi mengeksplorasi kameranya, ia bilang, ibu mengalami KET (hamil di luar kandungan), karuan saya dan suami tercengang-cengang. Hamil? Kemudian saat saya jelaskan bahwa bulan sebelumnya baru dikuret. Akhirnya, terkuaklah misteri pendarahan dan nyeri yang terus saya alami sejak curretage itu, rupanya kehamilan saya waktu itu ada dua: di dalam kandungan dan di luar kandungan. Janin yang tumbuh di dalam kandungan sudah pergi dan dikuret, sedangkan janin yang tumbuh di luar kandungan, yaitu di saluran falopi, sudah pecah, sehingga di layar monitor terlihat bercak darah yang cukup lebar di rahim. Subhanallah … saya tidak tahu harus bereaksi seperti apa … hanya bisa berpelukan dan bertangisan dengan suamiku. Apa lagi ini Ya Rabbi …
Awalnya saya kira harus dikuret ulang, saya merasa tidak akan sanggup, ternyata lebih buruk, harus operasi untuk mengangkat saluran tuba (fallopi tube) tempat bersemayam janin kedua ini. Kemudian dokter kandungan menyarankan, sekalian perut dibuka untuk operasi pengangkatan ini, usus buntuku juga diambil saja, tokh tidak ada gunanya. Saya setuju saja, tidak punya energi lagi untuk menimbang pilihan lainnya. Operasi diagendakan besok pagi, 25 September 2004.
Ya Illahi … rasanya belum usai kesedihanku atas kehilangan janin pertamaku … sekarang Engkau hadiahi aku dengan kejutan dan penderitaan … Innalillahi wa inna illaihi raji’un … Engkaulah yang paling berhak …
Malamnya, saya gelisah. Ketakutan yang tidak bisa didefinisikan kembali menghantui diriku. Bang Ais menuntunku dari disorientasi ini, mengajak istighfar, berdzikir, dan tawassul kepada Rasulullah & keluarganya yang suci. Saya juga memohonkan doa dari keluarga dan teman2 melalui sms. Kami berdua juga mencoba introspeksi diri dan berusaha melihat sisi terang dari semua peristiwa ini. Bang Aisku sebetulnya down dengan ini, dia terlihat menyalahkan dirinya karena seolah pernah tidak menerima kehamilanku. Kami mencoba untuk saling membesarkan hati.
Esok paginya sebagaimana telah diagendakan, dengan ditemani suami, ibu dan adikku, perawat membawaku di atas tempat tidur naik ke ruang operasi di lantai IV dan di gedung yang berbeda dengan bagian rawat inap untuk bersalin. Di sana sudah ada para tetangga dan teman-teman yang kemudian dengan sabar pula menunggui operasiku. Saat tempat tidurku memasuki pintu masuk bagian operasi, saya merasa seperti dihantarkan kerabatku memasuki gerbang pintu kehidupan lain. Saya pasrah … lakukan yang terbaik menurut Engkau sampai Engkau ridho … Dan kemudian saya melewati kembali ritual pra-operasi, kembali tenggelam dalam istighfar, dzikir dan shalawat … hingga kemudian saya tersadar kembali dengan dzikir yang rasanya belum selesai dilafazkan … rasanya singkat saja … padahal ini berlangsung sekitar tiga jam.
Saat tempat tidurku dihela keluar ruang operasi kemudian melalui pintu yang sama dengan pintu masuk tadi, para tetangga, teman, dan keluargaku menyambutku. Saya masih belum pulih kesadarannya, namun saya merasakan semangat yang hendak mereka hadiahkan kepada saya … terima kasih ya … Tentunya hanya Allah saja yang paling pantas menyegerakan balasan kebaikan bagi kalian …
Tidak seperti curretage, untuk tindakan operasi ini saya masih harus menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit. Sore harinya, kedua buah hatiku Afif dan Zaki mengunjungiku diantar Yangti (ibuku). Saya dan suami mencoba menjelaskan yang terjadi. Mereka mencoba memahami dengan caranya sendiri. Usai mengantar pulang kedua panglima ini, Bang Ais kembali ke rumah sakit menemaniku.
Malamnya, saya sulit tidur. Gelisah. Disorientasi. Depressi. Saya belum bisa menerima kehilangan ini. Suamiku terus membimbing mendawamkan istighfar dan membesarkan hati saya (padahal hatinya pun sedang hancur). Bersama-sama kami mendawamkan “astaghfirullah al adzim alladzi laa illahailla hu wal hayyulqayyum wa atubu illaih … “
Perawat juga mencoba membantu mengurangi mual dan sakit yang saya sendiri tidak bisa menjelaskannya, kemudian perawat mencabut obat penahan sakit yang berbentuk semacam sticker yang ditempelkan di dada. Kemudian saya muntah. Perawat memberikan air teh manis. Mual berkurang, namun kegelisahan tidak surut. Dalam dzikir yang terus dibisikkan suamiku, saya tertidur sebentar. Dalam tidurku itu saya seperti sedang mengejar kedua janinku di ujung sesuatu seperti lorong gelap … tapi kemudian tiba-tiba muncul almarhum Mbah Putriku, beliau mengatakan dalam bahasa Jawa yang kira-kira maknanya agar saya pulang saja, tidak usah ikut. Lalu saya terbangun, seolah baru terhempas dari suatu gelombang yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Saya ceritakan yang baru saya alami kepada suamiku, kemudian kami sama-sama berdoa agar Allah menganugerahkan keluasan hati, sabar dan ikhlas atas semua ketentuanNya.
Hari-hari berlalu dalam duka cita. Namun kami terus membangun diri pada suatu keyakinan bahwa Allah memang punya caraNya sendiri dalam mendidik umatNya. Semoga sakit dan penderitaan ini menjadi media peluruh dosa, dan mengantar kami pada maqam iman yang lebih baik. Tak lupa, saya “menuntut” Allah untuk mengganti kesedihan ini dengan kemuliaan dariNya.
Menurut suamiku, sebenarnya Allah sudah mengabulkan doa saya di Multazam Ka’bah untuk memperoleh anak, kembar pula, namun kesempatan itu hanya diberikan sampai tahap kehamilan saja. Insya Allah, kedua janinku ini menjadi penolong kami di akhirat kelak … mungkin saja … ada dosa kami yang tidak terampuni, namun Allah sediakan medianya … dan kedua janinku ini menjadi alasan kuat untuk mengampuniku dan suamiku … wallahu’alam … yang pasti kami berupaya membangun sikap positif dan menggali sisi terang dari peristiwa pilu ini …
Saya telah kehilangan dua janinku dan kehilangan pula kesempatan tampil pada international event … biarlah Allah saja yang Maha Tahu atas semua ini …
Selamat jalan permata kembarku … sampai bertemu kelak dengan bunda, ayah, dan kedua abang kalian … ketidakhadiran kalian menjadi pemacu semangat untuk berbuat kebajikan di dunia hingga waktunya nanti kita berjumpa … tentunya untuk menyusul kalian di surga, kami harus memenuhi kualifikasi untuk memperoleh tiket menuju ke sana kan … semoga Allah ridho …